Gmail Calendar Documents Reader Web more »
Recently Visited Groups | Help | Sign in
Google Groups Home
Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
There are currently too many topics in this group that display first. To make this topic appear first, remove this option from another topic.
There was an error processing your request. Please try again.
flag
  Messages 1 - 25 of 89 - Collapse all  -  Translate all to Translated (View all originals)   Newer >
The group you are posting to is a Usenet group. Messages posted to this group will make your email address visible to anyone on the Internet.
Your reply message has not been sent.
Your post will appear after it is approved by moderators
 
From:
To:
Cc:
Followup To:
Add Cc | Add Followup-to | Edit Subject
Subject:
Validation:
For verification purposes please type the characters you see in the picture below or the numbers you hear by clicking the accessibility icon. Listen and type the numbers you hear
 
drira...@aol.com  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 19 2007, 1:52 pm
From: drira...@aol.com
Date: Sat, 19 May 2007 13:52:15 EDT
Local: Sat, May 19 2007 1:52 pm
Subject: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Peringatan Targedi Mei  ‘98
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan  
Duarte , May 12, 2007 / Indonesia  Media
Sembilan tahun telah berlalu Peristiwa tragedi Mei ‘98 di  Indonesia sampai  
sekarang belum ada kelanjutan tindakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah
RI,  bahkan dibeberapa media masa tanah air dilaporkan adanya usaha-usaha
melupakan  atau menutupi kembali kasus Mei ‘98 ini.  
DR.Frits Hong dalam kata sambutannya selaku ketua umum ICAA mengingatkan  
pentingnya peringatan tragedi Mei ‘98, beliau menganalogikan dengan peristiwa  “
The Rape of Nanking”. Pemerintahan yang silih berganti di Indonesia belum  
satupun yang benar-benar berniat menuntaskan kasus kerusuhan Mei’98, kepada  
seluruh masyarakat Indonesia, yang memilih nanti pada putaran pemilu 2009 agar  
mempelajari dengan hati-hati, dan memilih wakil yang benar-benar komit untuk  
menuntaskan masalah ini. Karena penuntasan kasus Mei’98 adalah merupakan tolok  
ukur mengembalikan kepercayaan global terhadap  Indonesia.  Sekali lagi
Peringatan Mei ‘98 tidak pernah boleh dilupakan, pungkas boss Duarte  Inn itu.
Juliana Widjaja Ph.D. seorang dosen dari Center of South East Asia Study,  
UCLA dalam ceramahnya menekankan bahwa :”Sejarah yang dilupakan adalah  
berpotensi menimbulkan pengulangan tragedi kekerasan di masa yang akan datang”  
Juliana menahyangkan foto-foto kekerasan HAM yang belum pernah dipublisir  
oleh media selama 40 tahun via power point,  dengan TKP di Banyuwangi saat itu
ada 9  anak-anak (mulai dari 10 tahun), pemuda, dan pelajar gugur akibat
berondongan  senjata ABRI, belum lagi masih puluhan yang luka-luka. Saat itu mereka
tengah  melakukan aksi damai di pasar sehubungan dengan penutupan toko-toko
pengecer  milik etnis Tionghoa (tingkat Kabupaten) di kiosk-kiosk pasar. Namun
anehnya  sampai hari ini tidak pernah dipublisir di media masa. Inilah yang
dinamakan  penutupan / penghapusan sejarah.
Juliana juga menceritakan betapa pahit getirnya dia dalam mengurus  surat
WNI, dan masuk sekolah  perguruan tinggi. Stigma bahwa Tionghoa itu semua kaya
tidak berlaku untuk  sebagian besar masyarakat etnis Tionghoa, termasuk dia.
Saat itu Juliana harus  cukup puas dengan hanya meneruskan di perguruan tinggi
yang tidak berkelas, dan  harus membayar mahal pula sehubungan dengan status WNI
nya belum selesai dari  proses. Demikian pula dalam hal penggantian nama yang
harus diselaraskan dengan  nama yang berlafalkan Indonesia, tapi pada
akhirnya toh pamong yang menangani  suratnya mengimbuhkan nama marganya (Oei) diakhir
namanya, jadi ini suatu  peraturan yang dibuat-buat dan jelas kontradiktif,
demikian cetusnya. Belum lagi  dia diharuskan mengenakan kebaya Jawa sewaktu di
sumpah WNI-nya, katanya ini  adalah pakaian  Indonesia.  Apakah busana  
Indonesia adalah  busana Jawa? tanyanya.
Sebagai dosen CSEAS-UCLA, Juliana sangat merasakan  kurangnya, atau boleh
dikatakan tidak ada lagi mahasiswanya yang mau datang  belajar ke  Indonesia.
Salah  satu faktornya adalah keamanan di  Indonesia yang  belum terjamin, hal ini
juga menyulitkan institusi yang memberikan grant kepada  mahasiswa yang
tertarik mempelajari negara-negara yang sedang bermasalah.        
Sejarah harus dicatat dengan benar , termasuk personal memory harus  
dibukukan juga, karena dengan mengetahui sejarah anak cucu kita belajar tak akan  
mengulangi lagi kesalahan yang sama dimasa yang akan datang.  
Martinus Oei seorang akuntan yang datang dari  Indonesia  memberi kesaksian
tentang kejadian kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Betapa  mencekamnya Jakarta saat
itu,  menurutnya sudah jelas kasat mata para provokator yang berambut cepak
itu  diturunkan ber truk-truk ke TKP. Siapa yang bisa mengeluarkan mobilitas
semacam  ini ? Beliau juga menyesalkan ketidak pedulian masyarakat  Indonesia
yang  sudah berdiam diluar negeri atas ketidak sediaannya mereka dalam menanda
tangani  petisi untuk dikirim ke High Commision of Human Rights di PBB, (Mary
Robinson),  serta UNHCR, saat beliau memohon umat dari salah satu gereja ICC di  
Perth  (Australia) yang  jemaatnya banyak berasal dari  Indonesia.  “Malah
orang bule yang spontan mau menandatangani, sunggih suatu ironi”,  ujarnya.
Petisi itu akhirnya membuahkan hasil, yaitu dengan diutusnya Radhika  Coomaraswamy
datang ke  Indonesia untuk  menyelidiki kejadian tersebut
Perjuangan Esther Jusuf S.H. dari Solidaritas Nusa dan Bangsa patut  didukung
seluruh masyarakat. Baru-baru ini SNB baru meluncurkan buku tentang  
kerusuhan Mei’98 di Jakarta, inipun  sempat ditentang oleh beberapa anggota TGPF
sendiri yang berindikasi menghapus  kejadian tersebut. Sedangkan data dari TGPF
yang asli yang disimpan di kantor  pemerintah sudah hilang. Maka tidak ada jalan
lain Esther Jusuf dkk.  berinisiatif segera meluncurkan buku kerusuhan Mei’98
itu. Rencananya buku-buku  itu akan disebarluaskan dalam berbagai bahasa.
Usaha ini jelas memerlukan biaya  yang tidak sedikit, untuk itu dalam nota pesanan
Esther Jusuf kepada masyarakat  agar bahu membahu dalam pelaksanaan misi ini.
Menurut Martinus, seiring dengan di “munirkannya” tokoh  HAM Munir, maka
Romo Sandyawan sementara ini kabarnya diamankan oleh ordo  Jesuit, hal ini
membahayakan diri Esther Jusuf yang harus berjuang sendiri  dengan SNB nya.  
Jonathan Goeij, selaku moderator dan co speaker membeberkan secuplik  
data-data temuan TGPF yang menunjukan begitu banyaknya titik api yang dicatat  dalam
peta DKI Jaya , belum lagi wilayah lainnya yang tidak sempat di tahyangkan  
karena keterbatasan waktu.
Masalah undang-undang kewarganegaraan dan SBKRI, saat itu yang dipakai  
adalah UU dari tahun 1958, UU ini dibuat dengan mengacu UUD sementara tahun  1950,
padahal UUD sementara 1950 sudah dicabut , jadi sebenarnya UU tahun 1958  
mengenai kewarganegaraan seharusnya tidak berdasar lagi saat UUD sementara 1950  
dicabut.  
Suara dari Komentator:
Mengungkap dan mengadili pelaku kerusuhan Mei ‘98 adalah merupakan  
perjuangan kolektif semua, mengapa tidak? Jika suatu negara belum jelas hukumnya  dan
keamanannya bagaimana mungkin bisa meyakinkan masuknya investasi global,  
bagaimana mungkin mempunyai perputaran ekonomi yang optimal, dan pada gilirannya  
bagaimana mungkin menjamin kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu perjuangan  
ini bukan semata PR sekelompok etnis saja melainkan harus merupakan
perjuangan  kolektif rakyat  Indonesia.  Selama semuanya tidak berjalan transparan
dikhawatirkan ada kemungkinan investor  yang berani masuk ke  Indonesia hanya  
merupakan deal-deal antara investor spekulan dan kelompok koruptor saja, yang  
pada akhirnya membebani hutang kepada anak cucu kita lagi.  
Memang tidak semua orang mampu membantu perjuangan ini entah dengan waktu  
tenaga dan dana, tapi setidaknya dengan menghadiri acara peringatan semacam ini  
menunjukan kepedulian anda terhadap solidaritas perjuangan, demikian ucap
salah  seorang komentator.
Kabarnya buku tentang kerusuhan Mei ’98 itu bakal tersedia disini ,  tunggu
tanggal mainnya.

************************************** See what's free at http://www.aol.com.

[Non-text portions of this message have been removed]


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
drira...@aol.com  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 19 2007, 1:52 pm
From: drira...@aol.com
Date: Sat, 19 May 2007 13:52:15 EDT
Local: Sat, May 19 2007 1:52 pm
Subject: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Peringatan Targedi Mei  ‘98
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan  
Duarte , May 12, 2007 / Indonesia  Media
Sembilan tahun telah berlalu Peristiwa tragedi Mei ‘98 di  Indonesia sampai  
sekarang belum ada kelanjutan tindakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah
RI,  bahkan dibeberapa media masa tanah air dilaporkan adanya usaha-usaha
melupakan  atau menutupi kembali kasus Mei ‘98 ini.  
DR.Frits Hong dalam kata sambutannya selaku ketua umum ICAA mengingatkan  
pentingnya peringatan tragedi Mei ‘98, beliau menganalogikan dengan peristiwa  “
The Rape of Nanking”. Pemerintahan yang silih berganti di Indonesia belum  
satupun yang benar-benar berniat menuntaskan kasus kerusuhan Mei’98, kepada  
seluruh masyarakat Indonesia, yang memilih nanti pada putaran pemilu 2009 agar  
mempelajari dengan hati-hati, dan memilih wakil yang benar-benar komit untuk  
menuntaskan masalah ini. Karena penuntasan kasus Mei’98 adalah merupakan tolok  
ukur mengembalikan kepercayaan global terhadap  Indonesia.  Sekali lagi
Peringatan Mei ‘98 tidak pernah boleh dilupakan, pungkas boss Duarte  Inn itu.
Juliana Widjaja Ph.D. seorang dosen dari Center of South East Asia Study,  
UCLA dalam ceramahnya menekankan bahwa :”Sejarah yang dilupakan adalah  
berpotensi menimbulkan pengulangan tragedi kekerasan di masa yang akan datang”  
Juliana menahyangkan foto-foto kekerasan HAM yang belum pernah dipublisir  
oleh media selama 40 tahun via power point,  dengan TKP di Banyuwangi saat itu
ada 9  anak-anak (mulai dari 10 tahun), pemuda, dan pelajar gugur akibat
berondongan  senjata ABRI, belum lagi masih puluhan yang luka-luka. Saat itu mereka
tengah  melakukan aksi damai di pasar sehubungan dengan penutupan toko-toko
pengecer  milik etnis Tionghoa (tingkat Kabupaten) di kiosk-kiosk pasar. Namun
anehnya  sampai hari ini tidak pernah dipublisir di media masa. Inilah yang
dinamakan  penutupan / penghapusan sejarah.
Juliana juga menceritakan betapa pahit getirnya dia dalam mengurus  surat
WNI, dan masuk sekolah  perguruan tinggi. Stigma bahwa Tionghoa itu semua kaya
tidak berlaku untuk  sebagian besar masyarakat etnis Tionghoa, termasuk dia.
Saat itu Juliana harus  cukup puas dengan hanya meneruskan di perguruan tinggi
yang tidak berkelas, dan  harus membayar mahal pula sehubungan dengan status WNI
nya belum selesai dari  proses. Demikian pula dalam hal penggantian nama yang
harus diselaraskan dengan  nama yang berlafalkan Indonesia, tapi pada
akhirnya toh pamong yang menangani  suratnya mengimbuhkan nama marganya (Oei) diakhir
namanya, jadi ini suatu  peraturan yang dibuat-buat dan jelas kontradiktif,
demikian cetusnya. Belum lagi  dia diharuskan mengenakan kebaya Jawa sewaktu di
sumpah WNI-nya, katanya ini  adalah pakaian  Indonesia.  Apakah busana  
Indonesia adalah  busana Jawa? tanyanya.
Sebagai dosen CSEAS-UCLA, Juliana sangat merasakan  kurangnya, atau boleh
dikatakan tidak ada lagi mahasiswanya yang mau datang  belajar ke  Indonesia.
Salah  satu faktornya adalah keamanan di  Indonesia yang  belum terjamin, hal ini
juga menyulitkan institusi yang memberikan grant kepada  mahasiswa yang
tertarik mempelajari negara-negara yang sedang bermasalah.        
Sejarah harus dicatat dengan benar , termasuk personal memory harus  
dibukukan juga, karena dengan mengetahui sejarah anak cucu kita belajar tak akan  
mengulangi lagi kesalahan yang sama dimasa yang akan datang.  
Martinus Oei seorang akuntan yang datang dari  Indonesia  memberi kesaksian
tentang kejadian kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Betapa  mencekamnya Jakarta saat
itu,  menurutnya sudah jelas kasat mata para provokator yang berambut cepak
itu  diturunkan ber truk-truk ke TKP. Siapa yang bisa mengeluarkan mobilitas
semacam  ini ? Beliau juga menyesalkan ketidak pedulian masyarakat  Indonesia
yang  sudah berdiam diluar negeri atas ketidak sediaannya mereka dalam menanda
tangani  petisi untuk dikirim ke High Commision of Human Rights di PBB, (Mary
Robinson),  serta UNHCR, saat beliau memohon umat dari salah satu gereja ICC di  
Perth  (Australia) yang  jemaatnya banyak berasal dari  Indonesia.  “Malah
orang bule yang spontan mau menandatangani, sunggih suatu ironi”,  ujarnya.
Petisi itu akhirnya membuahkan hasil, yaitu dengan diutusnya Radhika  Coomaraswamy
datang ke  Indonesia untuk  menyelidiki kejadian tersebut
Perjuangan Esther Jusuf S.H. dari Solidaritas Nusa dan Bangsa patut  didukung
seluruh masyarakat. Baru-baru ini SNB baru meluncurkan buku tentang  
kerusuhan Mei’98 di Jakarta, inipun  sempat ditentang oleh beberapa anggota TGPF
sendiri yang berindikasi menghapus  kejadian tersebut. Sedangkan data dari TGPF
yang asli yang disimpan di kantor  pemerintah sudah hilang. Maka tidak ada jalan
lain Esther Jusuf dkk.  berinisiatif segera meluncurkan buku kerusuhan Mei’98
itu. Rencananya buku-buku  itu akan disebarluaskan dalam berbagai bahasa.
Usaha ini jelas memerlukan biaya  yang tidak sedikit, untuk itu dalam nota pesanan
Esther Jusuf kepada masyarakat  agar bahu membahu dalam pelaksanaan misi ini.
Menurut Martinus, seiring dengan di “munirkannya” tokoh  HAM Munir, maka
Romo Sandyawan sementara ini kabarnya diamankan oleh ordo  Jesuit, hal ini
membahayakan diri Esther Jusuf yang harus berjuang sendiri  dengan SNB nya.  
Jonathan Goeij, selaku moderator dan co speaker membeberkan secuplik  
data-data temuan TGPF yang menunjukan begitu banyaknya titik api yang dicatat  dalam
peta DKI Jaya , belum lagi wilayah lainnya yang tidak sempat di tahyangkan  
karena keterbatasan waktu.
Masalah undang-undang kewarganegaraan dan SBKRI, saat itu yang dipakai  
adalah UU dari tahun 1958, UU ini dibuat dengan mengacu UUD sementara tahun  1950,
padahal UUD sementara 1950 sudah dicabut , jadi sebenarnya UU tahun 1958  
mengenai kewarganegaraan seharusnya tidak berdasar lagi saat UUD sementara 1950  
dicabut.  
Suara dari Komentator:
Mengungkap dan mengadili pelaku kerusuhan Mei ‘98 adalah merupakan  
perjuangan kolektif semua, mengapa tidak? Jika suatu negara belum jelas hukumnya  dan
keamanannya bagaimana mungkin bisa meyakinkan masuknya investasi global,  
bagaimana mungkin mempunyai perputaran ekonomi yang optimal, dan pada gilirannya  
bagaimana mungkin menjamin kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu perjuangan  
ini bukan semata PR sekelompok etnis saja melainkan harus merupakan
perjuangan  kolektif rakyat  Indonesia.  Selama semuanya tidak berjalan transparan
dikhawatirkan ada kemungkinan investor  yang berani masuk ke  Indonesia hanya  
merupakan deal-deal antara investor spekulan dan kelompok koruptor saja, yang  
pada akhirnya membebani hutang kepada anak cucu kita lagi.  
Memang tidak semua orang mampu membantu perjuangan ini entah dengan waktu  
tenaga dan dana, tapi setidaknya dengan menghadiri acara peringatan semacam ini  
menunjukan kepedulian anda terhadap solidaritas perjuangan, demikian ucap
salah  seorang komentator.
Kabarnya buku tentang kerusuhan Mei ’98 itu bakal tersedia disini ,  tunggu
tanggal mainnya.

************************************** See what's free at http://www.aol.com.

[Non-text portions of this message have been removed]


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Others  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 20 2007, 12:11 am
From: "Others" <oth...@softwareinovasi.com>
Date: Sun, 20 May 2007 11:11:02 +0700
Local: Sun, May 20 2007 12:11 am
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Bincang-bincang mengenai kerusuhan Mei 98...

Beberapa hari yang lalu (dalam minggu ini juga) saya menonton sebuah
talk show di MetroTV.
Acaranya dimalam hari, menampilkan 3 orang tokoh, yaitu penulis buku
tentang kerusuhan Mei98, Bpk. Fadly Zon, dan Ibu dari sebuah LSM.

Disitu dibahas mengenai Fakta, Mitos dan penyebab dari kerusuhan Mei98.

Bpk. Fadly dengan tegas menolak politisasi kerusuhan mei98 dengan
berargumen bahwa itu adalah sebuah kerusuhan, titik. Bahwa kerusuhan
tersebut adalah murni gerakan masyarakat atau sistematis, itu perlu
pembuktian. Tetapi yang penting, tidak perlu dibumbui dengan kata
"rasial" menjadi kerusuhan rasial yang emphasized pada korban dari
etnis Tionghua. Beliau menantang Ibu yang menulis Buku kerusuhan Mei98
dengan mengatakan dari sekian ribu korban kerusuhan, berapa yang dari
etnis tionghwa. Maksudnya, jika tidak ada data valid yang bisa diberikan,
maka tidaklah bisa dibenarkan menyebut kerusuhan tersebut adalah ditujukan
kepada etnis Tionghua. Beliau berkata, kalau cuman "katanya" atau "denger-
denger" ya sulit donk.

Beliau juga berkata, jika memang ada korban perkosaan, mana orangnya.
Biar jelas. Apalagi, tambah Beliau, ada upaya-upaya politisasi dari
"pihak tertentu" terhadap kerusuhan itu. Mulai dari menjual cerita,
mencari suaka ke Amerika dengan mengaku sebagai korban, dsb dsb.
Sedari awal, Beliau mengatakan bahwa gerakan kerusuhan tersebut di-trigger
oleh IMF dan diatur oleh IMF. Alasannya? Mereka sudah tidak menghendaki
Soeharto menjadi presiden RI.

Dari apa yang saya tangkap melalui ucapan-ucapan Bpk. Fadly, memang sulit
untuk mengatakan bahwa kerusuhan tersebut adalah kerusuhan rasial, mengingat

korban dari pihak pribumi juga besar. Makanya, Bpk. Fadly mengatakan berapa
persen korban kerusuhan tersebut dari etnis tionghua. Jika angkanya bukan
korban mayoritas, maka tidak boleh diasumsikan bahwa kerusuhan tersebut
adalah
rasial mengingat siapapun bisa menjadi korban, apapun etnisnya.

Tetapi bagaimana dengan kasus-kasus gang-raped yang "denger-denger"
dialami oleh gadis-gadis etnis tionghua? Jika hal ini BISA dibuktikan dan
diangkat ke forum internasional (walaupun saya sangat paham hal ini hampir
mustahil, mengingat mana ada gadis korban perkosaan yang mau...), maka
secara
otomatis kerusuhan tersebut langsung dapat dikategorikan sebagai kerusuhan
rasial
dan seharusnya pihak berwenang, baik dalam maupun luar negeri, melakukan
pengusutan
secara tuntas. Saya berpikir ini adalah kuncinya.

Sulit?

Just another my two cents...

________________________________

From: budaya_tiong...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of drira...@aol.com
Sent: Minggu, Mei, 20 2007 0:52
To: komunitas-tionghoa@googlegroups.com; nasional-l...@yahoogroups.com;
budaya_tiong...@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Peringatan Targedi Mei '98
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan
Duarte , May 12, 2007 / Indonesia Media
Sembilan tahun telah berlalu Peristiwa tragedi Mei '98 di Indonesia sampai
sekarang belum ada kelanjutan tindakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah
RI, bahkan dibeberapa media masa tanah air dilaporkan adanya usaha-usaha
melupakan atau menutupi kembali kasus Mei '98 ini.
DR.Frits Hong dalam kata sambutannya selaku ketua umum ICAA mengingatkan
pentingnya peringatan tragedi Mei '98, beliau menganalogikan dengan
peristiwa "
The Rape of Nanking". Pemerintahan yang silih berganti di Indonesia belum
satupun yang benar-benar berniat menuntaskan kasus kerusuhan Mei'98, kepada
seluruh masyarakat Indonesia, yang memilih nanti pada putaran pemilu 2009
agar
mempelajari dengan hati-hati, dan memilih wakil yang benar-benar komit untuk

menuntaskan masalah ini. Karena penuntasan kasus Mei'98 adalah merupakan
tolok
ukur mengembalikan kepercayaan global terhadap Indonesia. Sekali lagi
Peringatan Mei '98 tidak pernah boleh dilupakan, pungkas boss Duarte Inn
itu.
Juliana Widjaja Ph.D. seorang dosen dari Center of South East Asia Study,
UCLA dalam ceramahnya menekankan bahwa :"Sejarah yang dilupakan adalah
berpotensi menimbulkan pengulangan tragedi kekerasan di masa yang akan
datang"
Juliana menahyangkan foto-foto kekerasan HAM yang belum pernah dipublisir
oleh media selama 40 tahun via power point, dengan TKP di Banyuwangi saat
itu
ada 9 anak-anak (mulai dari 10 tahun), pemuda, dan pelajar gugur akibat
berondongan senjata ABRI, belum lagi masih puluhan yang luka-luka. Saat itu
mereka
tengah melakukan aksi damai di pasar sehubungan dengan penutupan toko-toko
pengecer milik etnis Tionghoa (tingkat Kabupaten) di kiosk-kiosk pasar.
Namun
anehnya sampai hari ini tidak pernah dipublisir di media masa. Inilah yang
dinamakan penutupan / penghapusan sejarah.
Juliana juga menceritakan betapa pahit getirnya dia dalam mengurus surat
WNI, dan masuk sekolah perguruan tinggi. Stigma bahwa Tionghoa itu semua
kaya
tidak berlaku untuk sebagian besar masyarakat etnis Tionghoa, termasuk dia.
Saat itu Juliana harus cukup puas dengan hanya meneruskan di perguruan
tinggi
yang tidak berkelas, dan harus membayar mahal pula sehubungan dengan status
WNI
nya belum selesai dari proses. Demikian pula dalam hal penggantian nama yang

harus diselaraskan dengan nama yang berlafalkan Indonesia, tapi pada
akhirnya toh pamong yang menangani suratnya mengimbuhkan nama marganya (Oei)
diakhir
namanya, jadi ini suatu peraturan yang dibuat-buat dan jelas kontradiktif,
demikian cetusnya. Belum lagi dia diharuskan mengenakan kebaya Jawa sewaktu
di
sumpah WNI-nya, katanya ini adalah pakaian Indonesia. Apakah busana
Indonesia adalah busana Jawa? tanyanya.
Sebagai dosen CSEAS-UCLA, Juliana sangat merasakan kurangnya, atau boleh
dikatakan tidak ada lagi mahasiswanya yang mau datang belajar ke Indonesia.
Salah satu faktornya adalah keamanan di Indonesia yang belum terjamin, hal
ini
juga menyulitkan institusi yang memberikan grant kepada mahasiswa yang
tertarik mempelajari negara-negara yang sedang bermasalah.
Sejarah harus dicatat dengan benar , termasuk personal memory harus
dibukukan juga, karena dengan mengetahui sejarah anak cucu kita belajar tak
akan
mengulangi lagi kesalahan yang sama dimasa yang akan datang.
Martinus Oei seorang akuntan yang datang dari Indonesia memberi kesaksian
tentang kejadian kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Betapa mencekamnya Jakarta
saat
itu, menurutnya sudah jelas kasat mata para provokator yang berambut cepak
itu diturunkan ber truk-truk ke TKP. Siapa yang bisa mengeluarkan mobilitas
semacam ini ? Beliau juga menyesalkan ketidak pedulian masyarakat Indonesia
yang sudah berdiam diluar negeri atas ketidak sediaannya mereka dalam
menanda
tangani petisi untuk dikirim ke High Commision of Human Rights di PBB, (Mary

Robinson), serta UNHCR, saat beliau memohon umat dari salah satu gereja ICC
di
Perth (Australia) yang jemaatnya banyak berasal dari Indonesia. "Malah
orang bule yang spontan mau menandatangani, sunggih suatu ironi", ujarnya.
Petisi itu akhirnya membuahkan hasil, yaitu dengan diutusnya Radhika
Coomaraswamy
datang ke Indonesia untuk menyelidiki kejadian tersebut
Perjuangan Esther Jusuf S.H. dari Solidaritas Nusa dan Bangsa patut didukung

seluruh masyarakat. Baru-baru ini SNB baru meluncurkan buku tentang
kerusuhan Mei'98 di Jakarta, inipun sempat ditentang oleh beberapa anggota
TGPF
sendiri yang berindikasi menghapus kejadian tersebut. Sedangkan data dari
TGPF
yang asli yang disimpan di kantor pemerintah sudah hilang. Maka tidak ada
jalan
lain Esther Jusuf dkk. berinisiatif segera meluncurkan buku kerusuhan Mei'98

itu. Rencananya buku-buku itu akan disebarluaskan dalam berbagai bahasa.
Usaha ini jelas memerlukan biaya yang tidak sedikit, untuk itu dalam nota
pesanan
Esther Jusuf kepada masyarakat agar bahu membahu dalam pelaksanaan misi ini.

Menurut Martinus, seiring dengan di "munirkannya" tokoh HAM Munir, maka
Romo Sandyawan sementara ini kabarnya diamankan oleh ordo Jesuit, hal ini
membahayakan diri Esther Jusuf yang harus berjuang sendiri dengan SNB nya.
Jonathan Goeij, selaku moderator dan co speaker membeberkan secuplik
data-data temuan TGPF yang menunjukan begitu banyaknya titik api yang
dicatat dalam
peta DKI Jaya , belum lagi wilayah lainnya yang tidak sempat di tahyangkan
karena keterbatasan waktu.
Masalah undang-undang kewarganegaraan dan SBKRI, saat itu yang dipakai
adalah UU dari tahun 1958, UU ini dibuat dengan mengacu UUD sementara tahun
1950,
padahal UUD sementara 1950 sudah dicabut , jadi sebenarnya UU tahun 1958
mengenai kewarganegaraan seharusnya tidak berdasar lagi saat UUD sementara
1950
dicabut.
Suara dari Komentator:
Mengungkap dan mengadili pelaku kerusuhan Mei '98 adalah merupakan
perjuangan kolektif semua, mengapa tidak? Jika suatu negara belum jelas
hukumnya dan
keamanannya bagaimana mungkin bisa meyakinkan masuknya investasi global,
bagaimana mungkin mempunyai perputaran ekonomi yang optimal, dan pada
gilirannya
bagaimana mungkin menjamin kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu
perjuangan
ini bukan semata PR sekelompok etnis saja melainkan harus merupakan
perjuangan kolektif rakyat Indonesia. Selama semuanya tidak berjalan
transparan
dikhawatirkan ada kemungkinan investor yang berani masuk ke Indonesia hanya
merupakan deal-deal antara investor spekulan dan kelompok koruptor saja,
yang
pada akhirnya membebani hutang kepada anak cucu kita lagi.
Memang tidak semua orang mampu membantu perjuangan ini entah dengan waktu
tenaga dan dana, tapi setidaknya dengan menghadiri acara peringatan semacam
ini
menunjukan kepedulian anda terhadap solidaritas perjuangan, demikian ucap
salah seorang komentator.
Kabarnya buku tentang kerusuhan Mei '98 itu bakal tersedia disini , tunggu
tanggal mainnya.


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Others  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 20 2007, 12:11 am
From: "Others" <oth...@softwareinovasi.com>
Date: Sun, 20 May 2007 11:11:02 +0700
Local: Sun, May 20 2007 12:11 am
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Bincang-bincang mengenai kerusuhan Mei 98...

Beberapa hari yang lalu (dalam minggu ini juga) saya menonton sebuah
talk show di MetroTV.
Acaranya dimalam hari, menampilkan 3 orang tokoh, yaitu penulis buku
tentang kerusuhan Mei98, Bpk. Fadly Zon, dan Ibu dari sebuah LSM.

Disitu dibahas mengenai Fakta, Mitos dan penyebab dari kerusuhan Mei98.

Bpk. Fadly dengan tegas menolak politisasi kerusuhan mei98 dengan
berargumen bahwa itu adalah sebuah kerusuhan, titik. Bahwa kerusuhan
tersebut adalah murni gerakan masyarakat atau sistematis, itu perlu
pembuktian. Tetapi yang penting, tidak perlu dibumbui dengan kata
"rasial" menjadi kerusuhan rasial yang emphasized pada korban dari
etnis Tionghua. Beliau menantang Ibu yang menulis Buku kerusuhan Mei98
dengan mengatakan dari sekian ribu korban kerusuhan, berapa yang dari
etnis tionghwa. Maksudnya, jika tidak ada data valid yang bisa diberikan,
maka tidaklah bisa dibenarkan menyebut kerusuhan tersebut adalah ditujukan
kepada etnis Tionghua. Beliau berkata, kalau cuman "katanya" atau "denger-
denger" ya sulit donk.

Beliau juga berkata, jika memang ada korban perkosaan, mana orangnya.
Biar jelas. Apalagi, tambah Beliau, ada upaya-upaya politisasi dari
"pihak tertentu" terhadap kerusuhan itu. Mulai dari menjual cerita,
mencari suaka ke Amerika dengan mengaku sebagai korban, dsb dsb.
Sedari awal, Beliau mengatakan bahwa gerakan kerusuhan tersebut di-trigger
oleh IMF dan diatur oleh IMF. Alasannya? Mereka sudah tidak menghendaki
Soeharto menjadi presiden RI.

Dari apa yang saya tangkap melalui ucapan-ucapan Bpk. Fadly, memang sulit
untuk mengatakan bahwa kerusuhan tersebut adalah kerusuhan rasial, mengingat

korban dari pihak pribumi juga besar. Makanya, Bpk. Fadly mengatakan berapa
persen korban kerusuhan tersebut dari etnis tionghua. Jika angkanya bukan
korban mayoritas, maka tidak boleh diasumsikan bahwa kerusuhan tersebut
adalah
rasial mengingat siapapun bisa menjadi korban, apapun etnisnya.

Tetapi bagaimana dengan kasus-kasus gang-raped yang "denger-denger"
dialami oleh gadis-gadis etnis tionghua? Jika hal ini BISA dibuktikan dan
diangkat ke forum internasional (walaupun saya sangat paham hal ini hampir
mustahil, mengingat mana ada gadis korban perkosaan yang mau...), maka
secara
otomatis kerusuhan tersebut langsung dapat dikategorikan sebagai kerusuhan
rasial
dan seharusnya pihak berwenang, baik dalam maupun luar negeri, melakukan
pengusutan
secara tuntas. Saya berpikir ini adalah kuncinya.

Sulit?

Just another my two cents...

________________________________

From: budaya_tiong...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of drira...@aol.com
Sent: Minggu, Mei, 20 2007 0:52
To: komunitas-tionghoa@googlegroups.com; nasional-l...@yahoogroups.com;
budaya_tiong...@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Peringatan Targedi Mei '98
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan
Duarte , May 12, 2007 / Indonesia Media
Sembilan tahun telah berlalu Peristiwa tragedi Mei '98 di Indonesia sampai
sekarang belum ada kelanjutan tindakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah
RI, bahkan dibeberapa media masa tanah air dilaporkan adanya usaha-usaha
melupakan atau menutupi kembali kasus Mei '98 ini.
DR.Frits Hong dalam kata sambutannya selaku ketua umum ICAA mengingatkan
pentingnya peringatan tragedi Mei '98, beliau menganalogikan dengan
peristiwa "
The Rape of Nanking". Pemerintahan yang silih berganti di Indonesia belum
satupun yang benar-benar berniat menuntaskan kasus kerusuhan Mei'98, kepada
seluruh masyarakat Indonesia, yang memilih nanti pada putaran pemilu 2009
agar
mempelajari dengan hati-hati, dan memilih wakil yang benar-benar komit untuk

menuntaskan masalah ini. Karena penuntasan kasus Mei'98 adalah merupakan
tolok
ukur mengembalikan kepercayaan global terhadap Indonesia. Sekali lagi
Peringatan Mei '98 tidak pernah boleh dilupakan, pungkas boss Duarte Inn
itu.
Juliana Widjaja Ph.D. seorang dosen dari Center of South East Asia Study,
UCLA dalam ceramahnya menekankan bahwa :"Sejarah yang dilupakan adalah
berpotensi menimbulkan pengulangan tragedi kekerasan di masa yang akan
datang"
Juliana menahyangkan foto-foto kekerasan HAM yang belum pernah dipublisir
oleh media selama 40 tahun via power point, dengan TKP di Banyuwangi saat
itu
ada 9 anak-anak (mulai dari 10 tahun), pemuda, dan pelajar gugur akibat
berondongan senjata ABRI, belum lagi masih puluhan yang luka-luka. Saat itu
mereka
tengah melakukan aksi damai di pasar sehubungan dengan penutupan toko-toko
pengecer milik etnis Tionghoa (tingkat Kabupaten) di kiosk-kiosk pasar.
Namun
anehnya sampai hari ini tidak pernah dipublisir di media masa. Inilah yang
dinamakan penutupan / penghapusan sejarah.
Juliana juga menceritakan betapa pahit getirnya dia dalam mengurus surat
WNI, dan masuk sekolah perguruan tinggi. Stigma bahwa Tionghoa itu semua
kaya
tidak berlaku untuk sebagian besar masyarakat etnis Tionghoa, termasuk dia.
Saat itu Juliana harus cukup puas dengan hanya meneruskan di perguruan
tinggi
yang tidak berkelas, dan harus membayar mahal pula sehubungan dengan status
WNI
nya belum selesai dari proses. Demikian pula dalam hal penggantian nama yang

harus diselaraskan dengan nama yang berlafalkan Indonesia, tapi pada
akhirnya toh pamong yang menangani suratnya mengimbuhkan nama marganya (Oei)
diakhir
namanya, jadi ini suatu peraturan yang dibuat-buat dan jelas kontradiktif,
demikian cetusnya. Belum lagi dia diharuskan mengenakan kebaya Jawa sewaktu
di
sumpah WNI-nya, katanya ini adalah pakaian Indonesia. Apakah busana
Indonesia adalah busana Jawa? tanyanya.
Sebagai dosen CSEAS-UCLA, Juliana sangat merasakan kurangnya, atau boleh
dikatakan tidak ada lagi mahasiswanya yang mau datang belajar ke Indonesia.
Salah satu faktornya adalah keamanan di Indonesia yang belum terjamin, hal
ini
juga menyulitkan institusi yang memberikan grant kepada mahasiswa yang
tertarik mempelajari negara-negara yang sedang bermasalah.
Sejarah harus dicatat dengan benar , termasuk personal memory harus
dibukukan juga, karena dengan mengetahui sejarah anak cucu kita belajar tak
akan
mengulangi lagi kesalahan yang sama dimasa yang akan datang.
Martinus Oei seorang akuntan yang datang dari Indonesia memberi kesaksian
tentang kejadian kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Betapa mencekamnya Jakarta
saat
itu, menurutnya sudah jelas kasat mata para provokator yang berambut cepak
itu diturunkan ber truk-truk ke TKP. Siapa yang bisa mengeluarkan mobilitas
semacam ini ? Beliau juga menyesalkan ketidak pedulian masyarakat Indonesia
yang sudah berdiam diluar negeri atas ketidak sediaannya mereka dalam
menanda
tangani petisi untuk dikirim ke High Commision of Human Rights di PBB, (Mary

Robinson), serta UNHCR, saat beliau memohon umat dari salah satu gereja ICC
di
Perth (Australia) yang jemaatnya banyak berasal dari Indonesia. "Malah
orang bule yang spontan mau menandatangani, sunggih suatu ironi", ujarnya.
Petisi itu akhirnya membuahkan hasil, yaitu dengan diutusnya Radhika
Coomaraswamy
datang ke Indonesia untuk menyelidiki kejadian tersebut
Perjuangan Esther Jusuf S.H. dari Solidaritas Nusa dan Bangsa patut didukung

seluruh masyarakat. Baru-baru ini SNB baru meluncurkan buku tentang
kerusuhan Mei'98 di Jakarta, inipun sempat ditentang oleh beberapa anggota
TGPF
sendiri yang berindikasi menghapus kejadian tersebut. Sedangkan data dari
TGPF
yang asli yang disimpan di kantor pemerintah sudah hilang. Maka tidak ada
jalan
lain Esther Jusuf dkk. berinisiatif segera meluncurkan buku kerusuhan Mei'98

itu. Rencananya buku-buku itu akan disebarluaskan dalam berbagai bahasa.
Usaha ini jelas memerlukan biaya yang tidak sedikit, untuk itu dalam nota
pesanan
Esther Jusuf kepada masyarakat agar bahu membahu dalam pelaksanaan misi ini.

Menurut Martinus, seiring dengan di "munirkannya" tokoh HAM Munir, maka
Romo Sandyawan sementara ini kabarnya diamankan oleh ordo Jesuit, hal ini
membahayakan diri Esther Jusuf yang harus berjuang sendiri dengan SNB nya.
Jonathan Goeij, selaku moderator dan co speaker membeberkan secuplik
data-data temuan TGPF yang menunjukan begitu banyaknya titik api yang
dicatat dalam
peta DKI Jaya , belum lagi wilayah lainnya yang tidak sempat di tahyangkan
karena keterbatasan waktu.
Masalah undang-undang kewarganegaraan dan SBKRI, saat itu yang dipakai
adalah UU dari tahun 1958, UU ini dibuat dengan mengacu UUD sementara tahun
1950,
padahal UUD sementara 1950 sudah dicabut , jadi sebenarnya UU tahun 1958
mengenai kewarganegaraan seharusnya tidak berdasar lagi saat UUD sementara
1950
dicabut.
Suara dari Komentator:
Mengungkap dan mengadili pelaku kerusuhan Mei '98 adalah merupakan
perjuangan kolektif semua, mengapa tidak? Jika suatu negara belum jelas
hukumnya dan
keamanannya bagaimana mungkin bisa meyakinkan masuknya investasi global,
bagaimana mungkin mempunyai perputaran ekonomi yang optimal, dan pada
gilirannya
bagaimana mungkin menjamin kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu
perjuangan
ini bukan semata PR sekelompok etnis saja melainkan harus merupakan
perjuangan kolektif rakyat Indonesia. Selama semuanya tidak berjalan
transparan
dikhawatirkan ada kemungkinan investor yang berani masuk ke Indonesia hanya
merupakan deal-deal antara investor spekulan dan kelompok koruptor saja,
yang
pada akhirnya membebani hutang kepada anak cucu kita lagi.
Memang tidak semua orang mampu membantu perjuangan ini entah dengan waktu
tenaga dan dana, tapi setidaknya dengan menghadiri acara peringatan semacam
ini
menunjukan kepedulian anda terhadap solidaritas perjuangan, demikian ucap
salah seorang komentator.
Kabarnya buku tentang kerusuhan Mei '98 itu bakal tersedia disini , tunggu
tanggal mainnya.


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
jonathangoeij  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 20 2007, 3:53 pm
From: "jonathangoeij" <jonathango...@yahoo.com>
Date: Sun, 20 May 2007 19:53:47 -0000
Local: Sun, May 20 2007 3:53 pm
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Others" <others@...> wrote:

UNITED NATIONS ECONOMIC AND SOCIAL COUNCIL

Distr. GENERAL

E/CN.4/1999/68/Add.3 21 January 1999

Original: ENGLISH

COMMISSION ON HUMAN RIGHTS Fifty-fifth session Item 12 (a) of the
provisional agenda

INTEGRATION OF THE HUMAN RIGHTS OF WOMEN AND THE GENDER PERSPECTIVE:
VIOLENCE AGAINST WOMEN

Report of the Special Rapporteur on violence against women, its
causes and consequences, Ms. Radhika Coomaraswamy

..........
.....
..

V. RAPE OF ETHNIC CHINESE WOMEN

62. The ethnic Chinese make up 2.8 per cent of the Indonesian
population and number around 6 million. / Leo Suryadinata, The
Culture of the Chinese Minority in Indonesia, Times Books
International, Singapore, 1997./ They are predominantly urban
dwellers and, by all accounts, have, as a community, made a
significant contribution to the Indonesian economy. The perception
among average non-Chinese Indonesians is that the Chinese control the
economy in collaboration with Indonesian power elites. Although the
Special Rapporteur was repeatedly told that the Chinese were rich and
wealthy, many of the victims she met, who had been raped during the
May riots, appeared to be from lower-middle-class backgrounds. Some
were single women living alone, striving to make ends meet. It
appeared that the victims were in fact poor, ordinary women who had
very little "control of the economy".

63. Since 1967, the Government of Indonesia has pursued a policy of
assimilation with regard to the ethnic Chinese minority. It is
important to highlight the framework within which the May riots took
place (an issue the Special Rapporteur on racial discrimination will
address in greater depth in his report (E/CN.4/1999/15)). The
assimilation policy has been contained in government guidelines since
1967. Chinese Indonesians have been asked to change their names to
Indonesian ones. Their language schools have been closed and replaced
by schools, where Chinese is taught as an extracurricular language.
The use of Chinese characters in public has been discouraged and
Chinese festivals and rituals are to be celebrated only in the
privacy of the home. Chinese Indonesians carry identity cards with
special markings to show that they are of Chinese origin / On 16
September 1998, President Habibie issued a presidential decree
requiring equal treatment for all Indonesians and banning the use of
the words "pribumi" and "non-pribumi" in all welfare formulations,
organizations and programmes, and in the implementation of government
coordinated activities. "Pribumi", which means "indigenous"
or "native" in the Bahasa Indonesia language is normally understood
to exclude persons of Chinese descent. A further welcome development
is the recent decision by the Ministry of Home Affairs to stop using
special codes on identity cards for Chinese Indonesians./ and Chinese
businessmen are encouraged to find "indigenous" Indonesian business
partners. However, the Chinese are free to practise the religion of
their choice, and many of them are Christians or Buddhists.

64. There are two categories of Chinese in Indonesia. The first,
called "Peranakans", are locally born Chinese who have intermarried
with Indonesians and speak Bahasa Indonesia. Some of them have become
Muslims. The second category are called "Totoks". They are recent
migrants who continue to speak Chinese and are more involved in
education and business. Both categories of Chinese were targeted
during the May 1998 riots.

65. With regard to the May 1998 riots, the Special Rapporteur spoke
with victims, witnesses, members of the Chinese community, human
rights defenders and NGOs. She also spoke with government officials
and representatives of the military and the police. The following
conclusions are based on these interviews.

66. On 12 May 1998, four university students were shot dead at
Trishakti University during a demonstration. By 14 May, thousands of
establishments had burnt to the ground. According to the Volunteers
for Humanitarian Causes, 1,190 people were dead in Jakarta and 168
women had been gang raped. According to the police, only 451 people
died and there were no cases of gang rape. The Joint Fact-Finding
Team (TGPF) was able to interview 85 victims of sexual violence, of
whom 52 were victims of rape.

67. The riots followed a pattern. Initially there were rumours
threatening violence. Then a group of strangers, described as heavily
built and in army boots and armed with crowbars, inflammable liquids
and Molotov cocktails would come to a locality in jeeps and on
motorcycles. They would incite the populace to riot, assisting them
to break into buildings and loot the premises. They would also assist
in arson. After some time, they would withdraw. Although both Chinese
and non-Chinese died in the arson, the target of the riots was
Chinese establishments. With regard to the cases of rape, again it
was the Chinese who were the targets. Rape occurred in west and north
Jakarta, where there was a concentration of Chinese.

68. The TGPF could not conclude that the riots were systematically
planned and instigated, but asked for further investigations,
mentioning by name Lt.-Gen. Prabowo, the son-in-law of former
President Soeharto, and Major-General Syafrie Syamsoeddin, the chief
of army operations in Jakarta. According to witnesses, the
perpetrators of the crimes committed were local criminals, some of
whom have confessed that they were paid to riot. The witnesses also
felt that individuals from the Indonesian army and from some
political organizations also took part in the rioting. It is
absolutely essential that the perpetrators be brought to trial after
proper investigations so that such events do not occur in the future.

69. The Special Rapporteur was shown a video of the riots. She was
appalled to see members of the armed forces wearing red berets stand
by and watch as the looting and rioting continued. At one time they
shared looted drinks with the miscreants, joking and laughing during
the chaos. One victim described to the Special Rapporteur how she ran
out of her house and asked a soldier to help her family. He just
turned away. She watched her sisters suffer sexual violence, her
brother killed and her house burn to the ground. This type of
lawlessness gives impunity to criminal actors and allows for large-
scale violations of human rights. All States have a due diligence
duty to prevent, prosecute and punish private actors involved in
violating the rights of others.

70. The Special Rapporteur asked members of the security forces why
they had allowed such lawlessness to prevail. They argued that, after
the shooting of the students, they had not wanted any more civilian
casualties, so the soldiers had been reluctant to intervene. The
inability of the security forces of Indonesia to distinguish between
the exercise of the right to free speech and lawful assembly by the
students and pure criminal activity by gangs of thugs and looters is
extremely worrying and points to the need for intensive human rights
training of the Indonesian security forces.

71. Throughout the Special Rapporteur's stay, government officials,
as well as individual civilians, inquired whether the so-called mass
rapes actually took place since no one was reporting the cases to the
police. The Special Rapporteur is firmly convinced that there was
mass rape, more often gang rape. It took place in homes, in public
places and in workplaces. Although she cannot provide a definite
number, the pattern of violence that was described by victims,
witnesses and human rights defenders clearly indicated that such rape
was widespread.

72. None of the victims with whom the Special Rapporteur spoke had
reported their cases to the police. The reasons for this were
manifold. Firstly, they had received death threats and anonymous
letters warning them not to report the cases. Secondly, they had no
confidence in the criminal justice system and were convinced that the
police would not do anything to bring the miscreants to trial.
Finally, they were afraid that the publicity would result in their
being ostracized in their community, where rape carries with it a
stigma that is hard to erase. The lack of confidence of the victims
in the criminal justice system strikes at the heart of the integrity
of the institutions that defend the rule of law. It is important that
these institutions regain the confidence of this important element of
Indonesian society.

73. The Special Rapporteur is deeply concerned about the
proliferation of death threats and anonymous letters after the May
1988 riots. These threats and letters have been targeted at victims,
the families of the victims, doctors and human rights defenders. In
the case of human rights defenders, the threat is directed against
their children. The threats are delivered by telephone and by letter.
In the case of rape victims, photographs of the rape are sent warning
the victim that if she speaks the photographs will be circulated
widely. This private thuggery has to be confronted and eliminated.
The rule of law must prevail if the criminal justice system in
Indonesia is to give relief to victims. There is a need for an
effective witness ...

read more »


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
jonathangoeij  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 20 2007, 3:53 pm
From: "jonathangoeij" <jonathango...@yahoo.com>
Date: Sun, 20 May 2007 19:53:47 -0000
Local: Sun, May 20 2007 3:53 pm
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Others" <others@...> wrote:

UNITED NATIONS ECONOMIC AND SOCIAL COUNCIL

Distr. GENERAL

E/CN.4/1999/68/Add.3 21 January 1999

Original: ENGLISH

COMMISSION ON HUMAN RIGHTS Fifty-fifth session Item 12 (a) of the
provisional agenda

INTEGRATION OF THE HUMAN RIGHTS OF WOMEN AND THE GENDER PERSPECTIVE:
VIOLENCE AGAINST WOMEN

Report of the Special Rapporteur on violence against women, its
causes and consequences, Ms. Radhika Coomaraswamy

..........
.....
..

V. RAPE OF ETHNIC CHINESE WOMEN

62. The ethnic Chinese make up 2.8 per cent of the Indonesian
population and number around 6 million. / Leo Suryadinata, The
Culture of the Chinese Minority in Indonesia, Times Books
International, Singapore, 1997./ They are predominantly urban
dwellers and, by all accounts, have, as a community, made a
significant contribution to the Indonesian economy. The perception
among average non-Chinese Indonesians is that the Chinese control the
economy in collaboration with Indonesian power elites. Although the
Special Rapporteur was repeatedly told that the Chinese were rich and
wealthy, many of the victims she met, who had been raped during the
May riots, appeared to be from lower-middle-class backgrounds. Some
were single women living alone, striving to make ends meet. It
appeared that the victims were in fact poor, ordinary women who had
very little "control of the economy".

63. Since 1967, the Government of Indonesia has pursued a policy of
assimilation with regard to the ethnic Chinese minority. It is
important to highlight the framework within which the May riots took
place (an issue the Special Rapporteur on racial discrimination will
address in greater depth in his report (E/CN.4/1999/15)). The
assimilation policy has been contained in government guidelines since
1967. Chinese Indonesians have been asked to change their names to
Indonesian ones. Their language schools have been closed and replaced
by schools, where Chinese is taught as an extracurricular language.
The use of Chinese characters in public has been discouraged and
Chinese festivals and rituals are to be celebrated only in the
privacy of the home. Chinese Indonesians carry identity cards with
special markings to show that they are of Chinese origin / On 16
September 1998, President Habibie issued a presidential decree
requiring equal treatment for all Indonesians and banning the use of
the words "pribumi" and "non-pribumi" in all welfare formulations,
organizations and programmes, and in the implementation of government
coordinated activities. "Pribumi", which means "indigenous"
or "native" in the Bahasa Indonesia language is normally understood
to exclude persons of Chinese descent. A further welcome development
is the recent decision by the Ministry of Home Affairs to stop using
special codes on identity cards for Chinese Indonesians./ and Chinese
businessmen are encouraged to find "indigenous" Indonesian business
partners. However, the Chinese are free to practise the religion of
their choice, and many of them are Christians or Buddhists.

64. There are two categories of Chinese in Indonesia. The first,
called "Peranakans", are locally born Chinese who have intermarried
with Indonesians and speak Bahasa Indonesia. Some of them have become
Muslims. The second category are called "Totoks". They are recent
migrants who continue to speak Chinese and are more involved in
education and business. Both categories of Chinese were targeted
during the May 1998 riots.

65. With regard to the May 1998 riots, the Special Rapporteur spoke
with victims, witnesses, members of the Chinese community, human
rights defenders and NGOs. She also spoke with government officials
and representatives of the military and the police. The following
conclusions are based on these interviews.

66. On 12 May 1998, four university students were shot dead at
Trishakti University during a demonstration. By 14 May, thousands of
establishments had burnt to the ground. According to the Volunteers
for Humanitarian Causes, 1,190 people were dead in Jakarta and 168
women had been gang raped. According to the police, only 451 people
died and there were no cases of gang rape. The Joint Fact-Finding
Team (TGPF) was able to interview 85 victims of sexual violence, of
whom 52 were victims of rape.

67. The riots followed a pattern. Initially there were rumours
threatening violence. Then a group of strangers, described as heavily
built and in army boots and armed with crowbars, inflammable liquids
and Molotov cocktails would come to a locality in jeeps and on
motorcycles. They would incite the populace to riot, assisting them
to break into buildings and loot the premises. They would also assist
in arson. After some time, they would withdraw. Although both Chinese
and non-Chinese died in the arson, the target of the riots was
Chinese establishments. With regard to the cases of rape, again it
was the Chinese who were the targets. Rape occurred in west and north
Jakarta, where there was a concentration of Chinese.

68. The TGPF could not conclude that the riots were systematically
planned and instigated, but asked for further investigations,
mentioning by name Lt.-Gen. Prabowo, the son-in-law of former
President Soeharto, and Major-General Syafrie Syamsoeddin, the chief
of army operations in Jakarta. According to witnesses, the
perpetrators of the crimes committed were local criminals, some of
whom have confessed that they were paid to riot. The witnesses also
felt that individuals from the Indonesian army and from some
political organizations also took part in the rioting. It is
absolutely essential that the perpetrators be brought to trial after
proper investigations so that such events do not occur in the future.

69. The Special Rapporteur was shown a video of the riots. She was
appalled to see members of the armed forces wearing red berets stand
by and watch as the looting and rioting continued. At one time they
shared looted drinks with the miscreants, joking and laughing during
the chaos. One victim described to the Special Rapporteur how she ran
out of her house and asked a soldier to help her family. He just
turned away. She watched her sisters suffer sexual violence, her
brother killed and her house burn to the ground. This type of
lawlessness gives impunity to criminal actors and allows for large-
scale violations of human rights. All States have a due diligence
duty to prevent, prosecute and punish private actors involved in
violating the rights of others.

70. The Special Rapporteur asked members of the security forces why
they had allowed such lawlessness to prevail. They argued that, after
the shooting of the students, they had not wanted any more civilian
casualties, so the soldiers had been reluctant to intervene. The
inability of the security forces of Indonesia to distinguish between
the exercise of the right to free speech and lawful assembly by the
students and pure criminal activity by gangs of thugs and looters is
extremely worrying and points to the need for intensive human rights
training of the Indonesian security forces.

71. Throughout the Special Rapporteur's stay, government officials,
as well as individual civilians, inquired whether the so-called mass
rapes actually took place since no one was reporting the cases to the
police. The Special Rapporteur is firmly convinced that there was
mass rape, more often gang rape. It took place in homes, in public
places and in workplaces. Although she cannot provide a definite
number, the pattern of violence that was described by victims,
witnesses and human rights defenders clearly indicated that such rape
was widespread.

72. None of the victims with whom the Special Rapporteur spoke had
reported their cases to the police. The reasons for this were
manifold. Firstly, they had received death threats and anonymous
letters warning them not to report the cases. Secondly, they had no
confidence in the criminal justice system and were convinced that the
police would not do anything to bring the miscreants to trial.
Finally, they were afraid that the publicity would result in their
being ostracized in their community, where rape carries with it a
stigma that is hard to erase. The lack of confidence of the victims
in the criminal justice system strikes at the heart of the integrity
of the institutions that defend the rule of law. It is important that
these institutions regain the confidence of this important element of
Indonesian society.

73. The Special Rapporteur is deeply concerned about the
proliferation of death threats and anonymous letters after the May
1988 riots. These threats and letters have been targeted at victims,
the families of the victims, doctors and human rights defenders. In
the case of human rights defenders, the threat is directed against
their children. The threats are delivered by telephone and by letter.
In the case of rape victims, photographs of the rape are sent warning
the victim that if she speaks the photographs will be circulated
widely. This private thuggery has to be confronted and eliminated.
The rule of law must prevail if the criminal justice system in
Indonesia is to give relief to victims. There is a need for an
effective witness ...

read more »


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
jimmy kosasih  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 20 2007, 5:56 pm
From: jimmy kosasih <jimmy.kosa...@yahoo.co.id>
Date: Mon, 21 May 2007 04:56:05 +0700 (ICT)
Local: Sun, May 20 2007 5:56 pm
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

aku pikir bisa saja diajukan petisi ke high commision ke dewan keamanan pbb seperti kasus munir dengan syarat punya akses ke pbb dan adanya jaminan keamanan sebagai saksi kerusuhan, baik itu jaminan keamanan maupun moral.
 kerusuhan mei 98 yang identik dengan etnis tionghoa adalah sebagai implementasi dari sifat individualis etnis tionghoa di Indonesia, karena sifatnya yang individualis inilah membuat etnis tionghoa sering menjadi korban kerusuhan ataupun pemalakan. yang penting aku nggak kena yang sudah ya sudah...begitu seterusnya. kalo saja semua etnis tionghoa memiliki rasa saling memiliki dan mau berkorban untuk menyelesaikan kasus ini, aku pikir tidak ada kata tidak untuk pemerintah untuk menyelesaikan kasus ini.
 selain itu undang-undang yang mengatur negara indonesia yang besar ini adalah warisan dari VOC yang mana kita ketahui adalah perusahaan dagang yang menitikberatkan masalah untung rugi semata. contoh kasus hilangnya dekrit presiden yang katanya dikeluarkan bung Karno kepada suharto sampai saat ini hilang entah kemana dan yang diherankan tidak ada tindak lanjut tentang hal ini. tidak salah jika masyarakat sekarang tidak percaya akan pemerintah dan hukum yang mengaturnya, dan sebagai implementasi adanya undang-undang yang dibuat sendiri untuk menghakimi orang yang bersalah. misalnya maling motor ketangkep langsung dibakar sampe mati. kalo sudah gini siapa yang salah?

---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Others  
View profile  
 More options May 20 2007, 9:52 pm
From: "Others" <oth...@softwareinovasi.com>
Date: Mon, 21 May 2007 08:52:35 +0700
Local: Sun, May 20 2007 9:52 pm
Subject: RE: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Terima kasih atas informasinya.
Sekarang saya baru yakin bahwa gang-raped thd gadis tionghua itu
bukan isapan jempol.

Duh...
What have INDOCINA done to deserve such misfortune?
________________________________

From: budaya_tiong...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of jonathangoeij
Sent: Senin, Mei, 21 2007 2:54
To: budaya_tiong...@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

UNITED NATIONS ECONOMIC AND SOCIAL COUNCIL

Distr. GENERAL

E/CN.4/1999/68/Add.3 21 January 1999

Original: ENGLISH

COMMISSION ON HUMAN RIGHTS Fifty-fifth session Item 12 (a) of the
provisional agenda

INTEGRATION OF THE HUMAN RIGHTS OF WOMEN AND THE GENDER PERSPECTIVE:
VIOLENCE AGAINST WOMEN

Report of the Special Rapporteur on violence against women, its
causes and consequences, Ms. Radhika Coomaraswamy


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Others  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 20 2007, 9:52 pm
From: "Others" <oth...@softwareinovasi.com>
Date: Mon, 21 May 2007 08:52:35 +0700
Local: Sun, May 20 2007 9:52 pm
Subject: RE: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Saya kutip tulisan anda:
===
kerusuhan mei 98 yang identik dengan etnis tionghoa adalah sebagai
implementasi dari sifat individualis etnis tionghoa di Indonesia, karena
sifatnya yang individualis inilah membuat etnis tionghoa sering menjadi
korban kerusuhan ataupun pemalakan. yang penting aku nggak kena yang sudah
ya sudah...begitu seterusnya.
===
Bung Jimmy, saya tidak dapat lebih setuju lagi dengan statement anda
tersebut.

Saya tidak tahu apakah anda dari etnis tionghua, tetapi tulisan anda sungguh
mengena dan sedikit banyak mencerminkan sikap dari hwa-ren di Indonesia
(khususnya
kesan yang saya dapatkan melalui hari-hari kehidupan saya disini). Tentang
pemalakan,
waktu kecil dulu saya beberapa kali di-palak. Saking bosennya, saya sampe
belajar beladiri dan
sejak saat itu saya selalu melawan. Hasilnya? Duit saya utuh dan yang malak
lari ke-ibunya sambil
nangis. Hehehe...Coba, berapa banyak cowok-cowok chinese di milis ini yang
belum pernah dipalak?
Anak saya selalu saya ajarkan untuk melawan, karena menurut saya, pemalakan
itu bukan
cuman sekedar "minta cepek nopek", tetapi kayaknya mereka belajar untuk
membentuk embrio
"penindasan mini" terhadap korbannya.

"Penindasan? Wah apakah anda tidak berlebihan, bung Others?". Hm...Maybe
yes, maybe no :P

Saya teringat sebuah teori (yah...memang masih teori sih) dari seorang pakar
yang saya baca
dari sebuah milis tetangga. Cukup menarik. Kalau ada yang tertarik untuk
membaca detailnya, akan saya
ubek-ubek hard-disk saya karena sudah lama sekali, moga-moga ketemu. Beliau
berkata, bahwa etnis tionghua
(yang perantauan?) itu tidak bisa bersatu. Berbeda dengan ras kaukasia yang
hubungan sosialnya seperti
"ikatan jerami", kuat dan menyatu, biarpun terpisah. Struktur sosial
tionghua itu seperti batu yang
dicelupkan kedalam air. Batu itu adalah pusatnya dan riak yang timbul adalah
"ikatan sosial"-nya. Begitu
batu itu tenggelam, riaknya akan menghilang dan tidak ada lagi ikatan yang
timbul. Batu mencerminkan
"tokoh senior" dari sebuah keluarga.

Anda mungkin berpikir bahwa teori itu sangat stereotyping, "ngawur", dan
"well, it's so untrue".
Yah, mungkin benar. Tetapi menarik untuk direnungkan. Apakah benar kita
memang demikian?

________________________________

From: budaya_tiong...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of jimmy kosasih
Sent: Senin, Mei, 21 2007 4:56
To: budaya_tiong...@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

aku pikir bisa saja diajukan petisi ke high commision ke dewan keamanan pbb
seperti kasus munir dengan syarat punya akses ke pbb dan adanya jaminan
keamanan sebagai saksi kerusuhan, baik itu jaminan keamanan maupun moral.
kerusuhan mei 98 yang identik dengan etnis tionghoa adalah sebagai
implementasi dari sifat individualis etnis tionghoa di Indonesia, karena
sifatnya yang individualis inilah membuat etnis tionghoa sering menjadi
korban kerusuhan ataupun pemalakan. yang penting aku nggak kena yang sudah
ya sudah...begitu seterusnya. kalo saja semua etnis tionghoa memiliki rasa
saling memiliki dan mau berkorban untuk menyelesaikan kasus ini, aku pikir
tidak ada kata tidak untuk pemerintah untuk menyelesaikan kasus ini.
selain itu undang-undang yang mengatur negara indonesia yang besar ini
adalah warisan dari VOC yang mana kita ketahui adalah perusahaan dagang yang
menitikberatkan masalah untung rugi semata. contoh kasus hilangnya dekrit
presiden yang katanya dikeluarkan bung Karno kepada suharto sampai saat ini
hilang entah kemana dan yang diherankan tidak ada tindak lanjut tentang hal
ini. tidak salah jika masyarakat sekarang tidak percaya akan pemerintah dan
hukum yang mengaturnya, dan sebagai implementasi adanya undang-undang yang
dibuat sendiri untuk menghakimi orang yang bersalah. misalnya maling motor
ketangkep langsung dibakar sampe mati. kalo sudah gini siapa yang salah?


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Herny  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 21 2007, 3:23 am
From: "Herny" <heir...@gmail.com>
Date: Mon, 21 May 2007 14:23:42 +0700
Local: Mon, May 21 2007 3:23 am
Subject: RE: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Saya juga setuju dengan pendapat anda. Stereotipe orang tionghoa disini
identik dengan punya uang banyak, sikap masa bodoh, dan cenderung eksklusif.
Sayangnya, hal ini ada benarnya juga, walaupun tidak 100%. Apalagi
akhir-akhir ini sejak jaman Gus Dur, orang-orang tionghoa yang selama ini
ditekan tiba-tiba diberikan kebebasan, yang timbul malah euforia yang
berlebihan dan sibuk memamerkan identitas kecinaannya.

Sudah saatnya kita bersikap lebih peduli terhadap hal-hal seperti ini.
Marilah kita mencoba berpikir dengan jernih. Saat kita hanya mau bergaul
dengan sesama etnis tionghoa, bukankah kita menjadi eksklusif? Saat kita
merayakan imlek besar-besaran di hotel mewah, yang sebenarnya tidak perlu,
ada berapa banyak orang Indonesia lain yang masih hidup miskin; jika saya
menjadi mereka, tidakkah akan muncul rasa iri dan pikiran bahwa orang Cina
kaya-kaya. Contoh lain, dengan kita mengimpor barang-barang murah dari Cina;
makanan, buah, baju, dsb; ada berapa petani dan pengusaha pribumi yang
bangkrut karena tidak mampu bersaing dan akhirnya menyalahkan semua orang
Cina termasuk yang di Indonesia. Hal-hal seperti jika tertimbun selama
bertahun-tahun, dengan sedikit provokasi saja, tidakkah akan mengulangi
tragedi Mei 98?

Teman-teman, sebelumnya saya mohon maaf, tolong jangan salah paham terhadap
apa yang barusan saya katakan. Saya sendiri adalah etnis Tionghoa dan saya
sangat menghargai budaya tionghoa, saya mengagumi bangunan Kota Terlarang yg
bisa benar-benar simetris, tembok cina yang begitu panjang, saya suka minum
teh cina, saya suka nonton F4 dan dengar lagu cina, dan saya juga mengalami
diskriminasi tapi hal itu tidak merubah kenyataan bahwa saya adalah orang
Indonesia, yang lahir dan tinggal di Indonesia, dan karenanya juga harus
peduli dengan kondisi bangsa ini


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Discussion subject changed to "Peringatan Tragedi Mei 98" by Ray Indra
Ray Indra  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 21 2007, 3:30 am
From: "Ray Indra" <anthonyrayin...@yahoo.com>
Date: Mon, 21 May 2007 07:30:44 -0000
Local: Mon, May 21 2007 3:30 am
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98

Dear Friends,

Sekedar masukan...

Mohon dengan sangat, berhati-hatilah untuk menuduh 'pelaku
non-Tionghoa' yang melakukan tindakan kekerasan dalam peristiwa Mei.
Maksud hati ingin menuduh pelakunya, tapi terkadang, mungkin tanpa
sadar, kita dapat menyinggung perasaan etnis lain, ratusan juta
jumlahnya, yang sebenarnya tidak tahu apa-apa, bahkan banyak yang
menolong warga Tionghoa saat itu.

Dengan demikian, tanpa kita sadari, kita telah masuk perangkap para
dalang yang memang ingin mengadu-domba etnis.
Waspadalah... waspadalah...!

Saya ada di sana saat itu (tinggal di Jl. Pembangunan, persis di depan
Gajah Mada), dan adik saya ikut di dalam demo Trisakti saat itu.
Saya mempunyai beberapa kenangan yang tak akan terlupakan:

1) Saat ruko2 di Gajah Mada sudah dijarah (seperti toko buah Lucky,
dll) ada yang mengajak seorang bapak untuk turut mengambil buah.
Si bapak itu menjawab, "tidak nak, itu dosa."
Luar biasa bukan, di saat setan sudah merajalela, orang mengambil TV,
komputer, dll, bapak itu tetap kukuh dengan hati nuraninya yang
mengatakan mencuri itu dosa, meskipun cuma sebutir mangga.

2) Para pemuda dari gang kami bersatu (segala etnis) menjaga jalan
masuk, agar gerombolan perusuh tidak dapat masuk. Yang laki-laki di
depan jalan (sampai ke tepi Gajah Mada), yang perempuan berkumpul
sambil memegang senjata apapun - tongkat, kayu, pisau dapur, air
panas. Pada malam 14 dan 15 Mei kami sudah siap akan segalanya -
termasuk mati membela diri dan keluarga.

3) Saat perusuh sudah melempari Roxy Mas, tempat istri (waktu itu
pacar) saya bekerja, ia berhasil keluar dibantu tukang bajaj, yang
mengatakan "non nunduk saja ya, saya akan terobos". Dan memang ia
menerobos hiruk pikuk kegilaan itu dan mengantar istri dengan selamat.

Dan masih banyak kisah nyata lain, yang membuktikan kemuliaan manusia,
apapun etnisnya. Justru di tengah kesusahan, kita bisa melihat
keagungan sejati manusia.

Saya tidak tahu bagaimana kerusuhan itu di skala nasional, tapi yang
saya tahu, banyak Tionghoa selamat, karena dibela oleh pribumi.
Benar ada non-Tionghoa yang mungkin membenci Tionghoa (mungkin
iri/memanfaatkan keadaan) tapi jauh lebih banyak yang melihat Tionghoa
sebagai sesama manusia.

Janganlah, karena nila setitik, merusak persatuan bangsa.

Salam!


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Skalaras  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 21 2007, 7:19 am
From: "Skalaras" <skala...@cbn.net.id>
Date: Mon, 21 May 2007 18:19:58 +0700
Local: Mon, May 21 2007 7:19 am
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98

Setuju, maka seruan kita harus ditujukan ke Penguasa, kita menuntut mereka untuk membongkar kasus yang jelas terorganisir ini, kita tuntut mereka untuk berani mengungkap siapa dalangnya, Terutama menjelaskan siapa yang memerintahkan pengosongan Jakarta dari kehadiran pasukan, dan membiarkan kekacauan merajarela?.

ZFy


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Discussion subject changed to "Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles" by PK Lim
PK Lim  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 22 2007, 12:50 am
From: PK Lim <p9...@yahoo.com>
Date: Mon, 21 May 2007 21:50:44 -0700 (PDT)
Local: Tues, May 22 2007 12:50 am
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Two more cents from me.

  Ibu yang disebut di talk show tersebut adalah Ibu Esther, salah satu penulis buku tentang kerusuhan Mei 98 yang baru diluncurkan.  Sebagai info, Bapak Fadly Zon yang saya dengan adalah teman dekat Prabowo Subianto.  so, need we more to say ???

  Salam,
  PK Lim

Others <oth...@softwareinovasi.com> wrote:

          Bincang-bincang mengenai kerusuhan Mei 98...

Beberapa hari yang lalu (dalam minggu ini juga) saya menonton sebuah
talk show di MetroTV.
Acaranya dimalam hari, menampilkan 3 orang tokoh, yaitu penulis buku
tentang kerusuhan Mei98, Bpk. Fadly Zon, dan Ibu dari sebuah LSM.

Disitu dibahas mengenai Fakta, Mitos dan penyebab dari kerusuhan Mei98.

Bpk. Fadly dengan tegas menolak politisasi kerusuhan mei98 dengan
berargumen bahwa itu adalah sebuah kerusuhan, titik. Bahwa kerusuhan
tersebut adalah murni gerakan masyarakat atau sistematis, itu perlu
pembuktian. Tetapi yang penting, tidak perlu dibumbui dengan kata
"rasial" menjadi kerusuhan rasial yang emphasized pada korban dari
etnis Tionghua. Beliau menantang Ibu yang menulis Buku kerusuhan Mei98
dengan mengatakan dari sekian ribu korban kerusuhan, berapa yang dari
etnis tionghwa. Maksudnya, jika tidak ada data valid yang bisa diberikan,
maka tidaklah bisa dibenarkan menyebut kerusuhan tersebut adalah ditujukan
kepada etnis Tionghua. Beliau berkata, kalau cuman "katanya" atau "denger-
denger" ya sulit donk.

Beliau juga berkata, jika memang ada korban perkosaan, mana orangnya.
Biar jelas. Apalagi, tambah Beliau, ada upaya-upaya politisasi dari
"pihak tertentu" terhadap kerusuhan itu. Mulai dari menjual cerita,
mencari suaka ke Amerika dengan mengaku sebagai korban, dsb dsb.
Sedari awal, Beliau mengatakan bahwa gerakan kerusuhan tersebut di-trigger
oleh IMF dan diatur oleh IMF. Alasannya? Mereka sudah tidak menghendaki
Soeharto menjadi presiden RI.

Dari apa yang saya tangkap melalui ucapan-ucapan Bpk. Fadly, memang sulit
untuk mengatakan bahwa kerusuhan tersebut adalah kerusuhan rasial, mengingat

korban dari pihak pribumi juga besar. Makanya, Bpk. Fadly mengatakan berapa
persen korban kerusuhan tersebut dari etnis tionghua. Jika angkanya bukan
korban mayoritas, maka tidak boleh diasumsikan bahwa kerusuhan tersebut
adalah
rasial mengingat siapapun bisa menjadi korban, apapun etnisnya.

Tetapi bagaimana dengan kasus-kasus gang-raped yang "denger-denger"
dialami oleh gadis-gadis etnis tionghua? Jika hal ini BISA dibuktikan dan
diangkat ke forum internasional (walaupun saya sangat paham hal ini hampir
mustahil, mengingat mana ada gadis korban perkosaan yang mau...), maka
secara
otomatis kerusuhan tersebut langsung dapat dikategorikan sebagai kerusuhan
rasial
dan seharusnya pihak berwenang, baik dalam maupun luar negeri, melakukan
pengusutan
secara tuntas. Saya berpikir ini adalah kuncinya.

Sulit?

Just another my two cents...

________________________________

From: budaya_tiong...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of drira...@aol.com
Sent: Minggu, Mei, 20 2007 0:52
To: komunitas-tionghoa@googlegroups.com; nasional-l...@yahoogroups.com;
budaya_tiong...@yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Peringatan Targedi Mei '98
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan
Duarte , May 12, 2007 / Indonesia Media
Sembilan tahun telah berlalu Peristiwa tragedi Mei '98 di Indonesia sampai
sekarang belum ada kelanjutan tindakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah
RI, bahkan dibeberapa media masa tanah air dilaporkan adanya usaha-usaha
melupakan atau menutupi kembali kasus Mei '98 ini.
DR.Frits Hong dalam kata sambutannya selaku ketua umum ICAA mengingatkan
pentingnya peringatan tragedi Mei '98, beliau menganalogikan dengan
peristiwa "
The Rape of Nanking". Pemerintahan yang silih berganti di Indonesia belum
satupun yang benar-benar berniat menuntaskan kasus kerusuhan Mei'98, kepada
seluruh masyarakat Indonesia, yang memilih nanti pada putaran pemilu 2009
agar
mempelajari dengan hati-hati, dan memilih wakil yang benar-benar komit untuk

menuntaskan masalah ini. Karena penuntasan kasus Mei'98 adalah merupakan
tolok
ukur mengembalikan kepercayaan global terhadap Indonesia. Sekali lagi
Peringatan Mei '98 tidak pernah boleh dilupakan, pungkas boss Duarte Inn
itu.
Juliana Widjaja Ph.D. seorang dosen dari Center of South East Asia Study,
UCLA dalam ceramahnya menekankan bahwa :"Sejarah yang dilupakan adalah
berpotensi menimbulkan pengulangan tragedi kekerasan di masa yang akan
datang"
Juliana menahyangkan foto-foto kekerasan HAM yang belum pernah dipublisir
oleh media selama 40 tahun via power point, dengan TKP di Banyuwangi saat
itu
ada 9 anak-anak (mulai dari 10 tahun), pemuda, dan pelajar gugur akibat
berondongan senjata ABRI, belum lagi masih puluhan yang luka-luka. Saat itu
mereka
tengah melakukan aksi damai di pasar sehubungan dengan penutupan toko-toko
pengecer milik etnis Tionghoa (tingkat Kabupaten) di kiosk-kiosk pasar.
Namun
anehnya sampai hari ini tidak pernah dipublisir di media masa. Inilah yang
dinamakan penutupan / penghapusan sejarah.
Juliana juga menceritakan betapa pahit getirnya dia dalam mengurus surat
WNI, dan masuk sekolah perguruan tinggi. Stigma bahwa Tionghoa itu semua
kaya
tidak berlaku untuk sebagian besar masyarakat etnis Tionghoa, termasuk dia.
Saat itu Juliana harus cukup puas dengan hanya meneruskan di perguruan
tinggi
yang tidak berkelas, dan harus membayar mahal pula sehubungan dengan status
WNI
nya belum selesai dari proses. Demikian pula dalam hal penggantian nama yang

harus diselaraskan dengan nama yang berlafalkan Indonesia, tapi pada
akhirnya toh pamong yang menangani suratnya mengimbuhkan nama marganya (Oei)
diakhir
namanya, jadi ini suatu peraturan yang dibuat-buat dan jelas kontradiktif,
demikian cetusnya. Belum lagi dia diharuskan mengenakan kebaya Jawa sewaktu
di
sumpah WNI-nya, katanya ini adalah pakaian Indonesia. Apakah busana
Indonesia adalah busana Jawa? tanyanya.
Sebagai dosen CSEAS-UCLA, Juliana sangat merasakan kurangnya, atau boleh
dikatakan tidak ada lagi mahasiswanya yang mau datang belajar ke Indonesia.
Salah satu faktornya adalah keamanan di Indonesia yang belum terjamin, hal
ini
juga menyulitkan institusi yang memberikan grant kepada mahasiswa yang
tertarik mempelajari negara-negara yang sedang bermasalah.
Sejarah harus dicatat dengan benar , termasuk personal memory harus
dibukukan juga, karena dengan mengetahui sejarah anak cucu kita belajar tak
akan
mengulangi lagi kesalahan yang sama dimasa yang akan datang.
Martinus Oei seorang akuntan yang datang dari Indonesia memberi kesaksian
tentang kejadian kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Betapa mencekamnya Jakarta
saat
itu, menurutnya sudah jelas kasat mata para provokator yang berambut cepak
itu diturunkan ber truk-truk ke TKP. Siapa yang bisa mengeluarkan mobilitas
semacam ini ? Beliau juga menyesalkan ketidak pedulian masyarakat Indonesia
yang sudah berdiam diluar negeri atas ketidak sediaannya mereka dalam
menanda
tangani petisi untuk dikirim ke High Commision of Human Rights di PBB, (Mary

Robinson), serta UNHCR, saat beliau memohon umat dari salah satu gereja ICC
di
Perth (Australia) yang jemaatnya banyak berasal dari Indonesia. "Malah
orang bule yang spontan mau menandatangani, sunggih suatu ironi", ujarnya.
Petisi itu akhirnya membuahkan hasil, yaitu dengan diutusnya Radhika
Coomaraswamy
datang ke Indonesia untuk menyelidiki kejadian tersebut
Perjuangan Esther Jusuf S.H. dari Solidaritas Nusa dan Bangsa patut didukung

seluruh masyarakat. Baru-baru ini SNB baru meluncurkan buku tentang
kerusuhan Mei'98 di Jakarta, inipun sempat ditentang oleh beberapa anggota
TGPF
sendiri yang berindikasi menghapus kejadian tersebut. Sedangkan data dari
TGPF
yang asli yang disimpan di kantor pemerintah sudah hilang. Maka tidak ada
jalan
lain Esther Jusuf dkk. berinisiatif segera meluncurkan buku kerusuhan Mei'98

itu. Rencananya buku-buku itu akan disebarluaskan dalam berbagai bahasa.
Usaha ini jelas memerlukan biaya yang tidak sedikit, untuk itu dalam nota
pesanan
Esther Jusuf kepada masyarakat agar bahu membahu dalam pelaksanaan misi ini.

Menurut Martinus, seiring dengan di "munirkannya" tokoh HAM Munir, maka
Romo Sandyawan sementara ini kabarnya diamankan oleh ordo Jesuit, hal ini
membahayakan diri Esther Jusuf yang harus berjuang sendiri dengan SNB nya.
Jonathan Goeij, selaku moderator dan co speaker membeberkan secuplik
data-data temuan TGPF yang menunjukan begitu banyaknya titik api yang
dicatat dalam
peta DKI Jaya , belum lagi wilayah lainnya yang tidak sempat di tahyangkan
karena keterbatasan waktu.
Masalah undang-undang kewarganegaraan dan SBKRI, saat itu yang dipakai
adalah UU dari tahun 1958, UU ini dibuat dengan mengacu UUD sementara tahun
1950,
padahal UUD sementara 1950 sudah dicabut , jadi sebenarnya UU tahun 1958
mengenai kewarganegaraan seharusnya tidak berdasar lagi saat UUD sementara
1950
dicabut.
Suara dari Komentator:
Mengungkap dan mengadili pelaku kerusuhan Mei '98 adalah merupakan
perjuangan kolektif semua, mengapa tidak? Jika suatu negara belum jelas
hukumnya dan
keamanannya bagaimana mungkin bisa meyakinkan masuknya investasi global,
bagaimana mungkin mempunyai perputaran ekonomi yang optimal, dan pada
gilirannya
bagaimana mungkin menjamin kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu
perjuangan
ini bukan semata PR sekelompok etnis saja melainkan harus merupakan
perjuangan kolektif rakyat Indonesia. Selama semuanya tidak berjalan
transparan
dikhawatirkan ada kemungkinan investor yang berani masuk ke Indonesia hanya
merupakan deal-deal antara investor spekulan dan kelompok koruptor saja,
yang
pada akhirnya membebani hutang kepada anak cucu kita lagi.
Memang tidak semua orang mampu membantu perjuangan ini entah dengan waktu
tenaga dan dana, tapi setidaknya dengan menghadiri acara peringatan semacam
ini
menunjukan kepedulian anda terhadap solidaritas perjuangan, demikian ...

read more »


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Skalaras  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 22 2007, 8:47 am
From: "Skalaras" <skala...@cbn.net.id>
Date: Tue, 22 May 2007 19:47:05 +0700
Local: Tues, May 22 2007 8:47 am
Subject: Re: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Kalau banyak non Tionghoa yang mati, itu adalah ekses, karena mereka terjebak dalam pertokoan yang terbakar, sedangkan sasaran utamanya adalah tetap rumah2 dan pertokoan milik Orang Tionghoa. ini harus dibedakan.

ini adalah manuver politik tingkat tinggi yang mendompleng sentimen rasial. saat menggerakkan massa untuk membakar dan memperkosa, slogan yang didenguingkan tetap ganyang Cina! warna rasial tetap saja tak bisa dihapus. Namun perlu ditegaskan, walau sasarannya adalah Tionghoa, ini bukanlah kerusuhan rasialis spontan, tapi direkayasa dan dikondisikan ( untuk melibakan masyarakat kelas bawah yang hidupnya tertekan ), maka seluruh anggota masyarakat yang sadar harus melawan,  jangan mau dikambing hitamkan.


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
ChanCT  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 22 2007, 9:12 am
From: "ChanCT" <SA...@netvigator.com>
Date: Tue, 22 May 2007 21:12:04 +0800
Local: Tues, May 22 2007 9:12 am
Subject: Re: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Benar neng Uli, yang perlu digaris-bawahi Tragedi Mei '98 adalah tragedi
nasional, tragedi bagi seluruh bangsa Indonesia, karena kelompok etnis
Tionghoa adalah juga bagian integral yang tak terpisahkan dari bangsa
Indonesia. Apalagi yang jadi korban dan dirugikan kenyataan juga tidak hanya
Tionghoa, ...

Bahwa tujuan dari para elite yang jadi dalang kerusuhan Mei adalah
menggulingkan kekuasaan Soeharto itu bisa saja, tapi juga tidak bisa
disangkal kenyataan yang dijadikan tumbal adalah kelompok Tionghoa, yang
lebih disasar untuk dirusak, dirampas, dirampok dan dibakar adalah
harta-milik yang Tionghoa, yang banyak diperkosa adalah kaum perempuan
Tionghoa, ...

Tak perlu ditekankan ras atau etnis mana yang lebih banyak jatuh korban,
yang jelas dan pasti semua korban-korban kerusuhan itu adalah warga
Indonesia yang harta dan jiwa-nya harus dilindungi oleh aparat keamanan.
Ternyata dihari-hari pertama kerusuhan tidak ada aparat keamanan yang turun
kelapangan untuk menghalau perusuh, dan melindungi keamanan rumah-toko
Tionghoa, ...

Jadi, penekanan untuk mengangkat kembali Tragedi Mei '98 itu, bukan
mempermasalahkan apakah Tragedi Mei itu kerusuhan rasial anti-Tionghoa atau
Tragedi Nasional, tapi harus menuntut pada Pemerintah mentuntaskan Tragedi
Mei '98 ini. Mengusut dan menuyeret kedepan pengadilan dalang kerusuhan.
Apapun latar-belakang dan tujuan menggerakkan sekelompok massa untuk
melancarkan kerusuhan patut ditindak HUKUM.

Kenapa setelah lewat 9 tahun pertanyaan-pertanyaan yang diajukan neng Uli
belum juga terjawab tuntas? Apa kerja aparat keamanan selama ini? Atau
karena yang mendalangi melibatkan pejabat tinggi yang tak terjamah HUKUM?
Jadi semua pelanggaran HAM, besar dan kecil juga tidak ada yang bisa diusut
tuntas dinegeri ini?

Salam,
ChanCT

...

read more »


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Others  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 22 2007, 9:50 am
From: "Others" <oth...@softwareinovasi.com>
Date: Tue, 22 May 2007 20:50:31 +0700
Local: Tues, May 22 2007 9:50 am
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Tulisan anda klise banget.

Cengeng?
Hm...Pemilihan kata yang kasar sekali, mengingat betapa besar penderitaan
para korban kerusuhan tersebut. Ente sama sekali tidak menunjukkan simpati.
Lalu, sebenarnya siapa sih yang Ente sebut sebagai "cengeng" itu?
Para korban? Atau orang-orang yang bersimpati pada korban?

Menurut saya, seandainya para korban membaca tulisan anda, hati mereka
akan tergetar dan menangis. Mereka tidak mendapatkan keadilan (atau
bolehlah saya berkata "Belum"). Tetapi penderitaan mereka sudah harus
"ditutup" atas nama "Masa Lalu".

Ente jangan lupa, masa lalu yang kelam yang tidak tuntas akan terbawa
terus ke masa depan. Menjadi beban yang semakin lama semakin berat.
Jika kita berjalan kedepan dengan membawa beban yang berat, seberapa
jauh kita bisa berjalan?

Cape deh...

  _____  

From: budaya_tiong...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of Ulysee
Sent: Selasa, Mei, 22 2007 17:07
To: budaya_tiong...@yahoogroups.com
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Kalau BISA dibuktikan tentu sekarang sudah diangkut ke forum
Internasional donk.

Tapi mengerucutkan kerusuhan Mei 98 menjadi kerusuhan rasial itu lebih
"merugikan" daripada "menguntungkan" semua pihak.

Lebih baik menerima tragedi MEI 98 itu sebagai tragedi Bangsa, dan
memperjuangkan hak-ham manusia sebagai warganegara, dimana negara
berkewajiban melindungi penduduknya dan warganegaranya tanpa kecuali.
Lebih besar potensi untuk kerjasama dengan banyak pihak, menuntut
serentak bersama sama.

Daripada cengeng berteriak kerusuhan rasial melulu, gak ada juntrungan!

There-there!


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Akhmad Bukhari Saleh  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 22 2007, 11:32 pm
From: "Akhmad Bukhari Saleh" <absa...@indo.net.id>
Date: Wed, 23 May 2007 10:32:19 +0700
Local: Tues, May 22 2007 11:32 pm
Subject: Re: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

- - - - - - - - - - - -

Pandangan Ul-djie ini tepat.
Ketika dua minggu yang lalu di milis ini mulai muncul 'nyinyir annual' soal
kasus Mei '98 ("nyinyir"-nya pinjam istilahnya Khouw kouwnio) , saya
forward-kan  posting Yap Hong Gie, maksudnya juga mengemukakan hal yang
sama.

Menyempitkan kasus Mei '98 menjadi kasus etnis Tionghoa, seperti kata
Hong Gie, hanya akan merugikan kaum Tionghoa sendiri.
Dan hanya memberikan kemudahan bagi radikalis seperti Fadly Zon dan
elemen-elemen di belakangnya, untuk merekayasa teori-teori absurd-nya,
sebagaimana yang diperlihatkannya di talkshow TV itu, bagi menutupi
penguakan tabir kasus tragedi ini.

Tetapi perlu ada catatan bagi pandangan Ul-djie ini.
Kerusuhan Mei '98 bukanlah ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan
atau kekuasaan. Tetapi justru suatu kerusuhan yang direkayasa untuk
mempertahankan kekuasaan!
Taktik ini, controlled upheaval, sudah berkali-kali dilakukan, sejak Malari,
Lapangan Banteng, Pembajakan Woyla, Bom BCA, Bom Stupa
Borobudur, GAM Aceh pra DOM, dan selalu berhasil. Karena itu OrBa
ketagihan untuk melakukannya lagi ketika kekuasaannya tererosi parah saat
itu
Namun ketika dilakukan lagi di tahun '98 itu, segala sesuatunya melebar
keluar kontrol, karena kondisi ekonomi masyarakat yang sangat parah
akibat kris-mon.

Wasalam.


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Ulysee  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 22 2007, 11:48 pm
From: "Ulysee" <ulysee_...@yahoo.com.sg>
Date: Wed, 23 May 2007 10:48:19 +0700
Local: Tues, May 22 2007 11:48 pm
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Hehehehe, baru dibilang cengeng aja udah sengit.

CENGENG Itu kalu teriak RASIAL-RASIAL melulu! Seperti kamu. Weks!

Masa lalu bisa jadi beban, kalau dianggap sebagai beban,
yang digembol terus terusan tidak mau dilepaskan.
Beban itu bisa  dilepaskan, kalau mau melihat jauh ke depan,
Dan masalalu sebagai pembelajaran, bukan sekedar beban.

Nah, kalau mau melangkah, pertama-tama lepasin beban "rasial" itu dulu.

Kenapa kata "rasial" itu gue anggap beban?
Sebab selama di kepala membawa-bawa " rasial"
Ini masalah nggak akan bisa maju kemana-mana.

Akan mandek karena memaksakan isu "kerusuhan rasial"
Mencari cari pembenaran atas nama rasial
Yang akan dengan mudah dipatahkan orang.

Itu, makanya gue anggap beban, tau kaga!


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
greysia susilo junus  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 23 2007, 12:36 am
From: greysia susilo junus <greysiagrey...@yahoo.com>
Date: Tue, 22 May 2007 21:36:05 -0700 (PDT)
Local: Wed, May 23 2007 12:36 am
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Betul kata Herny-moay.... kalo kita tidak jor-joran mengenai etnik sendiri... maka kita akan hidup lebih mudah dimanapun. meminimalisasi perbedaan merupakan strategi yang simpel. kalo memang merasa berbeda, cukup keep on the mind, not in the behavior.

saya pribadi masih belum bisa menerima 100% akulturasi budaya tionghoa ke budaya lokal (aduh saya ga tau ini istilahnya tepat apa ga ya... ato lebih tepat asimilasi). saya masih menganggap pelestarian budaya saya lebih penting daripada (misalnya) keselamatan saya karena diancam mati kalo masih kekeuh memegang adat. tapi, saya keep that in mind, dan tidak menekan behavior saya ke arah itu. saya tetap mau selamat juga kan.... semampu saya... that's the part of survival in this world.

Setiap kali saya mendengar jor-joran imlek di hotel mewah, dihadiri presiden, tarian liong dimana mana, bahkan ada yang memanipulasi barongsai untuk mengamen di restoran2 pinggir jalan, saya lebih suka keadaan dimana orang tionghoa masih direpresi..... dengan kebebasan ini, rasanya lebih gamang. Sangatlah normal secara psikologi dimana kita merasakan represi kita akan bersatu, tapi begitu ikatan itu longgar.... kita malah tercerai berai.

Apalagi saya sangat tidak suka dengan membanjirnya budaya-budaya "baru" dari RRC yang sekarang ini dibawa kembali ke Indonesia dengan label inilah budaya Tionghoa, kita 'dipaksa' harus menyamakan level kita yang lebih tradisional (dan sudah ada elemen percampuran dengan budaya setempat), dengan budaya RRC atau Taiwan yang sekarang. Bangunan klenteng kita yang unik dan tidak ada lagi di RRC dipugar, dibongkar, dan dibikin semirip mungkin dengan bentuk kuil2 di Taiwan atau RRC.... idih, kayak orang ga punya ktp aje, harus minjem ktp orang lain.

Patung-patung Buddha kuno yang kita miliki di klenteng-klenteng, digeser dengan patung-patung made in Taiwan.... busyet deh... kita ini makanan empuk bagi pebisnis2 RRC ama Taiwan.
Toh, pada akhirnya, tiap kali kita 'pulang kampung' ke Cina sana, kita tetap diberi identitas "orang luar". saya rasa sebagian besar orang RRC sekarang masih menganggap orang Tionghoa Indonesia sebagai mangsa empuk yang sangat konsumtif, banyak duit, dan rela mengeluarkan duit berapa saja asal diterima sebagai 'saudara dekat' mereka. orang Taiwan malah cuma menganggap orang Tionghoa Indonesia entah sebagai tempat mencari 'istri' yang rajin dan bisa mengemong anak dan tidak matre (alias gampang dikibulin), atau calon pembantu rumah tangga, ato yang kaya - investor karena anaknya banyak yang disekolahkan disana untuk blajar mandarin.

some of us will do anything to be accepted by their standard................. pathetic...


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Azura-Mazda  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 23 2007, 12:40 am
From: Azura-Mazda <Extrim_blue...@yahoo.com>
Date: Tue, 22 May 2007 21:40:32 -0700 (PDT)
Local: Wed, May 23 2007 12:40 am
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Hello Ulysee,

  numpang tanya ya. itu pernyataan
"bahwa kerusuhan MEI 98 adalah
kerusuhan yang ditujukan untuk
menggulingkan pemerintahan" dapet analisa
dari mana?! indikasinya apa? dan
oleh siapa?!

  dan itu, pernyataan "bahwa kebanyakan
korban jiwa BUKAN dari suku Tionghoa"
dapet data dari mana? ELo riset sendiri?!
saya tidak dapet berapa korban "jiwa"
Tionghoa. saya cuma dapet data korban
dari TGPF.  

  Nih, hasil laporan TGPF. baca ya, gua
lampiran paragrafnya:

  "Kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei
1998 terjadi di dalam rumah, di jalan dan
di tempat usaha. Mayoritas kekerasan
seksual terjadi di dalam rumah/bangunan.
TGPF juga menemukan bahwa sebagian besar
kasus perkosaan adalah gang rape, di mana
korban diperkosa oleh sejumlah orang
secara bergantian pada waktu yang sama
dan di tempat yang sama. Kebanyakan
kasus perkosaan juga dilakukan di hadapan
orang lain. Meskipun korban kekerasan
seksual tidak semuanya berasal dari etnis
Cina, namun sebagian besar kasus kekerasan
seksual dalam kerusuhan Mei l998 lalu d
iderita oleh perempuan dari etnis Cina.
Korban kekerasan seksual ini pun
bersifat lintas kelas sosial."

  ada lagi nih laporan TGPF:

  1. Kerugian Material:
Adalah kerugian bangunan, seperti
toko, swalayan, atau rumah yang dirusak,
termasuk harta benda berupa mobil, sepeda
motor, barang-barang dagangan dan barang-barang
lainnya yang dijarah dan/atau dibakar massa.
Temuan tim menunjukkan bahwa korban material
ini bersifat lintas kelas sosial, tidak
hanya menirnpa etnis Cina, tetapi juga warga
lainnya. Namun yang paling banyak menderita
kerugian material adalah dari etnis Cina.

  TAPI menarik sekali pernyataan ULysee tentang
Kerusuhan MEI 98 adalah kerusuhan yang
ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan.
  ajaib, bisa jabarkan lebih dalam?!

  ini diskusi kita tentang Kerusuhan Mei 98
yang belum sampe tuntas di milis Komunitas
Tionghoa beberapa waktu yang lalu. sayangnya,
gue gak pernah dapet alasan/argumen dari
Ulysee yang selalu mengatakan bahwa
kerusuhan Mei 98 adalah kerusuhan untuk
menggulingkan pemerintah Orde Baru:

extrim_blue...@yahoo.com wrote:

Dear Ulysee yang baik,

whooa...kamu baik deh udah mensistematiskan tulisan saya. thanks lho. bacanya jadi lebih ringkas dan padat. kamu hebat bisa meringkas sedemikian rupa. bener-bener tipe sequel kongkrit. gak kayak gua yang random abstrak.

mari kita analisa lebih jauh tentang Mei 98. peristiwa bandung nanti saja kita bahas. tapi sekedar info singkat, Soekarno menangkap beberapa pelaku aksi rasialis. diantaranya Muslimin Nasution dan Siswono Yudohusodo. baru dilepas saat Harto berkuasa dan Bung Karno jatuh.

siapakah kelompok yang menginginkan Harto jatuh?

1. Muslim radikal golongan Tanjung Priok.
2. Pro-Demokrasi.
3. USA4. Mahasiswa
5. CSIS
6. sebagian tentara
7. masyrakat madani
8. NGO9. Kalangan bisnis
10. rakyat miskin yang semakin miskin karena anak-anak Harto mulai ganas.

siapakah pendukung Harto?
1. ICMI
2. Islam binaan harto
3. sebagian faksi militer
4. keluarga cendana
5. pebisnis sekitar keluarga cendana.
6. Kroni yang diuntungkan harto dan sama berdosanya dengan cendana

siapa yang paling diuntungkan dengan kejatuhan Harto:
1. Habibi
2. ICMI

analisa liar saya begini:

USA merupakan otak dibalik kejatuhan Soekarno dan kenaikan Harto. sepanjang karirnya, Harto selalu diback up oleh USA dan IGGI. ngutang kerjaannya plus bunuhi rakyatnya sendiri.

di Mei 98, USA beri order dan warning bahwa Harto harus mundur.

kelompok-kelompok anti Harto menyambut ini dengan baik. sekalipun, di antara kelompok-kelompok itu ada yang anti USA juga tetapi pada saat itu keinginan USA bertemu dengan kepentingan kalangan anti harto.

kalangan Tanjung Priok anti USA, tapi tetap sambut warning USA untuk jatuhkan Harto. Gus Dur jelas anti USA, begitu juga dengan beberapa mahasiswa radikal anti USA.

Habibie yang sebenarnya boneka Harto melihat tawaran USA ini sebagai kesempatan dia untuk jadi presiden. apalagi saat Harto bikin Habibie sakit hati dengan statemen Pak Harto yang meragukan kualitas Habibie untuk jadi presiden. ICMI mengira kalao Habibie bisa jadi presiden maka kekuasaan mereka akan tambah besar.

sebagai boss besar, USA cuma perlu kasih satu statemen. anak buah berlomba-lomba berkreatifitas untuk memenuhi tuntutan boss.

persis sama ketika Harto berkuasa. doi cuma bilang "bereskan". lantas si Kopassus menerjemahkan "bereskan" itu bisa jadi bunuh, perkosa, babat, karungin dsb.

kalangan pro dem dan mahasiswa menekan dengan pengumpulan massa. Harto mulai basa-basi ketika di luar negeri. rencananya akan mundur sekitar tanggal 28 Mei. karena Harto udah ngitung kalo dia gak bakalan bisa bertahan lama. ketika kabinet reformasi dagelan a la Harto dilaunching malah disambut dengan mundurnya beberapa menteri anak buah paling loyal harto.

TNI pun terbelah. kekuataan harto makin lemes aja.

Wiranto dan SBY saat itu berpihak ke Habibie. menurut konstitusi, kalo presiden mundur makan wapres akan naik. Habibie kegirangan. tetapi untuk make-sure, ditembaklah mahasiswa agar tekanan mahasiswa lebih menghebat meminta Harto untuk segera mundur. nah, menurut dugaan, yang tembak mahasiswa itu adalah anak buah Safri Samsudin. tanggal 14, Wiranto perintahkan Safrie untuk mengamankan ibukota. artinya menghadang Prabowo. tanggal 15 kerusuhan mulai redah.

seingat saya, saat jadi aktivis mahasiswa, solidaritas antar mahasiswa sangat teguh. apalagi saat itu. penembakan trisakti akan memicu gelombang aksi yang lebih massif lagi. dukungan rakyat untuk memukul Harto akan lebih hebat setelah ada mahasiswa yang mati.

lantas Prabowo ambil inisiatif untuk mengalihkan amukan massa setelah mahasiswa ditembak mati dengan membuat kerusuhan anti-tenglang. agar fokus masyarakat bisa pecah yaitu antara pukul Harto dan sikat Tenglang.

Prabowo salah itung. makanya sewaktu menghadap ke Cendana, Prabowo malah diomelin oleh Harto, Tutut dsb. lantas Prabowo nangis-nangis ke Gus DUr.

Harto tau dia harus turun. kalo semakin banyak korban maka dia gak bisa pensiun dengan tenang. makanya dia omelin Prabowo. Harto tadinya udah mau main gila dengan meniru Tiananmen. Kivlan Zen udah ngancem Amien Rais untuk membatalkan aksi sejuta umat di lapangan banteng. Amien berhitung. lalu aksi itu gak jadi. tapi seterusnya, USA tetap ngotot bahwa Harto harus mundur. Harto gak bisa lawan USA.

Harto tidak punya cantelan internasional. satu-satunya pegangan bagi dia ya USA itu. Harto anti RRT dan Rusia. kalo saja harto baik dengan RRT dan Rusia maka sudah pasti RRT dan Rusia bisa bela dia lawan USA. nyatanya Harto konyol selama berkuasa. jadinya mati kutu juga lawan USA.

semua aktor punya dosa. kenapa Wiranto berusaha tutup Prabowo dan sebaliknya? karena kedua-duanya pegang kartu masing-masing. begitu juga dengan habibie.

kalangan bisnis yang sakit hati melihat kelakuan anak-anak Cendana juga menghendaki harto turun. maka lengkaplah sudah apa yang dibutuhkan untuk menjatuhkan rezim Harto yang ganas itu.

--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Ulysee" <ulysee_me2@...> wrote:

---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! FareChase.

[Non-text portions of this message have been removed]


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Ulysee  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 23 2007, 12:58 am
From: "Ulysee" <ulysee_...@yahoo.com.sg>
Date: Wed, 23 May 2007 11:58:40 +0700
Local: Wed, May 23 2007 12:58 am
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Bagaimana kalau sebaliknya?

Bahwa sasaran utama adalah membakar pertokoan
Sementara kalau ada pertokoan dan rumah cina yang kena, itu  adalah
EKSES karena mereka tokonya ada di jalan besar atau perumahan yang
dilewati massa.

Ya, ini adalah manuver politik tingkat tinggi, saat menggerakkan massa
untuk menggulingkan penguasa
Isu sentimen rasial yang dijadikan sebagai tabirnya.

Kenapa?
Saat mau menggulingkan penguasa, orang bisa melihat, siapa siapa saja
yang PUNYA KEPENTINGAN untuk menggulingkan penguasa.
Tapi saat mendengungkan isu sentimen rasial, maka SIAPA yang punya
kepentingan untuk menggerakkan massa menjadi TIDAK JELAS.

Kerusuhan yang direkayasa? YA, ada fakta yang bis amenguatkan
Kerusuhan yang dikondisikan?? YA, ada kondisi yang bisa dibeberkan.

Kerusuhan rasialis terencana???? Ntar dulu. Kumpulin bukti dulu yang
bisa menguatkan donk.

Bisa bilang orang lain jangan mau dikambing hitamkan, lebih-lebih jangan
mau juga menyiapkan diri sendiri jadi kambing hitam donk.

Menerima, bahwa tragedi MEI 98 sebagai kerusuhan rasial,
Sama aja merelakan diri sendiri jadi scapegoat.

Begitu ada rusuh, buru-buru aja di-isu kan kerusuhan rasial,
maka akan berhenti sampai disitu, nggak bisa diselidiki lebih lanjut
menurut sejarah yang pernah gue baca, kerusuhan rasial enggak ada
penyelesaiannya.
Apalagi sampai ke pengadilan.

Maka membernarkan kerusuhan rasial = mengkambinghitamkan tionghoa.
Gue sih gak rela!


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Ulysee  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 23 2007, 1:31 am
From: "Ulysee" <ulysee_...@yahoo.com.sg>
Date: Wed, 23 May 2007 12:31:39 +0700
Local: Wed, May 23 2007 1:31 am
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Nahhh ini baru menarik,

Loocianpwee, selama ini gue berteori bahwa yang bikin kerusuhan itu yang
mau menggulingkan kekuasaan.
Kalau teori kebalikan bahwa yang bikin kerusuhan itu yang mau
mempertahankan itu gimana ya?

Gue cuman pernah baca dari catatan hariannya Soe Hok Gie,
bahwa pemerintah yang berkuasa jaman itu mau mengusahakan supaya demo
mahasiswa disusupi orang-orangnya, pada saat lewat di GLODOK,
supaya ntar jadi isu kerusuhan rasial, lalu mahasiswa yang jadi kambing
itemnya,
 tapi waktu itu tidak berhasil lantaran mahasiswa dapet bocoran.
Jadi demo nya ngga jadi ke KOTA tapi ke arah tanggerang terus bakar SPBU
nya pertamina gitu kalu ga salah.

Cerita dunks, waktu Malari gimana?
Di lapangan Banteng kayak apa?
Pembajakan Woyla juga gue baru denger sekarang, ntar gue google ah.
Bom Stupa Borobudur bisa mempertahankan kekuasaan? Gemana tuh ceritanya
tuh? Kayaknya seru tuh.
Kerusuhan yang direkayasa untuk mempertahankan kekuasaan itu pegimana
teorinya?


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Others  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 23 2007, 1:24 am
From: "Others" <oth...@softwareinovasi.com>
Date: Wed, 23 May 2007 12:24:35 +0700
Local: Wed, May 23 2007 1:24 am
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Wuah...

Ternyata ngga guna deh debat ama ente. Ngga baca email saya dengan baik
lagi. Kapan saya
pernah TERIAK-TERIAK kalau ini adalah kerusuhan rasial? Gimana sih...Ente
nuduh sembarangan aje.
Kalau kehabisan argumen ya jangan begitu donk caranya...

Awalnya, kupikir gue bisa "memancing" counter-argumen anda yang menarik.
Statement ente
teoritis sekali, sok diplomatis dan keliatannya OK tapi implementasi dari
ente punya statement ga
bakalan ada yang bisa melakukan, apalagi korban.

Emang gampang buang beban dari masa lalu yang kelam? Hehe....Kalo ente jadi
korban,
gue pikir, ente ngga bakalan berani omong kayak begini, enteng banget kayak
ga ada beban.

Kalau mau nulis flame email ya ngga papa, sah-sah aja, cuman yang bagus
dong.
(Wih...bakal ente counter deh, dengan berkata, "emang tulisan loe bagus,
bung others?". Hehehe...).
Aturan dalam berdebat adalah, "Attack the argument, not the person.".
Because when you do, it is
considered as a personal attack. Be warned.

Gue pikir, isu rasial menjadi mencuat salah satunya akibat adanya
gang-raped, mengingat korbannya
adalah gadis-gadis etnis tionghua. Mengapa kok yang kena gadis2 tersebut?
Hal ini kemudian diperkuat
dengan posting salah seorang member disini yang berisi laporan dari UN.
Misfortune inilah yang membuat
orang-orang bereaksi spontan, mendapatkan justifikasi bahwa kerusuhan
tersebut "berbau rasial".
Dengan kata lain, "Ngono yo ngono mung ojo ngono.".

Sampai sekarang, kasus ini kan gelap, mirip "kentut", you cannot see but you
can smell.
Who did it? No one know.

Just another my "flame" emails for today...

  _____  

From: budaya_tiong...@yahoogroups.com
[mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of Ulysee
Sent: Rabu, Mei, 23 2007 10:48
To: budaya_tiong...@yahoogroups.com
Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Hehehehe, baru dibilang cengeng aja udah sengit.

CENGENG Itu kalu teriak RASIAL-RASIAL melulu! Seperti kamu. Weks!

Masa lalu bisa jadi beban, kalau dianggap sebagai beban,
yang digembol terus terusan tidak mau dilepaskan.
Beban itu bisa dilepaskan, kalau mau melihat jauh ke depan,
Dan masalalu sebagai pembelajaran, bukan sekedar beban.

Nah, kalau mau melangkah, pertama-tama lepasin beban "rasial" itu dulu.

Kenapa kata "rasial" itu gue anggap beban?
Sebab selama di kepala membawa-bawa " rasial"
Ini masalah nggak akan bisa maju kemana-mana.

Akan mandek karena memaksakan isu "kerusuhan rasial"
Mencari cari pembenaran atas nama rasial
Yang akan dengan mudah dipatahkan orang.

Itu, makanya gue anggap beban, tau kaga!


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Discussion subject changed to "Peringatan Tragedi Mei 98 ulah Soeharto" by extrim_bluesky
extrim_bluesky  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 23 2007, 1:56 am
From: "extrim_bluesky" <Extrim_blue...@yahoo.com>
Date: Wed, 23 May 2007 05:56:59 -0000
Local: Wed, May 23 2007 1:56 am
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 ulah Soeharto

Dear Ulysee yb,

saya kira kerusuhan Mei 98 adalah Ulah
Soeharto untuk mempertahankan kekuasaannya.
seperti yang dikatakan AHmad Bukhari
Saleh, saya setuju. Harto berkali-kali
menggunakan manuver sejenis untuk mempertahankan
kekuasaannya. sejarah juga mencatat rangkaian
kerusuhan rasialis yang pernah terjadi di RI.

Di bulan Mei 1963, terjadi kerusuhan anti-tenglang
di Bandung. kerusuhan dimotori oleh mahasiswa-mahasiswa
ITB. beberapa pendapat mengatakan bahwa Masyumi
dan PSI berada dibalik gerakan mahasiswa ITB.

berpuluh tahun kemudian, file CIA dibuka. Amerika
membuka perannya dalam gerakan anti-tenglang 63 di
Bandung. yaitu sebagai konseptor, perancang skenario
mungkin juga sebagai penyandang dana. sedangkan
eksekutornya adalah adalah mahasiswa ITB pro Masyumi
dan PSI, kedua partai yang baru saja dibubarkan oleh
Soekarno karena terlibat pemberontakan PRRI/Permesta.

lalu terjadi kerusuhan serupa di tahun 98
dibulan yang sama. Dr. Syahrir menyebut kerusuhan
Mei 98 sebagai kerusuhan dengan intensitas
kekejian lebih hebat dibandingkan kerusuhan
anti-tenglang di Bandung 63.

seribu lebih orang mati. 200 perempuan tionghoa
diperkosa rame-rame. rumah-rumah tenglang dibakar.
toko-toko tenglang dirampok sekaligus dibakar.
di toko dan rumah pribumi tertulis "MILIK PRIBUMI"
atau "MILIK HAJI PRIBUMI".

sampai saat ini, tidak ada satu pun penjahat
pelaku kerusuhan ditangkap. let alone diadili.
otak dari kerusuhan tak pernah diketahui. tidak
ada satu pun jenderal yang mengundurkan diri
karena tidak mampu menjaga keamanan ibukota dan
negara. hanya Jenderal Prabowo yang dicopot
oleh Habibie.

beberapa kalangan menuduh USA sebagai dalang.
sekalipun tanpa alur yang jelas apalagi bukti-bukti
tertulis dan pengakuan dari pejabat inteligen
atau kedutaan USA.

orang-orang ini hendak menyalahkan pihak asing
sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab
terhadap kerusuhan anti-tenglang. sepenuhnya
mengabaikan dan bersikap apologetik terhadap
para eksekutor pribumi yang menjalankan aksi
anarkis. dengan pembelaan bahwa para eksekutor
itu hanyalah pion-pion. padahal, dalam kasus
korupsi yang melibatkan banyak tingkatan jabatan
maka si pejabat paling rendah tetap akan diseret
ke meja hijau untuk mempertanggung jawabkan
perbuatan jahatnya. setelah itu, pejabat
lebih tinggi dan terus sampai puncak yang
paling bertanggung jawab atas perbuatan korupsi.

logika yang sama harusnya diterapkan untuk
kerusuhan yang lebih keji seperti kerusuhan
Mei 98.

saya mengira JENDERAL PRABOWO adalah pihak yang
paling punya kemungkinan untuk berperan sebagai
otak dibalik kerusuhan Mei 98.

USA memang berperan sangat penting dalam usaha
mendongkel Soeharto. dibantu oleh CSIS dan
kalangan pro demokrasi. mahasiswa adalah pion-pion
yang digunakan sebagai pressure force. tetapi
gugatan agar Soeharto mundur berbeda dengan
gerakan bakar-bakaran dan rampok-rampokan di Mei 98.

Prabowo MUNGKIN punya pikiran bahwa untuk
meredam demonstrasi mahasiswa yang meminta
Pak Harto mundur dengan menciptakan chaos.
agar pihak militer punya alasan untuk menerapkan
situasi darurat perang atau SOB. dipilihlah
Tenglang sebagai korban. karena Tenglang
tidak pernah dianggap sebagai bagian dari
masyarakat "pribumi" dan tidak memiliki pasukan
paramiliter dan senjata untuk melawan.

apabila SOB ini keluar, maka Harto atau
Prabowo atau pihak-pihak militer akan punya
otoritas membungkam mahasiswa, menangkap
tokoh-tokoh pro-demokrasi spt Gus Dur,
Megawati, Amien Rais dsb. sehingga selamatlah
kekuasaan Pak Harto dari gugatan-gugatan
dan arus demokrasi pada saat itu.

tetapi skenario penyelamatan kekuasaan
Orde Baru ini ternyata gagal. entah bagaimana
caranya tetapi ternyata Pak Harto tetap
berhasil dijatuhkan. nah, sebab kegagalan upaya
mengeluarkan SOB itu harus dicari.

indikasi adanya usaha menyelamatkan diri
dari Pak Harto dapat ditemukan lewat
pengakuan Jenderal Wiranto yang mengaku
diinstruksikan oleh Pak Harto untuk
membentuk suatu badan keamanan a la
KOPKAMTIB di saat pak Harto hendak membantai
orang-orang PKI dan pengikut Soekarno.

kelompok pro-demokrasi yang didukung
oleh USA tidak memiliki motif mengembangkan
kerusuhan anti-tenglang guna mendongkel
Pak Harto. kekuataan mahasiswa yang
berhasil menduduki gedung DPR/MPR sudah
cukup untuk membuat pak Harto jatuh
dari kursi kekuasaan.

tanpa adanya kerusuhan anti-tenglang
Mei 98, Pak Harto tetap akan jatuh
apabila mahasiswa dan tokoh-tokoh publik
seperti gus dur, amien rais, megawati,
Cak Nur dsb tetap melakukan demonstrasi
yang berakibat pada berhentinya
kegiatan ekonomi negara.

kalau sudah begini, buat apalagi
mahasiswa, kalangan pro demokrasi
dan USA melancarkan sebuah kerusuhan
anti-tenglang dengan korban sedemikian
besar dan hanya mencoreng nama baik
dan martabat NKRI di mata internasional???

para mahasiswa dan para tokoh masyarakat
itu mencintai Indonesia. mereka tidak
akan melakukan sesuatu yang bisa mencoreng
nama baik Indonesia di mata internasional.
justeru mereka memandang Pak Harto dan
rezimnya telah mencoreng nama baik Indonesia
di mata internasional. Pak Harto sudah
dikenal sebagai seorang diktator kejam
di arena internasional saat itu.

demikian asumsi liar saya yang tidak
bisa dipertanggung jawabkan ini.

Kenken

--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Ulysee" <ulysee_me2@...>
wrote:


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Discussion subject changed to "Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles-->Mas Grey" by extrim_bluesky
extrim_bluesky  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 23 2007, 12:59 am
From: "extrim_bluesky" <Extrim_blue...@yahoo.com>
Date: Wed, 23 May 2007 04:59:40 -0000
Local: Wed, May 23 2007 12:59 am
Subject: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles-->Mas Grey

Mas Greysia yb,

saya tanya dikit ya:

1. kapan ada "pesta-imlek" jor-joran
di hotel mewah seperti yang pernah anda
dengar?!

2. ada apa dgn tarian Liong yang anda
katakan ada di mana-mana? gak bole ya?
di mana aja ada tarian Liong & Barong?
apa mereka mengganggu ketertiban umum?

3. Siapa yg "memaksa" kita menyamakan
level kita dgn budaya RRT & Taiwan?
memangnya apa aja bedanya? kan asal budaya
Tenglang kita itu dari Zhongquo.

4. Bangunan kelenteng kita yang unik dan
tidak ada lagi di RRT? itu artinya apa?
maksudnya apa?

5. Kapan ada kasus Bio dibongkar, dipugar
& dibuat semirip mungkin dgn bentuk kuil-kuil
di RRT & Taiwan. anda bisa sebut contoh
kasus & nama Bio-nya? harusnya gimana?
bentuk kuil "khas" Tionghoa di Indonesia
itu seperti apa?? apa gentengnya pake
anyaman daun kelapa spt atap istana pagar
ruyung??

6. banjir budaya "baru" dari RRT itu contohnya
apa toch Mas? saya ndak ngerti. apa aja sih
yang anda maksud dengan budaya "baru" dari RRT
itu??

7. patung-patung made in RRT?? apa aja? harus
beli di mana? apa di Tulungagung ada industri
kerajinan lempung, logam, kayu yang bikin patung
kongco, budha, kwan im, kwan kong dsb??

sori nih banyak tanya Mas Grey. tapi sungguh
saya gak ngerti deh. thanks..

best regards,
Kenken

--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, greysia susilo junus

<greysiagreysia@...> wrote:

> Betul kata Herny-moay.... kalo kita tidak jor-joran mengenai etnik

sendiri... maka kita akan hidup lebih mudah dimanapun.
meminimalisasi perbedaan merupakan strategi yang simpel. kalo memang
merasa berbeda, cukup keep on the mind, not in the behavior.

> saya pribadi masih belum bisa menerima 100% akulturasi budaya

tionghoa ke budaya lokal (aduh saya ga tau ini istilahnya tepat apa
ga ya... ato lebih tepat asimilasi). saya masih menganggap
pelestarian budaya saya lebih penting daripada (misalnya)
keselamatan saya karena diancam mati kalo masih kekeuh memegang
adat. tapi, saya keep that in mind, dan tidak menekan behavior saya
ke arah itu. saya tetap mau selamat juga kan.... semampu saya...
that's the part of survival in this world.

> Setiap kali saya mendengar jor-joran imlek di hotel mewah,

dihadiri presiden, tarian liong dimana mana, bahkan ada yang
memanipulasi barongsai untuk mengamen di restoran2 pinggir jalan,
saya lebih suka keadaan dimana orang tionghoa masih direpresi.....
dengan kebebasan ini, rasanya lebih gamang. Sangatlah normal secara
psikologi dimana kita merasakan represi kita akan bersatu, tapi
begitu ikatan itu longgar.... kita malah tercerai berai.

> Apalagi saya sangat tidak suka dengan membanjirnya budaya-

budaya "baru" dari RRC yang sekarang ini dibawa kembali ke Indonesia
dengan label inilah budaya Tionghoa, kita 'dipaksa' harus menyamakan
level kita yang lebih tradisional (dan sudah ada elemen percampuran
dengan budaya setempat), dengan budaya RRC atau Taiwan yang
sekarang. Bangunan klenteng kita yang unik dan tidak ada lagi di RRC
dipugar, dibongkar, dan dibikin semirip mungkin dengan bentuk kuil2
di Taiwan atau RRC.... idih, kayak orang ga punya ktp aje, harus
minjem ktp orang lain.

> Patung-patung Buddha kuno yang kita miliki di klenteng-klenteng,

digeser dengan patung-patung made in Taiwan.... busyet deh... kita
ini makanan empuk bagi pebisnis2 RRC ama Taiwan.
> Toh, pada akhirnya, tiap kali kita 'pulang kampung' ke Cina sana,

kita tetap diberi identitas "orang luar". saya rasa sebagian besar
orang RRC sekarang masih menganggap orang Tionghoa Indonesia sebagai
mangsa empuk yang sangat konsumtif, banyak duit, dan rela
mengeluarkan duit berapa saja asal diterima sebagai 'saudara dekat'
mereka. orang Taiwan malah cuma menganggap orang Tionghoa Indonesia
entah sebagai tempat mencari 'istri' yang rajin dan bisa mengemong
anak dan tidak matre (alias gampang dikibulin), atau calon pembantu
rumah tangga, ato yang kaya - investor karena anaknya banyak yang
disekolahkan disana untuk blajar mandarin.

> some of us will do anything to be accepted by their

standard................. pathetic...

_____________________________________________________________________
_______________Pinpoint customers who are looking for what you sell.


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
Messages 1 - 25 of 89   Newer >
« Back to Discussions « Newer topic     Older topic »

Create a group - Google Groups - Google Home - Terms of Service - Privacy Policy
©2010 Google