menarik analisa kamu yang mengatakan bahwa korban Tionghoa adalah "ekses" kerusuhan dan bukan target utama. saya mau tanya, tolong dijawab dengan lugas:
saat itu ada gerakan mahasiswa demonstran tuntut Harto mundur. siapa yang mau bunuh mahasiswa yang berdemo? siapa yang punya senjata? apakah ada tentara asing (USA) di jakarta saat itu? kelompok preman dan paramiliter spt PP, Pemuda Pancamarga dsb itu binaan tentara.
jadi siapa yang akan tembak dan bantai demontrans mahasiswa Trisakti?
Salah satu alasan USA dongkel Harto, menurut hemat saya, adalah KESERAKAHAN KELUARGA CENDANA dalam mengambil proyek-proyek bisnis para pebisnis dan bisnis Amerika.
Pasca jatuhnya Soviet Uni, peran Harto untuk menjadi "anjing-penjaga" komunisme berakhir sudah. USA tidak punya kepentingan lagi dengan Harto.
Harto mengerti benar cara-cara mendongkel penguasa. ia pernah melakukan itu saat mendongkel Soekarno. tetapi kondisi di Mei 98 berbeda. justeru dia menjadi objek yang hendak dijatuhkan.
tetapi siapa aktor lokal yang pegang senjata di Mei 98 seperti Harto di tahun 65?
kalau dulu, militer satu kata yaitu hancurkan PKI dan gerus Soekarno. tetapi di Mei 98, apakah konstelasi ABRI masih sama? apakah mungkin sipil bisa memiliki kemampuan kudeta seperti kemampuan militer??
asumsi liar saya: Harto pada awalnya berpikir untuk melawan. dia perintahkan Kivlan Zein membantai aksi sejuta umat apabila aksi itu jadi dibuat. lantas Harto tembak mahasiswa dan memerintahkan Prabowo untuk bantai Tenglang.
mengapa lantas gerakan hantam tenglang cuma 3 hari? dan mengapa selanjutnya harto bertekuk lutut? mengapa harto tidak melakukan gerakan dengan maksimal?
saya kira, Harto akhirnya menyadari bahwa kalao pun ia berhasil mempertahankan kekuasaan dengan korban begitu banyak mahasiswa, orang Tenglang dan matinya tokoh-tokoh reformasi tetap saja ia akan dikucilkan secara internasional.
Indonesia akan diembargo secara keras. suplai senjata akan dihentikan. atau bahkan Harto akan diserang oleh USA seperti perang Iraq. pada akhirnya Harto akan diadili dan digantung oleh pengadilan internasional.
plus, ternyata ABRI pecah. ABRI tidak solid mendukung Harto. terbukti dari pembangkangan Wiranto. lantas Habibie pun menohok Harto. makanya Harto sampai sekarang masih marah sama Habibie.
mayoritas kroni sipil berhianat. tinggalah harto dengan sedikit jenderal dan kroni paling setia. tetapi tidak signifikan lagi. makanya ia lengser keprabon dengan jaminan jenderal Wiranto yang akan melindungi harta dan keluarga semua mantan presiden RI.
Prabowo sebenarnya harapan terakhir Harto. dengan iming-iming bahwa Prabowo akan diwariskan kekuasaan. Prabowo udah punya keuntungan sebagai mantu tuan presiden.
lantas Prabowo melaksanakan gerakan bantai Tenglang. tapi akhirnya, Safrie Samsudin tarik dukungan setelah pada tanggal 14 Mei Jenderal Wiranto bertanya "apakah masih mampu mengamankan ibukota?" kepada Safrie Samsudin.
pertanyaan Wiranto di rapim ABRI itu adalah tekanan untuk Safrie Samsudin. akhirnya Safrie tunduk kepada Pangab. dan menohok Prabowo.
melihat ini Prabowo ketir juga. akhirnya Prabowo juga tidak sanggup lawan Wiranto dan pro dem. Harto dan keluarga Cendana terus paksa Prabowo untuk maju. tapi Prabowo tidak berani. makanya Tutut memaki Prabowo sebagai PENGECUT.
karena dimaki-maki, Prabowo mendatangi Ciganjur di malam harinya. Gus Dur sudah tidur pulas. tiba-tiba bangun karena merasa ada orang yang sedang pijat-pijat kakinya. ternyata Prabowo pijat-pijat kaki gus dur sambil bercucuran air mata.
Gerakan mahasiswa jelas berbeda dengan aksi bakar Tenglang. jadi ada dua gerakan di Mei 98. saya ingat justeru saat itu Mahasiswa mengecam gerakan bakar-bakar Tenglang. mahasiswa menyerukan agar rakyat jangan terprovokasi.
gerakan mahasiswa tidak ada kaitan dengan gerakan bakar tenglang. ini jelas dilihat. kalau agenda Mahasiswa membakar Tenglang guna merontokan Harto maka pada saat massa mengamuk membakar tenglang maka dapat dipastikan mahasiswa akan ikut di antara gerombolan anarkis.
tujuan gerakan mahasiswa adalah menjatuhkan Harto. lantas apa maksud dan tujuan gerakan hantam tenglang??
begitulah asumsi liar saya yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Kenken
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Ulysee" <ulysee_me2@...> wrote:
> Bahwa sasaran utama adalah membakar pertokoan > Sementara kalau ada pertokoan dan rumah cina yang kena, itu adalah > EKSES karena mereka tokonya ada di jalan besar atau perumahan yang > dilewati massa.
> Ya, ini adalah manuver politik tingkat tinggi, saat menggerakkan massa > untuk menggulingkan penguasa > Isu sentimen rasial yang dijadikan sebagai tabirnya.
> Kenapa? > Saat mau menggulingkan penguasa, orang bisa melihat, siapa siapa saja > yang PUNYA KEPENTINGAN untuk menggulingkan penguasa. > Tapi saat mendengungkan isu sentimen rasial, maka SIAPA yang punya > kepentingan untuk menggerakkan massa menjadi TIDAK JELAS.
> Kerusuhan yang direkayasa? YA, ada fakta yang bis amenguatkan > Kerusuhan yang dikondisikan?? YA, ada kondisi yang bisa dibeberkan.
> Kerusuhan rasialis terencana???? Ntar dulu. Kumpulin bukti dulu yang > bisa menguatkan donk.
> Bisa bilang orang lain jangan mau dikambing hitamkan, lebih-lebih jangan > mau juga menyiapkan diri sendiri jadi kambing hitam donk.
> Menerima, bahwa tragedi MEI 98 sebagai kerusuhan rasial, > Sama aja merelakan diri sendiri jadi scapegoat.
> Begitu ada rusuh, buru-buru aja di-isu kan kerusuhan rasial, > maka akan berhenti sampai disitu, nggak bisa diselidiki lebih lanjut > menurut sejarah yang pernah gue baca, kerusuhan rasial enggak ada > penyelesaiannya. > Apalagi sampai ke pengadilan.
> -----Original Message----- > From: budaya_tiong...@yahoogroups.com > [mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of Skalaras > Sent: Tuesday, May 22, 2007 7:47 PM > To: budaya_tiong...@yahoogroups.com > Subject: Re: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
> Kalau banyak non Tionghoa yang mati, itu adalah ekses, karena mereka > terjebak dalam pertokoan yang terbakar, sedangkan sasaran utamanya > adalah tetap rumah2 dan pertokoan milik Orang Tionghoa. ini harus > dibedakan.
> ini adalah manuver politik tingkat tinggi yang mendompleng sentimen > rasial. saat menggerakkan massa untuk membakar dan memperkosa, slogan > yang didenguingkan tetap ganyang Cina! warna rasial tetap saja tak bisa > dihapus. Namun perlu ditegaskan, walau sasarannya adalah Tionghoa, ini > bukanlah kerusuhan rasialis spontan, tapi direkayasa dan dikondisikan ( > untuk melibakan masyarakat kelas bawah yang hidupnya tertekan ), maka > seluruh anggota masyarakat yang sadar harus melawan, jangan mau > dikambing hitamkan.
> ----- Original Message ----- > From: Ulysee > To: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com > Sent: Tuesday, May 22, 2007 4:24 PM > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
> Yang perlu digaris bawahi adalah
> * bahwa tragedi MEI 98 adalah tragedi untuk seluruh bangsa. > * Bahwa kerusuhan MEI 98 adalah kerusuhan yang ditujukan untuk > menggulingkan pemerintahan, jadi kalau dibilang kerusuhan rasial, akan > ada banyak kontraversi > * Bahwa kebanyakan korban jiwa BUKAN dari suku tionghoa. jadi bawa > bawa RAS atau RASIAL, apakah pada tempatnya?
> Recent Activity > a.. 23New Members > Visit Your Group > SPONSORED LINKS > a.. Dan > b.. Indonesian > c.. Indonesian language course > d.. Indonesian language learn > Y! Messenger > Quick file sharing
> Send up to 1GB of
> files in an IM.
> Yahoo! Mail > Drag & drop
> With the all-new
> Yahoo! Mail Beta
> Y! GeoCities > Share More
> Create a blog, web
> site, and more. > .
> [Non-text portions of this message have been removed]
> [Non-text portions of this message have been removed]
Discussion subject changed to "Membantu Pribumi Menghindari Pembodohan RE: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles" by Kurniawan
--- Herny <heir...@gmail.com> wrote: > Saya juga setuju dengan pendapat anda. Stereotipe > orang tionghoa disini > identik dengan punya uang banyak, sikap masa bodoh, > dan cenderung eksklusif. > Sayangnya, hal ini ada benarnya juga, walaupun tidak > 100%. Apalagi > akhir-akhir ini sejak jaman Gus Dur, orang-orang > tionghoa yang selama ini > ditekan tiba-tiba diberikan kebebasan, yang timbul > malah euforia yang > berlebihan dan sibuk memamerkan identitas > kecinaannya.
> Sudah saatnya kita bersikap lebih peduli terhadap > hal-hal seperti ini. > Marilah kita mencoba berpikir dengan jernih. Saat > kita hanya mau bergaul > dengan sesama etnis tionghoa, bukankah kita menjadi > eksklusif?
Hallo Sdri. Herny. Pendapat bahwa etnis Tionghua cenderung eksklusif, hanya mau bergaul dengan etnis China saja dan tidak mau bergaul dengan orang pribumi sudah menjadi pendapat umum dan ini sering dianggap sebagai penyebab antipati orang pribumi terhadap orang China. Tapi saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat ini. Menurut saya, etnis China menjadi eksklusif karena ada sebabnya, yaitu karena orang pribumi terlebih dahulu “memusuhi” etnis China. Jelas sekali bahwa pada zaman sebelumnya etnis China di Indonesia dicemooh, ditolak, dan ditekan di Indonesia karena ke-China-annya. Kalau etnis China “dimusuhi” oleh pribumi seperti ini, bagaimana mungkin etnis China masih bisa bergaul baik dengan orang yang “memusuhi” mereka?
Sebaliknya, orang pribumi memusuhi etnis China juga bukan tanpa sebabnya. Sebab utamanya adalah “kebijakan pemerintah” lama yang “menekan dan mengkambinghitamkan” etnis China membuat orang pribumi secara otomatis mengikuti kebijakan ini dan selalu yakin bahwa orang China adalah “penyebab penderitaan mereka dan ancaman bahaya yang perlu diwaspadai”.
Bisa dilihat, sesudah pemerintah baru memberi kebijakan “keterbukaan” terhadap etnis dan kebudayaan China, rakyat otomatis mengikuti kebijakan ini dan jauh lebih bisa menerima etnis China. Hal ini terasa sekali dalam kehidupan sehari-hari, tanpa didahului oleh adanya perubahan apa pun yang signifikan dari pihak etnis China sendiri, termasuk dalam hal ke-ekslusifan-nya.
Saya selalu yakin, bahwa penyebab paling utama tentang masalah etnis China di Indonesia, termasuk kerusuhan Mei, adalah “kebijakan pemerintah” dan bukan pada pihak pribumi (dalam arti rakyat) maupun pada etnis China sendiri.
Mengenai bahwa sesudah era keterbukaan terlihat ke-euforia-an yang berlebihan dan orang China yang sibuk memamerkan identitas ke-China-annya saya tidak pernah melihat hal ini. Bisakah Anda memberi contoh-contoh yang lebih nyata mengenai hal ini?
Saya malah melihat hal yang sebaliknya, bahwa sesudah era keterbukaan pun masih banyak etnis China yang sudah tercuci otaknya ataupun trauma atas penekanan di masa lalu, dan memiliki perasaan bersalah dan khawatir untuk menjadi terlalu China di Indonesia. Contohnya bisa dilihat dari beberapa e-mail di milis ini.
Saat kita
> merayakan imlek besar-besaran di hotel mewah, yang > sebenarnya tidak perlu, > ada berapa banyak orang Indonesia lain yang masih > hidup miskin; jika saya > menjadi mereka, tidakkah akan muncul rasa iri dan > pikiran bahwa orang Cina > kaya-kaya.
Pernyataan semacam ini akan selalu disetujui oleh kebanyakaan orang sebagai suatu kebaikan yang perlu dijunjung tinggi. Tapi masalah benar atau tidaknya pernyataan ini adalah hal lain. Saya setuju untuk tidak melakukan perayaan yang berlebih-lebihan yang mencolok dan menimbulkan kecemburuan sosial. Tapi saya tidak setuju bahwa merayakan sesuatu dengan besar-besaran atau mewah itu terkesan buruk untuk dilakukan. Kalau kita memang punya sedikit keberuntungan tidak ada salahnya untuk menikmati hidup. Mengenai berapa banyak orang Indonesia lain yang masih miskin, kita harus prihatin dan berusaha membantu, tapi bukan berarti karena hal ini kita harus menindas kebahagiaan kita sendiri.
Selain kemisikinan di Indonesia, di dunia ini masih ada berjuta-juta penderitaan dan masalah lain yang perlu dibantu, mulai dari penyakit, kelaparan, peperangan, pelanggaran kemanusiaan dan sebagainya, tetapi apakah karena adanya hal ini kita harus menjadi martir? Berapa banyak kah orang yang tidak jadi menonton film di bioskop dan mendermakan uangnya kepada orang cacat yang meminta-minta di pintu bioskop karena nilai uang tersebut 100 X lipat lebih berharga untuk orang cacat tersebut daripada kesenangan mereka menonton film yang bisa mereka nikmati secara gratis di Televisi tanpa batas?
Selain itu ada satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam situasi ini, yaitu yang Anda sebutkan sebagai “muncul perasaan iri”. Dalam beberapa kasus mungkin memang ada rangsangan berlebihan dari luar yang memungkinkan munculnya perasaan iri ini dalam diri seseorang atau masyarakat. Tapi seringkali perasaan iri ini sudah lebih dahulu bercokol dalam diri seseorang atau masyarakat tersebut. Hal ini disebabkan keterbatasan pemahaman, yang sebelumnya didahului oleh kurangnya pendidikan, dan kurangnya pendidikan ini sebelumnya didahului oleh kemiskinan. Saya bukan ingin membahas topik ini, tapi yang ingin saya tekankan adalah bahwa, selain dari pihak tertentu harus berusaha untuk tidak memunculkan rasa iri pada orang lain, tapi dari pihak orang lain tersebut juga harus berusaha belajar memahami dan membedakan apakah “perasaan iri” mereka ini rasional atau tidak. Ini adalah faktor yang penting.
Contoh lain, dengan kita mengimpor
> barang-barang murah dari Cina; > makanan, buah, baju, dsb; ada berapa petani dan > pengusaha pribumi yang > bangkrut karena tidak mampu bersaing dan akhirnya > menyalahkan semua orang > Cina termasuk yang di Indonesia. Hal-hal seperti > jika tertimbun selama > bertahun-tahun, dengan sedikit provokasi saja, > tidakkah akan mengulangi > tragedi Mei 98?
Saya rasa hal mengimpor barang murah dari China tidak ada hubungan erat dengan masalah etnis China di Indonesia. Yang perlu diingat adalah bisnis bukanlah kegiatan sosial. Ada kode etik tertentu dalam bisnis yang harus kita pegang, tapi kalau dalam berbisnis kita selalu memikirkan berapa banyak orang yang tidak mampu bersaing dengan kita, jangan heran kalau bisnis kita tidak pernah maju, dan mungkin ini ciri-ciri bahwa kita lebih berbakat menjadi pekerja sosial daripada businessman. Seperti yang saya sebut di atas mengenai “rasa iri”, dalam kasus ini juga selain dari satu pihak memang harus berusaha menerapkan bisnis yang saling menguntungkan, tapi dari pihak lain juga perlu adanya peningkatan pemahaman apakah “menyalahkan orang yang mengalahkan kita dalam berbisnis” adalah rasionil?
> Teman-teman, sebelumnya saya mohon maaf, tolong > jangan salah paham terhadap > apa yang barusan saya katakan. Saya sendiri adalah > etnis Tionghoa dan saya > sangat menghargai budaya tionghoa, saya mengagumi > bangunan Kota Terlarang yg > bisa benar-benar simetris, tembok cina yang begitu > panjang, saya suka minum > teh cina, saya suka nonton F4 dan dengar lagu cina, > dan saya juga mengalami > diskriminasi tapi hal itu tidak merubah kenyataan > bahwa saya adalah orang > Indonesia, yang lahir dan tinggal di Indonesia, dan > karenanya juga harus > peduli dengan kondisi bangsa ini
Saya pikir tidak perlu meminta maaf karena kita semua di sini sama dan sedang berdiskusi. Semua ungkapan Anda ini benar-benar perlu dihargai. Dari saya sendiri, seperti sudah disebutkan di atas, saya merasa bahwa kelihatannya banyak orang yang khawatir kalau-kalau menjadi “China” di Indonesia adalah sesuatu yang salah, seolah-olah menjadi China berarti kurang nasionalis terhadap Indonesia, dan akan mejadi orang yang lebih "berbudi luhur" jika berusaha untuk menjadi tidak terlalu China.
Saya selalu berpikir sebaliknya, di samping saya harus berusaha berbaur dengan pribumi, tapi dari pihak pribumi juga bisa harus bisa belajar dan menghargai ke-China-an saya. Pemahaman dasar ini penting sekali untuk orang pribumi sendiri, bukan hanya hubungannya dengan ke-China-an saya pribadi tapi untuk memperluas cakrawala mereka secara umum. Saya sendiri merasa, selama identitas ke-China-an saya ditekan seperti zaman sebelumnya, saya tidak akan pernah bisa benar-benar berbaur dengan orang pribumi dan dengan negeri ini. Tidak peduli bagaimana pun saya berusaha, tidak mungkin saya bisa bersatu dengan orang yang menolak saya, karena penolakan tersebut ada pada mereka, dan bukan pada saya.
Hal ini bukan berarti bahwa saya menganggap etnis China seluruhnya dalam pihak yang benar atau pihak pribumi seluruhnya berada dalam pihak yang salah. Semua hal yang Saudari sarankan perlu dilakukan. Yang ingin saya tekankan adalah selain dari pihak etnis China, usaha-usaha perbaikan juga harus datang dari pihak pribumi.
Menyelesaikan masalah etnis China dengan hanya mengandalkan semua inisiatif dari pihak etnis China berarti melakukan pembodohan terhadap pribumi. Kalau etnis China berusaha berbaur, etnis China berusaha tidak menimbulkan kecemburuan sosial, etnis China berusaha tidak menyolok dalam berbisnis, hal ini berarti etnis China “hanya” membuat orang pribumi tidak antipati terhadap etnis China, tidak iri terhadap orang China, dan tidak marah terhadap orang China. Hal ini hanya menguntungkan bagi keselamatan dan keamanan etnis China sendiri, tetapi membiarkan orang pribumi tetap dalam kegelapan dan ketidakmengertiannya.
Tetapi kalau kita meminta orang pribumi juga bertanggung jawab terhadap persepsi dan pemahaman mereka sendiri, hal ini berarti kita membantu pribumi menghindari pembodohan. Tanggung jawab terhadap persepsi ini termasuk, bagaimana mereka menyikapi keanekaragaman etnis, kemungkinan bahwa perasaan cemburu sosial mereka tidak berdasar (selama memang bukan ada penyebab dari pihak etnis China yang keterlaluan), atau kemungkinan bahwa sikap menyalahkan pihak lain dalam berbisnis adalah kurang tepat. Hal ini bisa menjadi awal dari kemajuan pribumi
...
Saya tidak setuju dengan pendapat Sdri. Greysia di bawah ini. Menurut saya, pendapat semacam ini adalah contoh permainan "menghukum diri sendiri" akibat kejadian di masa lalu. Pemahaman semacam ini akan merugikan etnis China dan pihak pribumi sendiri. Penjelasannya bisa dilihat di topik yang sama, yang saya ubah sedikit judulnya menjadi "Membantu Pribumi Menghindari Pembodohan".
> Betul kata Herny-moay.... kalo kita tidak jor-joran > mengenai etnik sendiri... maka kita akan hidup lebih > mudah dimanapun. meminimalisasi perbedaan merupakan > strategi yang simpel. kalo memang merasa berbeda, > cukup keep on the mind, not in the behavior.
> saya pribadi masih belum bisa menerima 100% > akulturasi budaya tionghoa ke budaya lokal (aduh > saya ga tau ini istilahnya tepat apa ga ya... ato > lebih tepat asimilasi). saya masih menganggap > pelestarian budaya saya lebih penting daripada > (misalnya) keselamatan saya karena diancam mati kalo > masih kekeuh memegang adat. tapi, saya keep that in > mind, dan tidak menekan behavior saya ke arah itu. > saya tetap mau selamat juga kan.... semampu saya... > that's the part of survival in this world.
> Setiap kali saya mendengar jor-joran imlek di hotel > mewah, dihadiri presiden, tarian liong dimana mana, > bahkan ada yang memanipulasi barongsai untuk > mengamen di restoran2 pinggir jalan, saya lebih suka > keadaan dimana orang tionghoa masih direpresi..... > dengan kebebasan ini, rasanya lebih gamang. > Sangatlah normal secara psikologi dimana kita > merasakan represi kita akan bersatu, tapi begitu > ikatan itu longgar.... kita malah tercerai berai.
> Apalagi saya sangat tidak suka dengan membanjirnya > budaya-budaya "baru" dari RRC yang sekarang ini > dibawa kembali ke Indonesia dengan label inilah > budaya Tionghoa, kita 'dipaksa' harus menyamakan > level kita yang lebih tradisional (dan sudah ada > elemen percampuran dengan budaya setempat), dengan > budaya RRC atau Taiwan yang sekarang. Bangunan > klenteng kita yang unik dan tidak ada lagi di RRC > dipugar, dibongkar, dan dibikin semirip mungkin > dengan bentuk kuil2 di Taiwan atau RRC.... idih, > kayak orang ga punya ktp aje, harus minjem ktp orang > lain.
> Patung-patung Buddha kuno yang kita miliki di > klenteng-klenteng, digeser dengan patung-patung made > in Taiwan.... busyet deh... kita ini makanan empuk > bagi pebisnis2 RRC ama Taiwan. > Toh, pada akhirnya, tiap kali kita 'pulang kampung' > ke Cina sana, kita tetap diberi identitas "orang > luar". saya rasa sebagian besar orang RRC sekarang > masih menganggap orang Tionghoa Indonesia sebagai > mangsa empuk yang sangat konsumtif, banyak duit, dan > rela mengeluarkan duit berapa saja asal diterima > sebagai 'saudara dekat' mereka. orang Taiwan malah > cuma menganggap orang Tionghoa Indonesia entah > sebagai tempat mencari 'istri' yang rajin dan bisa > mengemong anak dan tidak matre (alias gampang > dikibulin), atau calon pembantu rumah tangga, ato > yang kaya - investor karena anaknya banyak yang > disekolahkan disana untuk blajar mandarin.
> some of us will do anything to be accepted by their > standard................. pathetic...
Kekerasan seksual terhadap wanita etnis China memang benar-benar terjadi dan diakui sendiri oleh pemerintah waktu itu. Tapi kejahatan ini tentunya bukan dilakukan secara spontan oleh rakyat, tapi oleh kelompok terorganisir untuk kepentingan tertentu.
Ini kutipan dari TEMPO Edisi 6-12 OKTOBER 1998, topik utama Pemerkosaan: Cerita dan Fakta
Opini, halaman 15
Paragraf 1: Tentang pemerkosaan, ada begitu banyak cerita dan tak begitu banyak fakta. Ini tidak berarti bahwa orang dengan gampang dapat mengatakan bahwa semua laporan tentang brutalitas yang berlangsung dalam kerusuhan Mei lalu terhadap kalangan keturunan Cina, hanya teriakan kosong yang tidak menyenangkan. Majalah ini menunjukkan bahwa kekerasan itu memang pernah terjadi. Sejumlah perempuan, seperti Mona dan gadis-gadis lain (lihat halaman 63), dipaksa sekelompok orang secara seksual. Dan mereka dijahanami karena mereka berasal dari ras tertentu. Mereka Tionghoa.
Paragraf 10: Bagaimanapun, Tim Relawanlah, dengan laporannya yang mengejutkan itu, yang telah menggerakkan masyarakat dan pemerintah untuk menjadi saksama dalam menangani kekerasan ini. Mungkin karena itu pula, seperti indikasi yang kami peroleh dari jajak pendapat TEMPO interaktif, hampir 80 persen responden percaya bahwa pada Mei yang lalu sebuah pemerkosaan massal terjadi – meskipun itu tidak menunjukkan bahwa kejadian itu sudah sepenuhnya tersingkap. Pemerintah yang semula hanya bisa bilang “tidak benar ada pemerkosaan” juga akhirnya bereaksi secara positif. Sebuah tim gabungan pencari fakta dibentuk. Menteri Kehakiman bahkan mengatakan pemerintah mengakui bahwa kekerasan seksual terhadap perempuan keturunan Cina itu memang terjadi.
Halaman 16 paragraf 4: Para dokter, atau siapa saja yang tak bersedia hidup terus menerus dengan kebencian, tak layak diam. Setiap bangsa perlu berbersih diri. Untuk itu, ia perlu mengakui bahwa dirinya mungkin saja – atau memang – pernah kotor.
> Tetapi bagaimana dengan kasus-kasus gang-raped yang > "denger-denger" > dialami oleh gadis-gadis etnis tionghua? Jika hal > ini BISA dibuktikan dan > diangkat ke forum internasional (walaupun saya > sangat paham hal ini hampir > mustahil, mengingat mana ada gadis korban perkosaan > yang mau...), maka > secara > otomatis kerusuhan tersebut langsung dapat > dikategorikan sebagai kerusuhan > rasial > dan seharusnya pihak berwenang, baik dalam maupun > luar negeri, melakukan > pengusutan > secara tuntas. Saya berpikir ini adalah kuncinya.
> Sulit?
> Just another my two cents...
___________________________________________________________________________ _________Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games. http://get.games.yahoo.com/proddesc?gamekey=monopolyherenow
TEMAN | Oleh: Sulaiman Tripa |Koordinator FDT Budaya Aceh Institute
HATI-hati, selama ini, semangat mencari teman untuk mesum dapat dilakukan lewat berbagai media. Internet, sudah menyediakan banyak fasilitas, seseorang bisa saling bertukar gambar apa saja. Bahwa ketelanjangan tubuh pun dapat dibagi lewat yang namanya internet.
Fasilitas yang ada dalam massangger, misalnya. Dengan ngobrol jarak-jauh, teman yang masuk dalam sekejap saling mengenal tanpa mengenal batas. Dari gampong pun bisa mendapatkan teman dengan segera. Prasyarat, tentu saja jaringan internet. Ini menjadi bagian implikasi negatif sebuah kemajuan teknologi.
Di samping yang negatif, tentu banyak yang positif. Internet bisa menjadi jaringan dakwah juga. Membagi pengetahuan agama, misalnya, juga dapat dilakukan melalui internet. Seorang teman, bahkan membuat sebuah website pribadi yang isinya, khusus masalah kajian-kajian agama.
Banyak yang positif dari hadirnya sebuah teknologi. Walau di antara itu, ada yang negatif. Ibarat sebuah pisau, bisa digunakan untuk kebaikan, tapi ada orang yang menggunakannya untuk kejahatan. Begitu juga dengan internet, bisa untuk kebaikan, juga bisa dipergunakan untuk kejahatan dan hal-hal yang tidak baik.
Syahdan, pada pasal ini saya ingin melihat sesuatu yang negatif, yang barangkali dapat menjadi pengalaman bagi orang lain. Khususnya ngobrol lewat internet. Ini menjadi ruang untuk menjalin persahabatan zaman baru. Pun demikian, chatting juga bisa menjadi ruang untuk mencari perselingkuhan baru secara maya.
Sekitar tiga tahun lalu, ketika saya masih tinggal di Jakarta, saya mempunyai seorang teman yang mengelola internet di sekitar Rawamangun. Sebagai pengelola, tentu ia mempunyai banyak waktu untuk chatting. Ngobrol dan mencari teman dengan tanpa dibatasi teritori, bukanlah masalah. Tapi apa yang terjadi bila teman baru yang didapatkan itu rela membuka pakaiannya di depan webcam.
Itu menjadi masalah. Saya membayangkan, bagaimana bila ada saudara saya, teman saya, atau bahkan orang gampong saya yang seperti itu. Teman saya yang di Jakarta itu, merupakan corak orang yang ternyata mendapat kesenangan secara maya. Kesenangan yang buruk, yang tidak patut dicontoh oleh orang lain.
Setelah tsunami, Aceh menjadi kawasan yang sangat terbuka secara maya. Kemajuan itu, seperti yang saya katakan, sama sekali bukan masalah. Namun kenyataannya, ada orang yang mengambil implikasi negatif ketimbang positif. Ketika chatting sudah menjadi ruang baru bagi sebagian muda di Aceh untuk mencari teman dari seluruh jagad, ada sebagian yang mempergunakan untuk berkomunikasi yang jorok-jorok.
Sudah menjadi kenyataan baru, melalui chatting, banyak orang yang sudah tidak canggung untuk mempergunakan kata-kata yang jorok. Di nanggroe kita ini, saya juga pernah mendapat teman yang membagi-bagi keindahan tubuhnya. Ini menjadi masalah baru yang berpotensi merusak tatanan kehidupan di Aceh.
Solusinya, tentu bukan dengan melarang internet. Tapi bagaimana implikasi negatif dari internet itu bisa ditekan. Dalam zaman sekarang, internet sudah menjadi kebutuhan penting. Alur komunikasi dan informasi menjadi sangat lancar, dan menjadi makna penting dari kehadiran teknologi ini.
Semuanya terletak pada manusianya. Orang yang menggunakan teknologilah yang menentukan untuk tujuan apa sebuah kemajuan teknologi itu dipergunakan. Untuk tujuan positifkah? Untuk tujuan negatifkah? Yang jelas, orang tua, memiliki tugas baru untuk menjaga anak-anaknya dari pengaruh negatif dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi ini.
Semisal mencari teman baru di dunia maya, seorang anak harus diingatkan untuk selalu berhati-hati. Untuk selalu waspada agar tidak mudah tergoda.[ST]
----- Original Message ----- From: Ulysee To: budaya_tiong...@yahoogroups.com Sent: Wednesday, May 23, 2007 12:31 PM Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
> Cerita dunks, waktu Malari gimana? > Di lapangan Banteng kayak apa? > Pembajakan Woyla juga gue baru denger sekarang, ntar gue google ah. > Bom Stupa Borobudur bisa mempertahankan kekuasaan? > Gemana tuh ceritanya tuh? Kayaknya seru tuh. > Kerusuhan yang direkayasa untuk mempertahankan kekuasaan itu > pegimana teorinya?
-------------------------------
He he he... panjang tuh ngomonginnya. Walau menarik, tetapi OOT lah sama milis budaya tionghoa ini.
Di sini lebih asyik ngomongin puisi terjemahan Tjio-heng aja ah...
Kalau Jaya Suprana bikin rekor MURI untuk kategori "pian hoa di milis", pasti juaranya adalah yang namanya (salahsatu nama) Kenken ini ya, he he he...
Hari ini saja sudah pian hoa dua kali!! Belom yang kemarin-kemarin. Kalau cuman Kauw Cee Thian aja sih kalah kosen deh...
Wasalam.
=====================================
----- Original Message ----- From: extrim_bluesky To: budaya_tiong...@yahoogroups.com Sent: Wednesday, May 23, 2007 1:11 PM Subject: [budaya_tionghua] Ulysee, Korban Tionghoa adalah ekses??
> begitulah asumsi liar saya yang tidak > bisa dipertanggung jawabkan.
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "extrim_bluesky"
<Extrim_bluesky@...> wrote:
> Mas Greysia yb,
> saya tanya dikit ya:
> 1. kapan ada "pesta-imlek" jor-joran > di hotel mewah seperti yang pernah anda > dengar?!
Banyaklah Tapi ya itu mah komoditas bisnis. Liat kalu mo imlek ada aje tawaran imlek di hotel. Baunya gak jauh dari bisnis.
Kalu yg ngadain pejabat atawa pengusaha seh itu kalu kata gw seh lage cari nama. Lha perayaan imlek khan benernya silaturahmi boooooooooooo
> 2. ada apa dgn tarian Liong yang anda > katakan ada di mana-mana? gak bole ya? > di mana aja ada tarian Liong & Barong? > apa mereka mengganggu ketertiban umum?
Pernah denger barong ngamen gak ?
> 3. Siapa yg "memaksa" kita menyamakan > level kita dgn budaya RRT & Taiwan? > memangnya apa aja bedanya? kan asal budaya > Tenglang kita itu dari Zhongquo.
Zhongguo itu gede , pernik2 budaya org Khe ama Hokian aja bisa beda.
> 4. Bangunan kelenteng kita yang unik dan > tidak ada lagi di RRT? itu artinya apa? > maksudnya apa?
> 5. Kapan ada kasus Bio dibongkar, dipugar > & dibuat semirip mungkin dgn bentuk kuil-kuil > di RRT & Taiwan. anda bisa sebut contoh > kasus & nama Bio-nya? harusnya gimana? > bentuk kuil "khas" Tionghoa di Indonesia > itu seperti apa?? apa gentengnya pake > anyaman daun kelapa spt atap istana pagar > ruyung??
nomor 4 gw jawab di nomor 5.
Lu pigi ke Sampokong sono heuhehehehehehehehe Pohon Rante yg khas SAMPOKONG en gak ada dimana2 aje disemen ama dicor beton. Amburadullah pokokne. Beda ama taon 80an
> 6. banjir budaya "baru" dari RRT itu contohnya > apa toch Mas? saya ndak ngerti. apa aja sih > yang anda maksud dengan budaya "baru" dari RRT > itu??
Budaya RRT yg ngalir ini budaya RRT UTARA yg JELAS BEDA SAMA MAYORITAS HUAKIAO DI Indonesia yg asalnye dari selatan.
> 7. patung-patung made in RRT?? apa aja? harus > beli di mana? apa di Tulungagung ada industri > kerajinan lempung, logam, kayu yang bikin patung > kongco, budha, kwan im, kwan kong dsb??
Hm emang seh sebenernya banyak patung2 yg ada itu banyakan made in RRT. Kalu nurut gw seh wajar. Kalu urusan2 geser menggeser seh rasanya kagak ya mbak. Biasanya patung yg utama ataw asli atawa awal itu tetep mesti ada. Gak dibuang.
> sori nih banyak tanya Mas Grey. tapi sungguh > saya gak ngerti deh. thanks..
> best regards, > Kenken
> --- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, greysia susilo junus > <greysiagreysia@> wrote:
> > Betul kata Herny-moay.... kalo kita tidak jor-joran mengenai etnik > sendiri... maka kita akan hidup lebih mudah dimanapun. > meminimalisasi perbedaan merupakan strategi yang simpel. kalo memang > merasa berbeda, cukup keep on the mind, not in the behavior.
> > saya pribadi masih belum bisa menerima 100% akulturasi budaya > tionghoa ke budaya lokal (aduh saya ga tau ini istilahnya tepat apa > ga ya... ato lebih tepat asimilasi). saya masih menganggap > pelestarian budaya saya lebih penting daripada (misalnya) > keselamatan saya karena diancam mati kalo masih kekeuh memegang > adat. tapi, saya keep that in mind, dan tidak menekan behavior saya > ke arah itu. saya tetap mau selamat juga kan.... semampu saya... > that's the part of survival in this world.
> > Setiap kali saya mendengar jor-joran imlek di hotel mewah, > dihadiri presiden, tarian liong dimana mana, bahkan ada yang > memanipulasi barongsai untuk mengamen di restoran2 pinggir jalan, > saya lebih suka keadaan dimana orang tionghoa masih direpresi..... > dengan kebebasan ini, rasanya lebih gamang. Sangatlah normal secara > psikologi dimana kita merasakan represi kita akan bersatu, tapi > begitu ikatan itu longgar.... kita malah tercerai berai.
> > Apalagi saya sangat tidak suka dengan membanjirnya budaya- > budaya "baru" dari RRC yang sekarang ini dibawa kembali ke Indonesia > dengan label inilah budaya Tionghoa, kita 'dipaksa' harus menyamakan > level kita yang lebih tradisional (dan sudah ada elemen percampuran > dengan budaya setempat), dengan budaya RRC atau Taiwan yang > sekarang. Bangunan klenteng kita yang unik dan tidak ada lagi di RRC > dipugar, dibongkar, dan dibikin semirip mungkin dengan bentuk kuil2 > di Taiwan atau RRC.... idih, kayak orang ga punya ktp aje, harus > minjem ktp orang lain.
> > Patung-patung Buddha kuno yang kita miliki di klenteng-klenteng, > digeser dengan patung-patung made in Taiwan.... busyet deh... kita > ini makanan empuk bagi pebisnis2 RRC ama Taiwan. > > Toh, pada akhirnya, tiap kali kita 'pulang kampung' ke Cina sana, > kita tetap diberi identitas "orang luar". saya rasa sebagian besar > orang RRC sekarang masih menganggap orang Tionghoa Indonesia sebagai > mangsa empuk yang sangat konsumtif, banyak duit, dan rela > mengeluarkan duit berapa saja asal diterima sebagai 'saudara dekat' > mereka. orang Taiwan malah cuma menganggap orang Tionghoa Indonesia > entah sebagai tempat mencari 'istri' yang rajin dan bisa mengemong > anak dan tidak matre (alias gampang dikibulin), atau calon pembantu > rumah tangga, ato yang kaya - investor karena anaknya banyak yang > disekolahkan disana untuk blajar mandarin.
> > some of us will do anything to be accepted by their > standard................. pathetic...
> > ----- Original Message ---- > > From: Herny <heirnee@> > > To: budaya_tiong...@yahoogroups.com > > Sent: Monday, May 21, 2007 10:23:42 AM > > Subject: RE: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di > Los Angeles
> > Saya juga setuju dengan pendapat anda. Stereotipe orang tionghoa > disini > > identik dengan punya uang banyak, sikap masa bodoh, dan cenderung > eksklusif. > > Sayangnya, hal ini ada benarnya juga, walaupun tidak 100%. Apalagi > > akhir-akhir ini sejak jaman Gus Dur, orang-orang tionghoa yang > selama ini > > ditekan tiba-tiba diberikan kebebasan, yang timbul malah euforia > yang > > berlebihan dan sibuk memamerkan identitas kecinaannya.
> > Sudah saatnya kita bersikap lebih peduli terhadap hal-hal seperti > ini. > > Marilah kita mencoba berpikir dengan jernih. Saat kita hanya mau > bergaul > > dengan sesama etnis tionghoa, bukankah kita menjadi eksklusif? > Saat kita > > merayakan imlek besar-besaran di hotel mewah, yang sebenarnya > tidak perlu, > > ada berapa banyak orang Indonesia lain yang masih hidup miskin; > jika saya > > menjadi mereka, tidakkah akan muncul rasa iri dan pikiran bahwa > orang Cina > > kaya-kaya. > > ---------- deletedRecent Activity > > 23New Members > > Visit Your Group > > SPONSORED LINKS > > Dan > > Indonesian > > Indonesian language course > > Indonesian language learn > > Yahoo! Mail > > Get it all! > > With the all-new > > Yahoo! Mail Beta > > Y! Messenger > > Want a quick chat? > > Chat over IM with > > group members. > > Y! GeoCities > > Share Photos > > Put your favorite > > photos online..
menarik analisa kamu yang mengatakan bahwa korban Tionghoa adalah "ekses" kerusuhan dan bukan target utama. saya mau tanya, tolong dijawab dengan lugas:
saat itu ada gerakan mahasiswa demonstran tuntut Harto mundur. siapa yang mau bunuh mahasiswa yang berdemo? siapa yang punya senjata? apakah ada tentara asing (USA) di jakarta saat itu? kelompok preman dan paramiliter spt PP, Pemuda Pancamarga dsb itu binaan tentara.
jadi siapa yang akan tembak dan bantai demontrans mahasiswa Trisakti?
Salah satu alasan USA dongkel Harto, menurut hemat saya, adalah KESERAKAHAN KELUARGA CENDANA dalam mengambil proyek-proyek bisnis para pebisnis dan bisnis Amerika.
Pasca jatuhnya Soviet Uni, peran Harto untuk menjadi "anjing-penjaga" komunisme berakhir sudah. USA tidak punya kepentingan lagi dengan Harto.
Harto mengerti benar cara-cara mendongkel penguasa. ia pernah melakukan itu saat mendongkel Soekarno. tetapi kondisi di Mei 98 berbeda. justeru dia menjadi objek yang hendak dijatuhkan.
tetapi siapa aktor lokal yang pegang senjata di Mei 98 seperti Harto di tahun 65?
kalau dulu, militer satu kata yaitu hancurkan PKI dan gerus Soekarno. tetapi di Mei 98, apakah konstelasi ABRI masih sama? apakah mungkin sipil bisa memiliki kemampuan kudeta seperti kemampuan militer??
asumsi liar saya: Harto pada awalnya berpikir untuk melawan. dia perintahkan Kivlan Zein membantai aksi sejuta umat apabila aksi itu jadi dibuat. lantas Harto tembak mahasiswa dan memerintahkan Prabowo untuk bantai Tenglang.
mengapa lantas gerakan hantam tenglang cuma 3 hari? dan mengapa selanjutnya harto bertekuk lutut? mengapa harto tidak melakukan gerakan dengan maksimal?
saya kira, Harto akhirnya menyadari bahwa kalao pun ia berhasil mempertahankan kekuasaan dengan korban begitu banyak mahasiswa, orang Tenglang dan matinya tokoh-tokoh reformasi tetap saja ia akan dikucilkan secara internasional.
Indonesia akan diembargo secara keras. suplai senjata akan dihentikan. atau bahkan Harto akan diserang oleh USA seperti perang Iraq. pada akhirnya Harto akan diadili dan digantung oleh pengadilan internasional.
plus, ternyata ABRI pecah. ABRI tidak solid mendukung Harto. terbukti dari pembangkangan Wiranto. lantas Habibie pun menohok Harto. makanya Harto sampai sekarang masih marah sama Habibie.
mayoritas kroni sipil berhianat. tinggalah harto dengan sedikit jenderal dan kroni paling setia. tetapi tidak signifikan lagi. makanya ia lengser keprabon dengan jaminan jenderal Wiranto yang akan melindungi harta dan keluarga semua mantan presiden RI.
Prabowo sebenarnya harapan terakhir Harto. dengan iming-iming bahwa Prabowo akan diwariskan kekuasaan. Prabowo udah punya keuntungan sebagai mantu tuan presiden.
lantas Prabowo melaksanakan gerakan bantai Tenglang. tapi akhirnya, Safrie Samsudin tarik dukungan setelah pada tanggal 14 Mei Jenderal Wiranto bertanya "apakah masih mampu mengamankan ibukota?" kepada Safrie Samsudin.
pertanyaan Wiranto di rapim ABRI itu adalah tekanan untuk Safrie Samsudin. akhirnya Safrie tunduk kepada Pangab. dan menohok Prabowo.
melihat ini Prabowo ketir juga. akhirnya Prabowo juga tidak sanggup lawan Wiranto dan pro dem. Harto dan keluarga Cendana terus paksa Prabowo untuk maju. tapi Prabowo tidak berani. makanya Tutut memaki Prabowo sebagai PENGECUT.
karena dimaki-maki, Prabowo mendatangi Ciganjur di malam harinya. Gus Dur sudah tidur pulas. tiba-tiba bangun karena merasa ada orang yang sedang pijat-pijat kakinya. ternyata Prabowo pijat-pijat kaki gus dur sambil bercucuran air mata.
Gerakan mahasiswa jelas berbeda dengan aksi bakar Tenglang. jadi ada dua gerakan di Mei 98. saya ingat justeru saat itu Mahasiswa mengecam gerakan bakar-bakar Tenglang. mahasiswa menyerukan agar rakyat jangan terprovokasi.
gerakan mahasiswa tidak ada kaitan dengan gerakan bakar tenglang. ini jelas dilihat. kalau agenda Mahasiswa membakar Tenglang guna merontokan Harto maka pada saat massa mengamuk membakar tenglang maka dapat dipastikan mahasiswa akan ikut di antara gerombolan anarkis.
tujuan gerakan mahasiswa adalah menjatuhkan Harto. lantas apa maksud dan tujuan gerakan hantam tenglang??
begitulah asumsi liar saya yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
Kenken
************************************** See what's free at http://www.aol.com.
[Non-text portions of this message have been removed]
Kurniawan <kurniawan20062...@yahoo.com> wrote: --- Herny <heir...@gmail.com> wrote: > Saya juga setuju dengan pendapat anda. Stereotipe > orang tionghoa disini > identik dengan punya uang banyak, sikap masa bodoh, > dan cenderung eksklusif. > Sayangnya, hal ini ada benarnya juga, walaupun tidak > 100%. Apalagi > akhir-akhir ini sejak jaman Gus Dur, orang-orang > tionghoa yang selama ini > ditekan tiba-tiba diberikan kebebasan, yang timbul > malah euforia yang > berlebihan dan sibuk memamerkan identitas > kecinaannya.
> Sudah saatnya kita bersikap lebih peduli terhadap > hal-hal seperti ini. > Marilah kita mencoba berpikir dengan jernih. Saat > kita hanya mau bergaul > dengan sesama etnis tionghoa, bukankah kita menjadi > eksklusif?
Hallo Sdri. Herny. Pendapat bahwa etnis Tionghua cenderung eksklusif, hanya mau bergaul dengan etnis China saja dan tidak mau bergaul dengan orang pribumi sudah menjadi pendapat umum dan ini sering dianggap sebagai penyebab antipati orang pribumi terhadap orang China. Tapi saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat ini. Menurut saya, etnis China menjadi eksklusif karena ada sebabnya, yaitu karena orang pribumi terlebih dahulu “memusuhi” etnis China. Jelas sekali bahwa pada zaman sebelumnya etnis China di Indonesia dicemooh, ditolak, dan ditekan di Indonesia karena ke-China-annya. Kalau etnis China “dimusuhi” oleh pribumi seperti ini, bagaimana mungkin etnis China masih bisa bergaul baik dengan orang yang “memusuhi” mereka?
Sebaliknya, orang pribumi memusuhi etnis China juga bukan tanpa sebabnya. Sebab utamanya adalah “kebijakan pemerintah” lama yang “menekan dan mengkambinghitamkan” etnis China membuat orang pribumi secara otomatis mengikuti kebijakan ini dan selalu yakin bahwa orang China adalah “penyebab penderitaan mereka dan ancaman bahaya yang perlu diwaspadai”.
Bisa dilihat, sesudah pemerintah baru memberi kebijakan “keterbukaan” terhadap etnis dan kebudayaan China, rakyat otomatis mengikuti kebijakan ini dan jauh lebih bisa menerima etnis China. Hal ini terasa sekali dalam kehidupan sehari-hari, tanpa didahului oleh adanya perubahan apa pun yang signifikan dari pihak etnis China sendiri, termasuk dalam hal ke-ekslusifan-nya.
Saya selalu yakin, bahwa penyebab paling utama tentang masalah etnis China di Indonesia, termasuk kerusuhan Mei, adalah “kebijakan pemerintah” dan bukan pada pihak pribumi (dalam arti rakyat) maupun pada etnis China sendiri.
Mengenai bahwa sesudah era keterbukaan terlihat ke-euforia-an yang berlebihan dan orang China yang sibuk memamerkan identitas ke-China-annya saya tidak pernah melihat hal ini. Bisakah Anda memberi contoh-contoh yang lebih nyata mengenai hal ini?
Saya malah melihat hal yang sebaliknya, bahwa sesudah era keterbukaan pun masih banyak etnis China yang sudah tercuci otaknya ataupun trauma atas penekanan di masa lalu, dan memiliki perasaan bersalah dan khawatir untuk menjadi terlalu China di Indonesia. Contohnya bisa dilihat dari beberapa e-mail di milis ini.
Saat kita
> merayakan imlek besar-besaran di hotel mewah, yang > sebenarnya tidak perlu, > ada berapa banyak orang Indonesia lain yang masih > hidup miskin; jika saya > menjadi mereka, tidakkah akan muncul rasa iri dan > pikiran bahwa orang Cina > kaya-kaya.
Pernyataan semacam ini akan selalu disetujui oleh kebanyakaan orang sebagai suatu kebaikan yang perlu dijunjung tinggi. Tapi masalah benar atau tidaknya pernyataan ini adalah hal lain. Saya setuju untuk tidak melakukan perayaan yang berlebih-lebihan yang mencolok dan menimbulkan kecemburuan sosial. Tapi saya tidak setuju bahwa merayakan sesuatu dengan besar-besaran atau mewah itu terkesan buruk untuk dilakukan. Kalau kita memang punya sedikit keberuntungan tidak ada salahnya untuk menikmati hidup. Mengenai berapa banyak orang Indonesia lain yang masih miskin, kita harus prihatin dan berusaha membantu, tapi bukan berarti karena hal ini kita harus menindas kebahagiaan kita sendiri.
Selain kemisikinan di Indonesia, di dunia ini masih ada berjuta-juta penderitaan dan masalah lain yang perlu dibantu, mulai dari penyakit, kelaparan, peperangan, pelanggaran kemanusiaan dan sebagainya, tetapi apakah karena adanya hal ini kita harus menjadi martir? Berapa banyak kah orang yang tidak jadi menonton film di bioskop dan mendermakan uangnya kepada orang cacat yang meminta-minta di pintu bioskop karena nilai uang tersebut 100 X lipat lebih berharga untuk orang cacat tersebut daripada kesenangan mereka menonton film yang bisa mereka nikmati secara gratis di Televisi tanpa batas?
Selain itu ada satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam situasi ini, yaitu yang Anda sebutkan sebagai “muncul perasaan iri”. Dalam beberapa kasus mungkin memang ada rangsangan berlebihan dari luar yang memungkinkan munculnya perasaan iri ini dalam diri seseorang atau masyarakat. Tapi seringkali perasaan iri ini sudah lebih dahulu bercokol dalam diri seseorang atau masyarakat tersebut. Hal ini disebabkan keterbatasan pemahaman, yang sebelumnya didahului oleh kurangnya pendidikan, dan kurangnya pendidikan ini sebelumnya didahului oleh kemiskinan. Saya bukan ingin membahas topik ini, tapi yang ingin saya tekankan adalah bahwa, selain dari pihak tertentu harus berusaha untuk tidak memunculkan rasa iri pada orang lain, tapi dari pihak orang lain tersebut juga harus berusaha belajar memahami dan membedakan apakah “perasaan iri” mereka ini rasional atau tidak. Ini adalah faktor yang penting.
Contoh lain, dengan kita mengimpor
> barang-barang murah dari Cina; > makanan, buah, baju, dsb; ada berapa petani dan > pengusaha pribumi yang > bangkrut karena tidak mampu bersaing dan akhirnya > menyalahkan semua orang > Cina termasuk yang di Indonesia. Hal-hal seperti > jika tertimbun selama > bertahun-tahun, dengan sedikit provokasi saja, > tidakkah akan mengulangi > tragedi Mei 98?
Saya rasa hal mengimpor barang murah dari China tidak ada hubungan erat dengan masalah etnis China di Indonesia. Yang perlu diingat adalah bisnis bukanlah kegiatan sosial. Ada kode etik tertentu dalam bisnis yang harus kita pegang, tapi kalau dalam berbisnis kita selalu memikirkan berapa banyak orang yang tidak mampu bersaing dengan kita, jangan heran kalau bisnis kita tidak pernah maju, dan mungkin ini ciri-ciri bahwa kita lebih berbakat menjadi pekerja sosial daripada businessman. Seperti yang saya sebut di atas mengenai “rasa iri”, dalam kasus ini juga selain dari satu pihak memang harus berusaha menerapkan bisnis yang saling menguntungkan, tapi dari pihak lain juga perlu adanya peningkatan pemahaman apakah “menyalahkan orang yang mengalahkan kita dalam berbisnis” adalah rasionil?
> Teman-teman, sebelumnya saya mohon maaf, tolong > jangan salah paham terhadap > apa yang barusan saya katakan. Saya sendiri adalah > etnis Tionghoa dan saya > sangat menghargai budaya tionghoa, saya mengagumi > bangunan Kota Terlarang yg > bisa benar-benar simetris, tembok cina yang begitu > panjang, saya suka minum > teh cina, saya suka nonton F4 dan dengar lagu cina, > dan saya juga mengalami > diskriminasi tapi hal itu tidak merubah kenyataan > bahwa saya adalah orang > Indonesia, yang lahir dan tinggal di Indonesia, dan > karenanya juga harus > peduli dengan kondisi bangsa ini
Saya pikir tidak perlu meminta maaf karena kita semua di sini sama dan sedang berdiskusi. Semua ungkapan Anda ini benar-benar perlu dihargai. Dari saya sendiri, seperti sudah disebutkan di atas, saya merasa bahwa kelihatannya banyak orang yang khawatir kalau-kalau menjadi “China” di Indonesia adalah sesuatu yang salah, seolah-olah menjadi China berarti kurang nasionalis terhadap Indonesia, dan akan mejadi orang yang lebih "berbudi luhur" jika berusaha untuk menjadi tidak terlalu China.
Saya selalu berpikir sebaliknya, di samping saya harus berusaha berbaur dengan pribumi, tapi dari pihak pribumi juga bisa harus bisa belajar dan menghargai ke-China-an saya. Pemahaman dasar ini penting sekali untuk orang pribumi sendiri, bukan hanya hubungannya dengan ke-China-an saya pribadi tapi untuk memperluas cakrawala mereka secara umum. Saya sendiri merasa, selama identitas ke-China-an saya ditekan seperti zaman sebelumnya, saya tidak akan pernah bisa benar-benar berbaur dengan orang pribumi dan dengan negeri ini. Tidak peduli bagaimana pun saya berusaha, tidak mungkin saya bisa bersatu dengan orang yang menolak saya, karena penolakan tersebut ada pada mereka, dan bukan pada saya.
Hal ini bukan berarti bahwa saya menganggap etnis China seluruhnya dalam pihak yang benar atau pihak pribumi seluruhnya berada dalam pihak yang salah. Semua hal yang Saudari sarankan perlu dilakukan. Yang ingin saya tekankan adalah selain dari pihak etnis China, usaha-usaha perbaikan juga harus datang dari pihak pribumi.
Menyelesaikan masalah etnis China dengan hanya mengandalkan semua inisiatif dari pihak etnis China berarti melakukan pembodohan terhadap pribumi. Kalau etnis China berusaha berbaur, etnis China berusaha tidak menimbulkan kecemburuan sosial, etnis China berusaha tidak menyolok dalam berbisnis, hal ini berarti etnis China “hanya” membuat orang pribumi tidak antipati terhadap etnis China, tidak iri terhadap orang China, dan tidak marah terhadap orang China. Hal ini hanya menguntungkan bagi keselamatan dan keamanan etnis China sendiri, tetapi membiarkan orang pribumi tetap dalam kegelapan dan ketidakmengertiannya.
Tetapi kalau kita meminta orang pribumi juga bertanggung jawab terhadap persepsi dan pemahaman mereka sendiri, hal ini berarti kita membantu pribumi menghindari pembodohan. Tanggung jawab terhadap persepsi ini termasuk, bagaimana mereka menyikapi keanekaragaman etnis, kemungkinan bahwa perasaan cemburu sosial mereka tidak berdasar (selama memang bukan ada penyebab dari pihak etnis China yang keterlaluan), atau kemungkinan bahwa sikap menyalahkan pihak lain dalam
...
----Original Message----- From: budaya_tiong...@yahoogroups.com [mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of Akhmad Bukhari Saleh
Tetapi perlu ada catatan bagi pandangan Ul-djie ini. Kerusuhan Mei '98 bukanlah ditujukan untuk menggulingkan pemerintahan atau kekuasaan. Tetapi justru suatu kerusuhan yang direkayasa untuk mempertahankan kekuasaan! Taktik ini, controlled upheaval, sudah berkali-kali dilakukan, sejak Malari, Lapangan Banteng, Pembajakan Woyla, Bom BCA, Bom Stupa Borobudur, GAM Aceh pra DOM, dan selalu berhasil. Karena itu OrBa ketagihan untuk melakukannya lagi ketika kekuasaannya tererosi parah saat itu Namun ketika dilakukan lagi di tahun '98 itu, segala sesuatunya melebar keluar kontrol, karena kondisi ekonomi masyarakat yang sangat parah akibat kris-mon.
Prom:
Kerusuhan adalah seperti meja roulette yang berputar. Tempat terjadinya pertaruhan siapa yang akan berkuasa. Setiap saat, kondisi bisa berbalik. Siapapun bisa ikut 'bertaruh' dan bisa jadi pemenangnya. Akan tetapi, bandar tidak rugi. Bukankah seperti itu ?
Apakah kerusuhan dimaksudkan untuk mempertahankan kekuasaan atau merebut kekuasaan, perbedaannya sangat tipis. Kita tidak tahu apakah ada yang menggunting dalam lipatan. Apakah mungkin ada provokasi untuk melakukan first-strike ataupun double-crossing ? Mungkin hanya para pelaku yang tahu. Sebagian besar kita tidak. Alhasil, dari kita hanya akan muncul beragam rajutan cerita berbeda walaupun menarik benang diantara fakta yang sama.
Yang lebih penting adalah healing dan kemudian bagaimana meminimalkan adanya kerusuhan / korban jiwa, terutama mereka yang tidak bersalah, dalam setiap pergantian kekuasaan. Kita sudah mendengar berbagai pendapat/upaya, mulai dari melakukan demokrasi politik, membangun pluralisme, perbaikan ekonomi dan kesenjangan, kebangkitan civil society yang lebih kritis, sampai pada upaya memberikan 'hukuman' yang dapat menimbulkan efek jera bagi mereka yang 'senang' memanfaatkan kerusuhan sebagai kendaraan kekuasaan.
No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.7.6/815 - Release Date: 22/5/2007 3:49 PM
.: Forum Diskusi Budaya Tionghua dan Sejarah Tiongkok :.
menurut saya gini aja, toh pemerintah maupun tokoh masyarakat yg terkenalpun atau presiden cuek banget ttg kerusuhan mei 1998 ini. daripada kita habis duit untuk beli obat penurun darah tinggi, kita jaga sikap sendiri aja. Toh yg kalian cerita ini 99% hanya kerusuhan di jakarta. Kalian apa tahu kerusuhan di daerah bagaimana ?
Di daerah asal saya, di jalan veteran ada wanita Tionghoa ditelanjangi rame-rame dan dikerjain. Mungkin ada teman milist yg bisa cerita apa ada wanita (maaf, pribumi) yang ditelanjangi dan dikerjain pada hari kerusuhan itu?
Di jalan lain, ada engkong menebas mati perusuh yg masuk rumah karena mau memperkosa cucunya pakai samurai yg dipajang diatas TV. Mungkin ada dari teman milist yg mendengar ada pemuda Tionghoa merampok di rumah elite (maaf sekali lagi istilah ini, pribumi) dan mencoba memperkosa wanita didalam rumahnya ?
Ok lah kalo mereka bilang kerjaan elite politik, toh apa yg harus kita harapkan dari mereka? Boro-boro politisi (maaf lagi, pribumi) , sekaliber kwik kian gie, frans winata SH, etc aja gak ada nyali untuk ini. So, biarkan lah....hemat obat darah tinggi.
kata orang bijak, berbuat sesuai kata hati toh? kalo hati anda gak sreg, kenapa harus dipaksakan. * sorry kalo kalimat ini agak membingungkan...*
bagaimana selanjutnya terserah anda......
--------------------------------- The fish are biting. Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
[Non-text portions of this message have been removed]
thanks atas jawabannya. saya tanya lagi dikit nech.
1. Jadi mestinya gimana merayakan imlek?! kalo perayaan di hotel itu dikategorikan sebagai "mewah"?
lagipula, itu imlek resminya dirayakan sebagai hari raya agama Konghucu di Indonesia.
setiap hari besar keagamaan, dihadiri oleh Presiden sbg simbol penghormatan pemerintah RI atas hari besar agama tersebut.
2. Barongsai ngamen, saya pernah liat di Muara Karang. ya mirip dgn pengamen liar dan kalangan gereja yg lagi cari donasi.
apa ini salah?! melanggar ketertiban umum ya?! pasal apa? mestinya Barongsai main di mana?
3. Zhongguo memang gede. sekitar 9 juta km persegi lebih luasnya. terdiri dr 56 suku. tapi asal dari tradisi, ekspresi & atribute Tionghoa di sluruh dunia ya dari Zhongguo. gak bisa dipisah dan diputus gitu aja.
jawaban No.4 & 5 gak nyambung Koh Cing Lung. Kelenteng Sam Po Kong direnovasi gak ada urusannya dgn mau "meniru abis-abisan" kelenteng di RRT.
gua liat Bun Tek Bio, Toa Se Bio, Chen te Yen dsb itu ya gak ada bedanya dgn foto-foto bio di Singapura, Taiwan dan RRT. mungkin kalah bagus iya, tapi secara atribute dan ciri khas ya mirip. dominan warna merah, ada ukiran naga, ada huruf Tionghoa dsb.
nah, pertanyaan awal saya ke Mas Greysia itu masalahnya di mana supaya gak dituduh mau jiblak RRT abis-abisan?! mesti ganti huruf mandarin dgn huruf batak? mesti ganti ukiran Tionghoa dgn batik SOlo atau apa??
itu mesjid CHeng HO di Surabaya dibangun dgn arsitektur Tionghoa. beda jauh dgn arsitektur mesjid gaya Arab. apa itu salah?!
PITI Jl. Lao Tze mau bangun mesjid sejenis dgn gaya arsitektur Tionghoa. mirip kelenteng. apa itu juga salah?! bakar aja semua atribut Tionghoa kalo begitu. kalo perlu bakar diri kita yang beretnis Tionghoa ini. biar gak jadi Tionghoa lagi, tapi jadi debu.
6. bisa kasi contoh apa banjir budaya "baru" Tiongkok Utara?? selama masa Soeharto, cuma masuk film-film Hong Kong yang dibintangi oleh Andy Lau, Steven Chow cs.
saat ini, ada F4 dari Taiwan. itu Budaya "baru" RRT??
7. Nah, masalah patung, Koh Cing Lung bener tuh. si Mas Greysia itu ngomong apa?! kok kayanya anti bener sama RRT. sampe patung aja diributin.
La, pernah masuk bio atau kelenteng gak si Mas Grey itu?! itu patung Kongco yang ada di Bio berusia udah ratusan tahun. gak pernah beli patung dari RRT.
kalo pun ada patung baru ya karena gak ada yg jual di RI. masa mau diganti sama patung Semar, Petruk & Gareng?! ga nyambung kan.
best regards, Kenken
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "you_qing_long"
<you_qing_long@...> wrote: > Banyaklah > Tapi ya itu mah komoditas bisnis. > Liat kalu mo imlek ada aje tawaran imlek di hotel. > Baunya gak jauh dari bisnis.
> Kalu yg ngadain pejabat atawa pengusaha seh itu kalu kata gw seh > lage cari nama. > Lha perayaan imlek khan benernya silaturahmi boooooooooooo
> > 2. ada apa dgn tarian Liong yang anda > > katakan ada di mana-mana? gak bole ya? > > di mana aja ada tarian Liong & Barong? > > apa mereka mengganggu ketertiban umum?
> Pernah denger barong ngamen gak ?
> > 3. Siapa yg "memaksa" kita menyamakan > > level kita dgn budaya RRT & Taiwan? > > memangnya apa aja bedanya? kan asal budaya > > Tenglang kita itu dari Zhongquo.
> Zhongguo itu gede , pernik2 budaya org Khe ama Hokian aja bisa beda. > > 4. Bangunan kelenteng kita yang unik dan > > tidak ada lagi di RRT? itu artinya apa? > > maksudnya apa?
> > 5. Kapan ada kasus Bio dibongkar, dipugar > > & dibuat semirip mungkin dgn bentuk kuil-kuil > > di RRT & Taiwan. anda bisa sebut contoh > > kasus & nama Bio-nya? harusnya gimana? > > bentuk kuil "khas" Tionghoa di Indonesia > > itu seperti apa?? apa gentengnya pake > > anyaman daun kelapa spt atap istana pagar > > ruyung??
> nomor 4 gw jawab di nomor 5.
> Lu pigi ke Sampokong sono heuhehehehehehehehe > Pohon Rante yg khas SAMPOKONG en gak ada dimana2 aje disemen ama > dicor beton. > Amburadullah pokokne. > Beda ama taon 80an
> > 6. banjir budaya "baru" dari RRT itu contohnya > > apa toch Mas? saya ndak ngerti. apa aja sih > > yang anda maksud dengan budaya "baru" dari RRT > > itu??
> Budaya RRT yg ngalir ini budaya RRT UTARA yg JELAS BEDA SAMA > MAYORITAS HUAKIAO DI Indonesia yg asalnye dari selatan.
> > 7. patung-patung made in RRT?? apa aja? harus > > beli di mana? apa di Tulungagung ada industri > > kerajinan lempung, logam, kayu yang bikin patung > > kongco, budha, kwan im, kwan kong dsb??
> Hm emang seh sebenernya banyak patung2 yg ada itu banyakan made in > RRT. Kalu nurut gw seh wajar. > Kalu urusan2 geser menggeser seh rasanya kagak ya mbak. > Biasanya patung yg utama ataw asli atawa awal itu tetep mesti ada. > Gak dibuang.
> > sori nih banyak tanya Mas Grey. tapi sungguh > > saya gak ngerti deh. thanks..
> > > Betul kata Herny-moay.... kalo kita tidak jor-joran mengenai > etnik > > sendiri... maka kita akan hidup lebih mudah dimanapun. > > meminimalisasi perbedaan merupakan strategi yang simpel. kalo > memang > > merasa berbeda, cukup keep on the mind, not in the behavior.
> > > saya pribadi masih belum bisa menerima 100% akulturasi budaya > > tionghoa ke budaya lokal (aduh saya ga tau ini istilahnya tepat > apa > > ga ya... ato lebih tepat asimilasi). saya masih menganggap > > pelestarian budaya saya lebih penting daripada (misalnya) > > keselamatan saya karena diancam mati kalo masih kekeuh memegang > > adat. tapi, saya keep that in mind, dan tidak menekan behavior > saya > > ke arah itu. saya tetap mau selamat juga kan.... semampu saya... > > that's the part of survival in this world.
> > > Setiap kali saya mendengar jor-joran imlek di hotel mewah, > > dihadiri presiden, tarian liong dimana mana, bahkan ada yang > > memanipulasi barongsai untuk mengamen di restoran2 pinggir jalan, > > saya lebih suka keadaan dimana orang tionghoa masih direpresi..... > > dengan kebebasan ini, rasanya lebih gamang. Sangatlah normal > secara > > psikologi dimana kita merasakan represi kita akan bersatu, tapi > > begitu ikatan itu longgar.... kita malah tercerai berai.
> > > Apalagi saya sangat tidak suka dengan membanjirnya budaya- > > budaya "baru" dari RRC yang sekarang ini dibawa kembali ke > Indonesia > > dengan label inilah budaya Tionghoa, kita 'dipaksa' harus > menyamakan > > level kita yang lebih tradisional (dan sudah ada elemen > percampuran > > dengan budaya setempat), dengan budaya RRC atau Taiwan yang > > sekarang. Bangunan klenteng kita yang unik dan tidak ada lagi di > RRC > > dipugar, dibongkar, dan dibikin semirip mungkin dengan bentuk > kuil2 > > di Taiwan atau RRC.... idih, kayak orang ga punya ktp aje, harus > > minjem ktp orang lain.
> > > Patung-patung Buddha kuno yang kita miliki di klenteng- klenteng, > > digeser dengan patung-patung made in Taiwan.... busyet deh... kita > > ini makanan empuk bagi pebisnis2 RRC ama Taiwan. > > > Toh, pada akhirnya, tiap kali kita 'pulang kampung' ke Cina > sana, > > kita tetap diberi identitas "orang luar". saya rasa sebagian besar > > orang RRC sekarang masih menganggap orang Tionghoa Indonesia > sebagai > > mangsa empuk yang sangat konsumtif, banyak duit, dan rela > > mengeluarkan duit berapa saja asal diterima sebagai 'saudara > dekat' > > mereka. orang Taiwan malah cuma menganggap orang Tionghoa > Indonesia > > entah sebagai tempat mencari 'istri' yang rajin dan bisa mengemong > > anak dan tidak matre (alias gampang dikibulin), atau calon > pembantu > > rumah tangga, ato yang kaya - investor karena anaknya banyak yang > > disekolahkan disana untuk blajar mandarin.
> > > some of us will do anything to be accepted by their > > standard................. pathetic...
> > > ----- Original Message ---- > > > From: Herny <heirnee@> > > > To: budaya_tiong...@yahoogroups.com > > > Sent: Monday, May 21, 2007 10:23:42 AM > > > Subject: RE: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di > > Los Angeles
> > > Saya juga setuju dengan pendapat anda. Stereotipe orang tionghoa > > disini > > > identik dengan punya uang banyak, sikap masa bodoh, dan > cenderung > > eksklusif. > > > Sayangnya, hal ini ada benarnya juga, walaupun tidak 100%. > Apalagi > > > akhir-akhir ini sejak jaman Gus Dur, orang-orang tionghoa yang > > selama ini > > > ditekan tiba-tiba diberikan kebebasan, yang timbul malah euforia > > yang > > > berlebihan dan sibuk memamerkan identitas kecinaannya.
> > > Sudah saatnya kita bersikap lebih peduli terhadap hal-hal > seperti > > ini. > > > Marilah kita mencoba berpikir dengan jernih. Saat kita hanya mau > > bergaul > > > dengan sesama etnis tionghoa, bukankah kita menjadi eksklusif? > > Saat kita > > > merayakan imlek besar-besaran di hotel mewah, yang sebenarnya > > tidak perlu, > > > ada berapa banyak orang Indonesia lain yang masih hidup miskin; > > jika saya > > > menjadi mereka, tidakkah akan muncul rasa iri dan pikiran bahwa > > orang Cina > > > kaya-kaya. > > > ---------- deletedRecent Activity > > > 23New Members > > > Visit Your Group > > > SPONSORED LINKS > > > Dan > > > Indonesian > > > Indonesian language course > > > Indonesian language learn > > > Yahoo! Mail > > > Get it all! > > > With the all-new > > > Yahoo! Mail Beta > > > Y! Messenger > > > Want a quick chat? > > > Chat over IM with > > > group members. > > > Y! GeoCities > > > Share Photos > > > Put your favorite > > > photos online..
Neng Ully yang baik (emang baik karena tidak sakit, huhuhu)
Semua budaya harus dilestarikan, baik budaya tionghua indonesia maupun yang datang lagi dari sono, budaya tionghua di sini sudah berkembang jauuuhh, seperti gambang kromong etc, potehi, dls itu 'kan hampir punah, jadi kalo mau melestarikan ya itu dulu lah, kalo kita sekarang mau merengkuh budaya tionghua dengan melalap mentah-mentah yang datang dari RRC dan Taiwan, lha nanti siapa yang mau melestarikan budaya tionghua yang berkembang disini ?.
Tapi memang aneh ya, Loo Kay baru saja makan semeja dengan Parakitri Tahi Simbolon dari Gramedia, ybs cerita bahwa sebenarnya sumber awal sastra Indonesia adalah bukan sastra Melayu tetapi sastra Baba yaitu keturunan tionghua yang mulai dengan surat kabar dan terbitan buku jeman Belanda dulu dengan bahasa Melayu Pasar atau Melayu Rendah, termasuk diantaranya genre cerita silat : Boe Hiap, Gie Hiap, Kiam Hiap de el es. Maka di jaman euphoria ini Gramedia menerbitkan kembali buku seri sastra tionghua di jaman belanda, seperti misalnya Bunga Roos dari Cikembang karangan Kwee Tek Hoay (1927), tapi apa daya jualannya nyungsep, rencana buat 25 seri cuma sampai 9 sudah habis napas. Jadi melestarikan yang mana dengan cara apa juga jadi masalah. Masalah cerita silat misalnya, karena nostalgila opa-opa kayak Loo Kay ini maka penerbitan kembali memakai Hokkian (udah pasti ada yang beli), kalau pakai pin yin, gambling juga, karena yang muda lebih gemar chicklit dan Tiger Wong dan yang tua seperti saya otaknya sudah susah untuk transformasi ke pinyin. Tapi nggak usah bingung, tenaga kita 'kan terbatas, coba lestarikan satu segmen saja kalau kita kerjakan dengan baik sudah lumayan kok. Salam, Tan Loo Kay
[Non-text portions of this message have been removed]
Debat??? Itu belum nyampe debat donk! Baru pemanasan. Ibaratnya mau tarung, belon melancarkan jurus, baru dorong-dorongan, wakakaka.
BTW, apakah Anda tidak tahu bahwa kalimat: "Ente sama sekali tidak menunjukkan simpati." dan "Kalo ente jadi korban, gue pikir, ente ngga bakalan berani omong kayak begini, enteng banget kayak ga ada beban." juga termasuk "Attack the person, not the argument" alias ad hominem?
Huehuehuehue, hanya sekedar mengingatkan. Anda mau debat yang ikut aturan? tanpa logical fallacy? Boleh, ayuk! Udah lama cari sparring untuk descent fight. Cihuy!
Nah mau mulai darimana sekarang?
1. Dari menentukan lapangan dulu ya. Anda berdiri di lapangan yang mana? a. Yang menyatakan bahwa kerusuhan Mei 98 adalah kerusuhan rasial. b. yang menyatakan bahwa kerusuhan Mei 98 adalah BUKAN kerusuhan rasial?
2. Menanggapi statement Anda: "Gue pikir, isu rasial menjadi mencuat salah satunya akibat adanya gang-raped, mengingat korbannya adalah gadis-gadis etnis tionghua. Mengapa kok yang kena gadis2 tersebut? Hal ini kemudian diperkuat dengan posting salah seorang member disini yang berisi laporan dari UN. Misfortune inilah yang membuat orang-orang bereaksi spontan, mendapatkan justifikasi bahwa kerusuhan tersebut "berbau rasial".
Saya setuju dengan pendapat yang ini. Isu kerusuhan rasial, menurut pengamatan saya, baru mulai muncul setelah adanya kisah Vivian yang menyebar via internet. Yang, kalau ngga salah - boleh dibetulin kalau ada info lain - mulai beredar lewat dua minggu- hempir sebulan setelah kerusuhan.
Tapi itu bukan satu satunya justifikasi orang akan adanya kerusuhan rasial, yang biasanya dibawa-bawa adalah toko-toko milik Tionghoa yang kena jarah atau kena bakar. Melupakan bahwa hampir di setiap kerusuhan, yang kena jarah ya toko donk, masa mau jarah kantor pos. Bahwa pemiliknya tionghoa, ya lantaran orang tionghoa banyak berperan di sektor dagang/distribusi barang. Toh banyak juga toko milik pribumi yang kena rusak dan kena jarah.
Tapi bukan berarti menutup kemungkinan ada pihak yang mencoba mendompleng untuk kepentingan pribadi, ikut menyebarkan isu RASIAL ini. Sebab, merebaknya kasus perkosaan, yang sampai sekarang saya percaya memang benar terjadi, kemudian secara sistematis dihembuskan dikipas-kipas. Nah, kenapa bisa ter-hembus secara sistematis, itu juga menarik untuk dibahas.
*kok jadi ber saya-saya neh, biasanya cuek gue-elu...hehehehe*
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Others" <others@...> wrote:
> Ternyata ngga guna deh debat ama ente. Ngga baca email saya dengan baik > lagi. Kapan saya > pernah TERIAK-TERIAK kalau ini adalah kerusuhan rasial? Gimana sih...Ente > nuduh sembarangan aje. > Kalau kehabisan argumen ya jangan begitu donk caranya...
> Awalnya, kupikir gue bisa "memancing" counter-argumen anda yang menarik. > Statement ente > teoritis sekali, sok diplomatis dan keliatannya OK tapi implementasi dari > ente punya statement ga > bakalan ada yang bisa melakukan, apalagi korban.
> Emang gampang buang beban dari masa lalu yang kelam? Hehe....Kalo ente jadi > korban, > gue pikir, ente ngga bakalan berani omong kayak begini, enteng banget kayak > ga ada beban.
> Kalau mau nulis flame email ya ngga papa, sah-sah aja, cuman yang bagus > dong. > (Wih...bakal ente counter deh, dengan berkata, "emang tulisan loe bagus, > bung others?". Hehehe...). > Aturan dalam berdebat adalah, "Attack the argument, not the person.". > Because when you do, it is > considered as a personal attack. Be warned.
> Gue pikir, isu rasial menjadi mencuat salah satunya akibat adanya > gang-raped, mengingat korbannya > adalah gadis-gadis etnis tionghua. Mengapa kok yang kena gadis2 tersebut? > Hal ini kemudian diperkuat > dengan posting salah seorang member disini yang berisi laporan dari UN. > Misfortune inilah yang membuat > orang-orang bereaksi spontan, mendapatkan justifikasi bahwa kerusuhan > tersebut "berbau rasial". > Dengan kata lain, "Ngono yo ngono mung ojo ngono.".
> Sampai sekarang, kasus ini kan gelap, mirip "kentut", you cannot see but you > can smell. > Who did it? No one know.
> Just another my "flame" emails for today...
> _____
> From: budaya_tiong...@yahoogroups.com > [mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of Ulysee > Sent: Rabu, Mei, 23 2007 10:48 > To: budaya_tiong...@yahoogroups.com > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
> Hehehehe, baru dibilang cengeng aja udah sengit.
> CENGENG Itu kalu teriak RASIAL-RASIAL melulu! Seperti kamu. Weks!
> Masa lalu bisa jadi beban, kalau dianggap sebagai beban, > yang digembol terus terusan tidak mau dilepaskan. > Beban itu bisa dilepaskan, kalau mau melihat jauh ke depan, > Dan masalalu sebagai pembelajaran, bukan sekedar beban.
> Nah, kalau mau melangkah, pertama-tama lepasin beban "rasial" itu dulu.
> Kenapa kata "rasial" itu gue anggap beban? > Sebab selama di kepala membawa-bawa " rasial" > Ini masalah nggak akan bisa maju kemana-mana.
> Akan mandek karena memaksakan isu "kerusuhan rasial" > Mencari cari pembenaran atas nama rasial > Yang akan dengan mudah dipatahkan orang.
> Itu, makanya gue anggap beban, tau kaga!
> -----Original Message----- > From: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com > [mailto:budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com] On Behalf Of Others > Sent: Tuesday, May 22, 2007 8:51 PM > To: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles > Importance: High
> Tulisan anda klise banget.
> Cengeng? > Hm...Pemilihan kata yang kasar sekali, mengingat betapa besar > penderitaan > para korban kerusuhan tersebut. Ente sama sekali tidak menunjukkan > simpati. > Lalu, sebenarnya siapa sih yang Ente sebut sebagai "cengeng" itu? > Para korban? Atau orang-orang yang bersimpati pada korban?
> Menurut saya, seandainya para korban membaca tulisan anda, hati mereka > akan tergetar dan menangis. Mereka tidak mendapatkan keadilan (atau > bolehlah saya berkata "Belum"). Tetapi penderitaan mereka sudah harus > "ditutup" atas nama "Masa Lalu".
> Ente jangan lupa, masa lalu yang kelam yang tidak tuntas akan terbawa > terus ke masa depan. Menjadi beban yang semakin lama semakin berat. > Jika kita berjalan kedepan dengan membawa beban yang berat, seberapa > jauh kita bisa berjalan?
> Cape deh...
> _____
> From: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com > [mailto:budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com] On Behalf Of Ulysee > Sent: Selasa, Mei, 22 2007 17:07 > To: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
> Kalau BISA dibuktikan tentu sekarang sudah diangkut ke forum > Internasional donk.
> Tapi mengerucutkan kerusuhan Mei 98 menjadi kerusuhan rasial itu lebih > "merugikan" daripada "menguntungkan" semua pihak.
> Lebih baik menerima tragedi MEI 98 itu sebagai tragedi Bangsa, dan > memperjuangkan hak-ham manusia sebagai warganegara, dimana negara > berkewajiban melindungi penduduknya dan warganegaranya tanpa kecuali. > Lebih besar potensi untuk kerjasama dengan banyak pihak, menuntut > serentak bersama sama.
> Daripada cengeng berteriak kerusuhan rasial melulu, gak ada juntrungan!
> There-there!
> -----Original Message----- > From: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com > [mailto:budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com] On Behalf Of Others > Sent: Sunday, May 20, 2007 11:11 AM > To: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > yahoogroups.com > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles > Importance: High
> <SKIP>
> Tetapi bagaimana dengan kasus-kasus gang-raped yang "denger- denger" > dialami oleh gadis-gadis etnis tionghua? Jika hal ini BISA dibuktikan > dan > diangkat ke forum internasional (walaupun saya sangat paham hal ini > hampir > mustahil, mengingat mana ada gadis korban perkosaan yang mau...), maka > secara > otomatis kerusuhan tersebut langsung dapat dikategorikan sebagai > kerusuhan > rasial > dan seharusnya pihak berwenang, baik dalam maupun luar negeri, melakukan > pengusutan > secara tuntas. Saya berpikir ini adalah kuncinya.
> Sulit?
> Just another my two cents...
> [Non-text portions of this message have been removed]
> [Non-text portions of this message have been removed]
> [Non-text portions of this message have been removed]
> [Non-text portions of this message have been removed]
Nggak OOT donk kalau masih dihubungkan sama MEI 98. Lagian juga ngga ada larangan ngomongin politik, sebab katanya politik bagian dari budaya, dan punya pengaruh sama tionghoa Indonesia. Hihihihi.
Kyahahahaha, gitu deh, kalau garis batas nya abu abu, jadi bingung.
Okeh kalau gitu ga usah omong Malari de el el, Ngomong Mei 98 aja,
Gimana bisa dianggap Kerusuhan Mei 98 itu sebagai "Kerusuhan yang direkayasa untuk mempertahankan kekuasaan" itu pegimana teorinya?
Kalau ada yang bilang itu OOT, gue mau nuntut semua judul PERINGATAN TRAGEDI MEI 98 dicabut dari milis ini, hehehee.
Mau ngomongin puisi terjemahan zhou-xiong, boleh, di judul lain dunks, ah.
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Akhmad Bukhari Saleh"
> ----- Original Message ----- > From: Ulysee > To: budaya_tiong...@yahoogroups.com > Sent: Wednesday, May 23, 2007 12:31 PM > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
> > Cerita dunks, waktu Malari gimana? > > Di lapangan Banteng kayak apa? > > Pembajakan Woyla juga gue baru denger sekarang, ntar gue google ah. > > Bom Stupa Borobudur bisa mempertahankan kekuasaan? > > Gemana tuh ceritanya tuh? Kayaknya seru tuh. > > Kerusuhan yang direkayasa untuk mempertahankan kekuasaan itu > > pegimana teorinya?
> -------------------------------
> He he he... panjang tuh ngomonginnya. > Walau menarik, tetapi OOT lah sama milis budaya tionghoa ini.
> Di sini lebih asyik ngomongin puisi terjemahan Tjio-heng aja ah...
Kasus perkosaan yang terjadi: 1. apakah dilakukan secara terorganisir, atau secara spontan? 2. kalau terorganisir, siapa/ kelompok mana yang mengorganisir? 3. kalau terorganisir, untuk kepentingan apa? apa tujuannya? Apa motivasinya?
4. dari opini: "hampir 80 persen responden percaya bahwa pada Mei yang lalu sebuah pemerkosaan massal terjadi"
pertama-tama, harus kembali ke istilah "PERKOSAAN MASSAL"
1. apa yang bisa dikategorikan sebagai perkosaan massal?
2. Apakah sudah diketahui umum, bahwa istilah "gang rape" dengan "mass rape" itu berbeda arti dan pengertiannya?
3. Sudahkah disadari, bahwa salah persepsi dan salah penggunaan istilah, bisa mementahkan argumen dan inti permasalahan yang mau diangkat?
Dari sinilah awal kontraversi tidak berkesudahan yang tidak berujung! Adanya perbedaan persepsi terhadap suatu istilah!
> Kekerasan seksual terhadap wanita etnis China memang > benar-benar terjadi dan diakui sendiri oleh pemerintah > waktu itu. Tapi kejahatan ini tentunya bukan > dilakukan secara spontan oleh rakyat, tapi oleh > kelompok terorganisir untuk kepentingan tertentu.
> Ini kutipan dari TEMPO Edisi 6-12 OKTOBER 1998, topik > utama Pemerkosaan: Cerita dan Fakta
> Opini, halaman 15
> Paragraf 1: > Tentang pemerkosaan, ada begitu banyak cerita dan tak > begitu banyak fakta. Ini tidak berarti bahwa orang > dengan gampang dapat mengatakan bahwa semua laporan > tentang brutalitas yang berlangsung dalam kerusuhan > Mei lalu terhadap kalangan keturunan Cina, hanya > teriakan kosong yang tidak menyenangkan. Majalah ini > menunjukkan bahwa kekerasan itu memang pernah terjadi. > Sejumlah perempuan, seperti Mona dan gadis-gadis lain > (lihat halaman 63), dipaksa sekelompok orang secara > seksual. Dan mereka dijahanami karena mereka berasal > dari ras tertentu. Mereka Tionghoa.
> Paragraf 10: > Bagaimanapun, Tim Relawanlah, dengan laporannya yang > mengejutkan itu, yang telah menggerakkan masyarakat > dan pemerintah untuk menjadi saksama dalam menangani > kekerasan ini. Mungkin karena itu pula, seperti > indikasi yang kami peroleh dari jajak pendapat TEMPO > interaktif, hampir 80 persen responden percaya bahwa > pada Mei yang lalu sebuah pemerkosaan massal terjadi – > meskipun itu tidak menunjukkan bahwa kejadian itu > sudah sepenuhnya tersingkap. Pemerintah yang semula > hanya bisa bilang "tidak benar ada pemerkosaan" juga > akhirnya bereaksi secara positif. Sebuah tim gabungan > pencari fakta dibentuk. Menteri Kehakiman bahkan > mengatakan pemerintah mengakui bahwa kekerasan seksual > terhadap perempuan keturunan Cina itu memang terjadi.
> Halaman 16 paragraf 4: > Para dokter, atau siapa saja yang tak bersedia hidup > terus menerus dengan kebencian, tak layak diam. > Setiap bangsa perlu berbersih diri. Untuk itu, ia > perlu mengakui bahwa dirinya mungkin saja – atau > memang – pernah kotor.
> --- Others <others@...> wrote:
> > Tetapi bagaimana dengan kasus-kasus gang-raped yang > > "denger-denger" > > dialami oleh gadis-gadis etnis tionghua? Jika hal > > ini BISA dibuktikan dan > > diangkat ke forum internasional (walaupun saya > > sangat paham hal ini hampir > > mustahil, mengingat mana ada gadis korban perkosaan > > yang mau...), maka > > secara > > otomatis kerusuhan tersebut langsung dapat > > dikategorikan sebagai kerusuhan > > rasial > > dan seharusnya pihak berwenang, baik dalam maupun > > luar negeri, melakukan > > pengusutan > > secara tuntas. Saya berpikir ini adalah kuncinya.
> > Sulit?
> > Just another my two cents...
_____________________________________________________________________ _______________Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
Dr. Ir, nyindir apa muji sih, nggak jelas, wakakakaak.
Tull, saat Madeline Albright buka suara, langsung kejadian. Jebret!!! Jadi boleh donk nuduh keterlibatan Agen Asing sebagai trigger kerusuhan?? Heheheheh.
Apalagi waktu Sandyawan bawa kasus Mei 98 ke depan kongres As, reaksinya cuma "jadi butuh bantuan apa?" sehingga beliau kheki seolah olah dateng cuman mau ngemis dana, atau apa gitu lah.
Ngga ada itikad untuk ikut campur tangan menegakkan keadilan... seperti yang biasa didengungkan. Tanya kenapa.....? hohohoho.
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, drirawan@... wrote:
> Koq tambah bermutu yah ? > Setelah Madeleine Albright buka suara saat itulah sekringnya
Lookay, berhubung kayaknya sekarang banyak yang euphoria sama budaya yang impor punya. Gue mau fokus sama budaya yang nyaris punah aje deh. Tapi tolong kasi pencerahan dunks, selain gambang kromong, wayang potehi, kebaya encim, apa lagi akulturasi dua budaya yang masih bisa dipertahankan?
mau bikin LIST nih, untuk bikin peta, apa lagi yang bisa dilakukan untuk mempertahankan budaya yang ada.
sambil mencoba menyerap yang impor untuk memperkembangkan budaya yang ada gitchu lhooohhh.
sebelum terlambat sisa tinggal sepetak kayak candranaya.... hiks.
Akhirnya gue memilih budaya yang bisa gue nikmati aje deh, hehehe.
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Tantono Subagyo"
> Neng Ully yang baik (emang baik karena tidak sakit, huhuhu)
> Semua budaya harus dilestarikan, baik budaya tionghua indonesia maupun yang > datang lagi dari sono, budaya tionghua di sini sudah berkembang jauuuhh, > seperti gambang kromong etc, potehi, dls itu 'kan hampir punah, jadi kalo > mau melestarikan ya itu dulu lah, kalo kita sekarang mau merengkuh budaya > tionghua dengan melalap mentah-mentah yang datang dari RRC dan Taiwan, lha > nanti siapa yang mau melestarikan budaya tionghua yang berkembang disini ?.
> Tapi memang aneh ya, Loo Kay baru saja makan semeja dengan Parakitri Tahi > Simbolon dari Gramedia, ybs cerita bahwa sebenarnya sumber awal sastra > Indonesia adalah bukan sastra Melayu tetapi sastra Baba yaitu keturunan > tionghua yang mulai dengan surat kabar dan terbitan buku jeman Belanda dulu > dengan bahasa Melayu Pasar atau Melayu Rendah, termasuk diantaranya genre > cerita silat : Boe Hiap, Gie Hiap, Kiam Hiap de el es. Maka di jaman > euphoria ini Gramedia menerbitkan kembali buku seri sastra tionghua di jaman > belanda, seperti misalnya Bunga Roos dari Cikembang karangan Kwee Tek Hoay > (1927), tapi apa daya jualannya nyungsep, rencana buat 25 seri cuma sampai 9 > sudah habis napas. Jadi melestarikan yang mana dengan cara apa juga jadi > masalah. > Masalah cerita silat misalnya, karena nostalgila opa-opa kayak Loo Kay ini > maka penerbitan kembali memakai Hokkian (udah pasti ada yang beli), kalau > pakai pin yin, gambling juga, karena yang muda lebih gemar chicklit dan > Tiger Wong dan yang tua seperti saya otaknya sudah susah untuk transformasi > ke pinyin. > Tapi nggak usah bingung, tenaga kita 'kan terbatas, coba lestarikan satu > segmen saja kalau kita kerjakan dengan baik sudah lumayan kok. Salam, Tan > Loo Kay
> [Non-text portions of this message have been removed]
> Saya tidak setuju dengan pendapat Sdri. Greysia di > bawah ini. Menurut saya, pendapat semacam ini adalah > contoh permainan "menghukum diri sendiri" akibat > kejadian di masa lalu. Pemahaman semacam ini akan > merugikan etnis China dan pihak pribumi sendiri. > Penjelasannya bisa dilihat di topik yang sama, yang > saya ubah sedikit judulnya menjadi "Membantu Pribumi > Menghindari Pembodohan".
> > Betul kata Herny-moay.... kalo kita tidak jor-joran > > mengenai etnik sendiri... maka kita akan hidup lebih > > mudah dimanapun. meminimalisasi perbedaan merupakan > > strategi yang simpel. kalo memang merasa berbeda, > > cukup keep on the mind, not in the behavior.
> > saya pribadi masih belum bisa menerima 100% > > akulturasi budaya tionghoa ke budaya lokal (aduh > > saya ga tau ini istilahnya tepat apa ga ya... ato > > lebih tepat asimilasi). saya masih menganggap > > pelestarian budaya saya lebih penting daripada > > (misalnya) keselamatan saya karena diancam mati kalo > > masih kekeuh memegang adat. tapi, saya keep that in > > mind, dan tidak menekan behavior saya ke arah itu. > > saya tetap mau selamat juga kan.... semampu saya... > > that's the part of survival in this world.
> > Setiap kali saya mendengar jor-joran imlek di hotel > > mewah, dihadiri presiden, tarian liong dimana mana, > > bahkan ada yang memanipulasi barongsai untuk > > mengamen di restoran2 pinggir jalan, saya lebih suka > > keadaan dimana orang tionghoa masih direpresi..... > > dengan kebebasan ini, rasanya lebih gamang. > > Sangatlah normal secara psikologi dimana kita > > merasakan represi kita akan bersatu, tapi begitu > > ikatan itu longgar.... kita malah tercerai berai.
> > Apalagi saya sangat tidak suka dengan membanjirnya > > budaya-budaya "baru" dari RRC yang sekarang ini > > dibawa kembali ke Indonesia dengan label inilah > > budaya Tionghoa, kita 'dipaksa' harus menyamakan > > level kita yang lebih tradisional (dan sudah ada > > elemen percampuran dengan budaya setempat), dengan > > budaya RRC atau Taiwan yang sekarang. Bangunan > > klenteng kita yang unik dan tidak ada lagi di RRC > > dipugar, dibongkar, dan dibikin semirip mungkin > > dengan bentuk kuil2 di Taiwan atau RRC.... idih, > > kayak orang ga punya ktp aje, harus minjem ktp orang > > lain.
> > Patung-patung Buddha kuno yang kita miliki di > > klenteng-klenteng, digeser dengan patung-patung made > > in Taiwan.... busyet deh... kita ini makanan empuk > > bagi pebisnis2 RRC ama Taiwan. > > Toh, pada akhirnya, tiap kali kita 'pulang kampung' > > ke Cina sana, kita tetap diberi identitas "orang > > luar". saya rasa sebagian besar orang RRC sekarang > > masih menganggap orang Tionghoa Indonesia sebagai > > mangsa empuk yang sangat konsumtif, banyak duit, dan > > rela mengeluarkan duit berapa saja asal diterima > > sebagai 'saudara dekat' mereka. orang Taiwan malah > > cuma menganggap orang Tionghoa Indonesia entah > > sebagai tempat mencari 'istri' yang rajin dan bisa > > mengemong anak dan tidak matre (alias gampang > > dikibulin), atau calon pembantu rumah tangga, ato > > yang kaya - investor karena anaknya banyak yang > > disekolahkan disana untuk blajar mandarin.
> > some of us will do anything to be accepted by their > > standard................. pathetic...
Kerusuhan Mey '98 adalah fakta sejarah bangsa Indonesia. Ada banyak fakta, ini di antaranya
Bangunan-bangunan yang dibakar mayoritas milik orang tionghua. Ada orang-orang yang dianiaya, bahkan dianiaya hingga tewas. Ada wanita-wanita yang diperkosa, wanita-wanita cantik dan seksi, wanita-wanita yang cukup untuk membangkitkan birahi. Wanita-wanita malang itu, ada amoy, ada pembantu rumah tangga amoy, ada yang mirip amoy. Siapa yang berani memastikan bahwa wanita cantik dan seksi yang tidak mirip amoy tidak jadi korban? Ada orang-orang yang terpanggang hidup hidup di mall dan supermarket. Siapa yang berani memastikan bahwa orang-orang ini layak dipanggang hidup hidup? Mereka menjarah, namun siapa yang yang tahu alasan mereka menjarah? mungkin mereka sudah tidak makan teratur selama berhari-hari dan berfikir dengan ikut menjarah, keluarga dapat makan beberapa hari ke depan Siapa pula yang berani memastikan bahwa di antara para penjarah itu tidak ada amoi atau akeu?
Mengikuti jejak Kwik kian Gie, aku coba bermimpi Sang Agung beriku anugrah sehingga kutahu siapa melakukan apa pada bulan mey 1998
Ada yang merencanakan, mengerahkan Ada yang melampiaskan dendam Ada yang hanya ikut ikutan ada yang lepas kendali spontan ada yang muncul birahi begitu saja ada yang memimpikan sex sejak lama
Waktu berlalu ada yang bangga dengan tindakan mereka di mey '98 ada yang menyesal dan menanggung rasa bersalah ada pula yang menyesal karena tidak ikutan beraksi
Sang Agung bertanya padaku, apa yang hendak kau lakukan pada mereka? Darahku mendidih, hatiku meradang kukepalkan tinjuku tuk menyerang
Sang agung mengingatkan dimana kau saat itu? apa yang kau lakukan saat itu? apa yang bisa kau lakukan saat itu, namun tidak kau lakukan? apa upah yang layak bagimu?
Aku memejamkan mata, menatap nuraniku mengenang Mey 1998
Aku ketakutan saat itu berusaha menyelamatkan diri terkepung di antara manusia khilaf setelah itu berlalu aku kehilangan nyali
Kalau aku berjalan, mengelilingi Jakarta sambil mendendangkan lagu
padamu negeri aku berjanji padamu negeri aku berbakti padamu negeri aku mengabdi bagimu negeri jiwa raga kami
apa yang akan terjadi?
Atau kubujuk teman-teman mempersenjatai diri berkeliling Jakarta membabat siapa saja yang dikuasai angkara murka berapa banyak yang kan bergabung?
apa yang akan terjadi?
Atau bila ku jalan sendiri membabat siapa saja yang durjana berapa banyak yang tergugah dan menemaniku?
apa yang terjadi?
Atau bertahun tahun seblum mey '98 aku berkeliling meneladani Mozi berteriak teriak seantero negeri "Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri di empat penjuru dunia semuanya adalah saudara."
apakah mey hitam kelam 1998 tetap terjadi?
Termangu kumerenung, mey hitam kelam 1998 orang-orang tionghua bersatu padu tak ada yang pergi mengungsi tak ada yang egois, lari menyelamatkan diri sendiri berdiri tegap bahu membahu saling membela wanita dan lelaki yang dewasa dan anak anak
apa yang terjadi?
Mey hitam kelam 1998 adalah fakta sejarah bangsa Indonesia, sudah terjadi kenapa Sang Agung membiarkannya terjadi? sedang DIA berkuasa tanpa lawan
Mey hitam kelam 1998 kalau saja aku sedikit lebih peduli kalau saja aku sedikit memikirkan sesamaku kalau saja aku beraksi mungkin aku sekarang dapat berdiri tegak menatap Tian, menatap sesama dan berteriak I do my best!
Mey hitam kelam 1998 setiap kali kuacungkan telunjukku MENUDUH tiga jari menuduh diri sendiri satu jari yang trbesar menuduh Tian
goho hai hai
___________________________________________________________________________ _________Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the tools to get online. http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting
Dear ALL.... Coba masuk sendiri dekh.... Saya adalah seorang keturunan Cina yang memeluk agama ISLAM..... Saya melihat dan merasakan sendiri 2 sisi pendekatan dan perbedaan... Kadang2 saya suka cengar cengir bila ada orang Cina menjelekan ttg orang pribumi.... dan juga sebaliknya kalau ada orang pribumi yang menjelekkan org Cina....
He..he.... Kita tidak bisa me rubah orang lain kecuali diri kita sendiri !!!! Jangan menyalahkan siapa2,.... saya melihat bagaimana keluarga besar saya akhirnya bisa menerima keadaan saya.... UNTUNG... saya punya seorang ayah yang berpikir dan berjiwa besar.... dan juga punya seorang ibu mertua yang sangat bijaksana...
Keluarga besar suami saya mau belajar bahwa perbedaan kita tidak harus menjadi masalah besar.... KEBIASAAN tiap orang berbeda.... KEBIASAAN tiap kelompok itu berbeda...
Hera... BTW=
Pesan dari Mother Theresa. Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.
Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.
Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu. Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.
Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.
Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.
Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi, tetaplah berbahagia.
Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.
Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.
Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu .
Mother Theresa.
NB: Jika Anda berkenan, kirimkanlah email ini ke teman2 Anda.
> Saya juga setuju dengan pendapat anda. Stereotipe > orang tionghoa disini > identik dengan punya uang banyak, sikap masa bodoh, > dan cenderung eksklusif. > Sayangnya, hal ini ada benarnya juga, walaupun tidak > 100%. Apalagi > akhir-akhir ini sejak jaman Gus Dur, orang-orang > tionghoa yang selama ini > ditekan tiba-tiba diberikan kebebasan, yang timbul > malah euforia yang > berlebihan dan sibuk memamerkan identitas > kecinaannya.
> Sudah saatnya kita bersikap lebih peduli terhadap > hal-hal seperti ini. > Marilah kita mencoba berpikir dengan jernih. Saat > kita hanya mau bergaul > dengan sesama etnis tionghoa, bukankah kita menjadi > eksklusif?
Hallo Sdri. Herny. Pendapat bahwa etnis Tionghua cenderung eksklusif, hanya mau bergaul dengan etnis China saja dan tidak mau bergaul dengan orang pribumi sudah menjadi pendapat umum dan ini sering dianggap sebagai penyebab antipati orang pribumi terhadap orang China. Tapi saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat ini. Menurut saya, etnis China menjadi eksklusif karena ada sebabnya, yaitu karena orang pribumi terlebih dahulu "memusuhi" etnis China. Jelas sekali bahwa pada zaman sebelumnya etnis China di Indonesia dicemooh, ditolak, dan ditekan di Indonesia karena ke-China-annya. Kalau etnis China "dimusuhi" oleh pribumi seperti ini, bagaimana mungkin etnis China masih bisa bergaul baik dengan orang yang "memusuhi" mereka?
Sebaliknya, orang pribumi memusuhi etnis China juga bukan tanpa sebabnya. Sebab utamanya adalah "kebijakan pemerintah" lama yang "menekan dan mengkambinghitamkan" etnis China membuat orang pribumi secara otomatis mengikuti kebijakan ini dan selalu yakin bahwa orang China adalah "penyebab penderitaan mereka dan ancaman bahaya yang perlu diwaspadai".
Bisa dilihat, sesudah pemerintah baru memberi kebijakan "keterbukaan" terhadap etnis dan kebudayaan China, rakyat otomatis mengikuti kebijakan ini dan jauh lebih bisa menerima etnis China. Hal ini terasa sekali dalam kehidupan sehari-hari, tanpa didahului oleh adanya perubahan apa pun yang signifikan dari pihak etnis China sendiri, termasuk dalam hal ke-ekslusifan-nya.
Saya selalu yakin, bahwa penyebab paling utama tentang masalah etnis China di Indonesia, termasuk kerusuhan Mei, adalah "kebijakan pemerintah" dan bukan pada pihak pribumi (dalam arti rakyat) maupun pada etnis China sendiri.
Mengenai bahwa sesudah era keterbukaan terlihat ke-euforia-an yang berlebihan dan orang China yang sibuk memamerkan identitas ke-China-annya saya tidak pernah melihat hal ini. Bisakah Anda memberi contoh-contoh yang lebih nyata mengenai hal ini?
Saya malah melihat hal yang sebaliknya, bahwa sesudah era keterbukaan pun masih banyak etnis China yang sudah tercuci otaknya ataupun trauma atas penekanan di masa lalu, dan memiliki perasaan bersalah dan khawatir untuk menjadi terlalu China di Indonesia. Contohnya bisa dilihat dari beberapa e-mail di milis ini.
Saat kita > merayakan imlek besar-besaran di hotel mewah, yang > sebenarnya tidak perlu, > ada berapa banyak orang Indonesia lain yang masih > hidup miskin; jika saya > menjadi mereka, tidakkah akan muncul rasa iri dan > pikiran bahwa orang Cina > kaya-kaya.
Pernyataan semacam ini akan selalu disetujui oleh kebanyakaan orang sebagai suatu kebaikan yang perlu dijunjung tinggi. Tapi masalah benar atau tidaknya pernyataan ini adalah hal lain. Saya setuju untuk tidak melakukan perayaan yang berlebih-lebihan yang mencolok dan menimbulkan kecemburuan sosial. Tapi saya tidak setuju bahwa merayakan sesuatu dengan besar-besaran atau mewah itu terkesan buruk untuk dilakukan. Kalau kita memang punya sedikit keberuntungan tidak ada salahnya untuk menikmati hidup. Mengenai berapa banyak orang Indonesia lain yang masih miskin, kita harus prihatin dan berusaha membantu, tapi bukan berarti karena hal ini kita harus menindas kebahagiaan kita sendiri.
Selain kemisikinan di Indonesia, di dunia ini masih ada berjuta-juta penderitaan dan masalah lain yang perlu dibantu, mulai dari penyakit, kelaparan, peperangan, pelanggaran kemanusiaan dan sebagainya, tetapi apakah karena adanya hal ini kita harus menjadi martir? Berapa banyak kah orang yang tidak jadi menonton film di bioskop dan mendermakan uangnya kepada orang cacat yang meminta-minta di pintu bioskop karena nilai uang tersebut 100 X lipat lebih berharga untuk orang cacat tersebut daripada kesenangan mereka menonton film yang bisa mereka nikmati secara gratis di Televisi tanpa batas?
Selain itu ada satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam situasi ini, yaitu yang Anda sebutkan sebagai "muncul perasaan iri". Dalam beberapa kasus mungkin memang ada rangsangan berlebihan dari luar yang memungkinkan munculnya perasaan iri ini dalam diri seseorang atau masyarakat. Tapi seringkali perasaan iri ini sudah lebih dahulu bercokol dalam diri seseorang atau masyarakat tersebut. Hal ini disebabkan keterbatasan pemahaman, yang sebelumnya didahului oleh kurangnya pendidikan, dan kurangnya pendidikan ini sebelumnya didahului oleh kemiskinan. Saya bukan ingin membahas topik ini, tapi yang ingin saya tekankan adalah bahwa, selain dari pihak tertentu harus berusaha untuk tidak memunculkan rasa iri pada orang lain, tapi dari pihak orang lain tersebut juga harus berusaha belajar memahami dan membedakan apakah "perasaan iri" mereka ini rasional atau tidak. Ini adalah faktor yang penting.
Contoh lain, dengan kita mengimpor > barang-barang murah dari Cina; > makanan, buah, baju, dsb; ada berapa petani dan > pengusaha pribumi yang > bangkrut karena tidak mampu bersaing dan akhirnya > menyalahkan semua orang > Cina termasuk yang di Indonesia. Hal-hal seperti > jika tertimbun selama > bertahun-tahun, dengan sedikit provokasi saja, > tidakkah akan mengulangi > tragedi Mei 98?
Saya rasa hal mengimpor barang murah dari China tidak ada hubungan erat dengan masalah etnis China di Indonesia. Yang perlu diingat adalah bisnis bukanlah kegiatan sosial. Ada kode etik tertentu dalam bisnis yang harus kita pegang, tapi kalau dalam berbisnis kita selalu memikirkan berapa banyak orang yang tidak mampu bersaing dengan kita, jangan heran kalau bisnis kita tidak pernah maju, dan mungkin ini ciri-ciri bahwa kita lebih berbakat menjadi pekerja sosial daripada businessman. Seperti yang saya sebut di atas mengenai "rasa iri", dalam kasus ini juga selain dari satu pihak memang harus berusaha menerapkan bisnis yang saling menguntungkan, tapi dari pihak lain juga perlu adanya peningkatan pemahaman apakah "menyalahkan orang yang mengalahkan kita dalam berbisnis" adalah rasionil?
> Teman-teman, sebelumnya saya mohon maaf, tolong > jangan salah paham terhadap > apa yang barusan saya katakan. Saya sendiri adalah > etnis Tionghoa dan saya > sangat menghargai budaya tionghoa, saya mengagumi > bangunan Kota Terlarang yg > bisa benar-benar simetris, tembok cina yang begitu > panjang, saya suka minum > teh cina, saya suka nonton F4 dan dengar lagu cina, > dan saya juga mengalami > diskriminasi tapi hal itu tidak merubah kenyataan > bahwa saya adalah orang > Indonesia, yang lahir dan tinggal di Indonesia, dan > karenanya juga harus > peduli dengan kondisi bangsa ini
Saya pikir tidak perlu meminta maaf karena kita semua di sini sama dan
Woow....Romo Sandyawan SJ itu Keki sama Kongres US? dan nyinyir kaya emak-emak dgn full of negatif thoughts towards US COngress??
info dari mane? pernah ngomong langsung sama si Romo Sandyawan SJ?! baca di koran? koran apa?
ini kayak mukul bayangan yang gak pernah ada. tapi gak pernah berani seret Harto ke pengadilan HAM dgn tuduhan sebagai otak dan orang paling bertanggung jawab atas kerusuhan Mei 98.
best regards, Kenken
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "ulysee_me2"
> Dr. Ir, nyindir apa muji sih, nggak jelas, wakakakaak.
> Tull, saat Madeline Albright buka suara, langsung kejadian. > Jebret!!! > Jadi boleh donk nuduh keterlibatan Agen Asing sebagai trigger > kerusuhan?? Heheheheh.
> Apalagi waktu Sandyawan bawa kasus Mei 98 ke depan kongres As, > reaksinya cuma "jadi butuh bantuan apa?" > sehingga beliau kheki seolah olah dateng cuman mau ngemis dana, atau > apa gitu lah.
> Ngga ada itikad untuk ikut campur tangan menegakkan keadilan... > seperti yang biasa didengungkan. > Tanya kenapa.....? hohohoho.
> --- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, drirawan@ wrote:
> > Koq tambah bermutu yah ? > > Setelah Madeleine Albright buka suara saat itulah sekringnya > ngejepret.
di Jombang, tanggal 13 Mei 98 Kodim setempat memanggil semua kepala keluarga etnis Tionghoa yang berada di sana.
Dandim menjelaskan konteks dan gerakan apa yg sedang terjadi di Jakarta dan kota-kota kerusuhan lainnya. menurut sodara Tionghoa Jombang, pihak Kodim menyadari bahwa kerusuhan Mei 98 itu berindikasi gerakan rasialis.
kenapa pula cuma etnis Tionghoa yang dibriefing oleh pihak Kodim?!
adakah 1 orang Batax dibakar hidup-hidup dgn benzin motornya sendiri?! spt yang dialami oleh si Iwan Firman???
nah, si Iwan Firman itu digebuki 40-an pemuda tak dikenal non-tionghoa sambil diteriaki "bunuh cina", "bakar cina". kemudian si Iwan Firman dibakar hidup-hidup di tengah jalan.
dari contoh ini, jelas Kerusuhan Mei 98 ada indikasi gerakan ganyang cina.
Masalah Perkosaan Massal terhadap cewe Tionghoa, saya tidak kompeten menjawabnya. saya berharap hal itu tidak terjadi. tetapi satu-satunya mekanisme yang paling pantas menjawab seluruh kekeruhan itu adalah PENGADILAN HAM.
Penjarahan toko, restoran, properti Tionghoa jelas dapat disaksikan.
di Jl. Tubagus ANgke, sekitar THI dan Dutamas, Jembatan V adalah titik penjarahan dan pembakaran terhadap properti Tionghoa.
ada 1 restoran Padang ditengah-tengah toko & restoran Tenglang yang dijarah massa. tetapi ajaibnya, restoran Padang itu tetap berdiri tegak tanpa luka. bahkan kaca jendal pun sama sekali tidak pecah.
laporan TGPF jelas melaporkan bahwa kerugian materiil paling parah diderita oleh komunitas Tionghoa. itu artinya apa toh???
best regards, Kenken
--- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "ulysee_me2"
> Debat??? Itu belum nyampe debat donk! Baru pemanasan. Ibaratnya mau > tarung, belon melancarkan jurus, baru dorong-dorongan, wakakaka.
> BTW, apakah Anda tidak tahu bahwa kalimat: > "Ente sama sekali tidak menunjukkan simpati." dan > "Kalo ente jadi korban, gue pikir, ente ngga bakalan berani omong > kayak begini, enteng banget kayak ga ada beban." > juga termasuk "Attack the person, not the argument" alias ad hominem?
> Huehuehuehue, hanya sekedar mengingatkan. > Anda mau debat yang ikut aturan? tanpa logical fallacy? > Boleh, ayuk! Udah lama cari sparring untuk descent fight. > Cihuy!
> Nah mau mulai darimana sekarang?
> 1. Dari menentukan lapangan dulu ya. Anda berdiri di lapangan yang > mana? > a. Yang menyatakan bahwa kerusuhan Mei 98 adalah kerusuhan rasial. > b. yang menyatakan bahwa kerusuhan Mei 98 adalah BUKAN kerusuhan > rasial?
> 2. Menanggapi statement Anda: > "Gue pikir, isu rasial menjadi mencuat salah satunya akibat adanya > gang-raped, mengingat korbannya adalah gadis-gadis etnis tionghua. > Mengapa kok yang kena gadis2 tersebut? > Hal ini kemudian diperkuat dengan posting salah seorang member > disini yang berisi laporan dari UN. > Misfortune inilah yang membuat orang-orang bereaksi spontan, > mendapatkan justifikasi bahwa kerusuhan tersebut "berbau rasial".
> Saya setuju dengan pendapat yang ini. Isu kerusuhan rasial, menurut > pengamatan saya, baru mulai muncul setelah adanya kisah Vivian yang > menyebar via internet. Yang, kalau ngga salah - boleh dibetulin > kalau ada info lain - mulai beredar lewat dua minggu- hempir sebulan > setelah kerusuhan.
> Tapi itu bukan satu satunya justifikasi orang akan adanya kerusuhan > rasial, yang biasanya dibawa-bawa adalah toko-toko milik Tionghoa > yang kena jarah atau kena bakar. Melupakan bahwa hampir di setiap > kerusuhan, yang kena jarah ya toko donk, masa mau jarah kantor pos. > Bahwa pemiliknya tionghoa, ya lantaran orang tionghoa banyak > berperan di sektor dagang/distribusi barang. Toh banyak juga toko > milik pribumi yang kena rusak dan kena jarah.
> Tapi bukan berarti menutup kemungkinan ada pihak yang mencoba > mendompleng untuk kepentingan pribadi, ikut menyebarkan isu RASIAL > ini. Sebab, merebaknya kasus perkosaan, yang sampai sekarang saya > percaya memang benar terjadi, kemudian secara sistematis dihembuskan > dikipas-kipas. Nah, kenapa bisa ter-hembus secara sistematis, itu > juga menarik untuk dibahas.
> *kok jadi ber saya-saya neh, biasanya cuek gue-elu...hehehehe*
> --- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Others" <others@> wrote:
> > Wuah...
> > Ternyata ngga guna deh debat ama ente. Ngga baca email saya dengan > baik > > lagi. Kapan saya > > pernah TERIAK-TERIAK kalau ini adalah kerusuhan rasial? Gimana > sih...Ente > > nuduh sembarangan aje. > > Kalau kehabisan argumen ya jangan begitu donk caranya...
> > Awalnya, kupikir gue bisa "memancing" counter-argumen anda yang > menarik. > > Statement ente > > teoritis sekali, sok diplomatis dan keliatannya OK tapi > implementasi dari > > ente punya statement ga > > bakalan ada yang bisa melakukan, apalagi korban.
> > Emang gampang buang beban dari masa lalu yang kelam? Hehe....Kalo > ente jadi > > korban, > > gue pikir, ente ngga bakalan berani omong kayak begini, enteng > banget kayak > > ga ada beban.
> > Kalau mau nulis flame email ya ngga papa, sah-sah aja, cuman yang > bagus > > dong. > > (Wih...bakal ente counter deh, dengan berkata, "emang tulisan loe > bagus, > > bung others?". Hehehe...). > > Aturan dalam berdebat adalah, "Attack the argument, not the > person.". > > Because when you do, it is > > considered as a personal attack. Be warned.
> > Gue pikir, isu rasial menjadi mencuat salah satunya akibat adanya > > gang-raped, mengingat korbannya > > adalah gadis-gadis etnis tionghua. Mengapa kok yang kena gadis2 > tersebut? > > Hal ini kemudian diperkuat > > dengan posting salah seorang member disini yang berisi laporan > dari UN. > > Misfortune inilah yang membuat > > orang-orang bereaksi spontan, mendapatkan justifikasi bahwa > kerusuhan > > tersebut "berbau rasial". > > Dengan kata lain, "Ngono yo ngono mung ojo ngono.".
> > Sampai sekarang, kasus ini kan gelap, mirip "kentut", you cannot > see but you > > can smell. > > Who did it? No one know.
> > Just another my "flame" emails for today...
> > _____
> > From: budaya_tiong...@yahoogroups.com > > [mailto:budaya_tiong...@yahoogroups.com] On Behalf Of Ulysee > > Sent: Rabu, Mei, 23 2007 10:48 > > To: budaya_tiong...@yahoogroups.com > > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los > Angeles
> > Hehehehe, baru dibilang cengeng aja udah sengit.
> > CENGENG Itu kalu teriak RASIAL-RASIAL melulu! Seperti kamu. Weks!
> > Masa lalu bisa jadi beban, kalau dianggap sebagai beban, > > yang digembol terus terusan tidak mau dilepaskan. > > Beban itu bisa dilepaskan, kalau mau melihat jauh ke depan, > > Dan masalalu sebagai pembelajaran, bukan sekedar beban.
> > Nah, kalau mau melangkah, pertama-tama lepasin beban "rasial" itu > dulu.
> > Kenapa kata "rasial" itu gue anggap beban? > > Sebab selama di kepala membawa-bawa " rasial" > > Ini masalah nggak akan bisa maju kemana-mana.
> > Akan mandek karena memaksakan isu "kerusuhan rasial" > > Mencari cari pembenaran atas nama rasial > > Yang akan dengan mudah dipatahkan orang.
> > Itu, makanya gue anggap beban, tau kaga!
> > -----Original Message----- > > From: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > > yahoogroups.com > > [mailto:budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua% 40yahoogroups.com> > > yahoogroups.com] On Behalf Of Others > > Sent: Tuesday, May 22, 2007 8:51 PM > > To: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > > yahoogroups.com > > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los > Angeles > > Importance: High
> > Tulisan anda klise banget.
> > Cengeng? > > Hm...Pemilihan kata yang kasar sekali, mengingat betapa besar > > penderitaan > > para korban kerusuhan tersebut. Ente sama sekali tidak menunjukkan > > simpati. > > Lalu, sebenarnya siapa sih yang Ente sebut sebagai "cengeng" itu? > > Para korban? Atau orang-orang yang bersimpati pada korban?
> > Menurut saya, seandainya para korban membaca tulisan anda, hati > mereka > > akan tergetar dan menangis. Mereka tidak mendapatkan keadilan > (atau > > bolehlah saya berkata "Belum"). Tetapi penderitaan mereka sudah > harus > > "ditutup" atas nama "Masa Lalu".
> > Ente jangan lupa, masa lalu yang kelam yang tidak tuntas akan > terbawa > > terus ke masa depan. Menjadi beban yang semakin lama semakin berat. > > Jika kita berjalan kedepan dengan membawa beban yang berat, > seberapa > > jauh kita bisa berjalan?
> > Cape deh...
> > _____
> > From: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > > yahoogroups.com > > [mailto:budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua% 40yahoogroups.com> > > yahoogroups.com] On Behalf Of Ulysee > > Sent: Selasa, Mei, 22 2007 17:07 > > To: budaya_tionghua@ <mailto:budaya_tionghua%40yahoogroups.com> > > yahoogroups.com > > Subject: RE: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los > Angeles
> > Kalau BISA dibuktikan tentu sekarang sudah diangkut ke forum > > Internasional donk.
> > Tapi mengerucutkan kerusuhan Mei 98 menjadi kerusuhan rasial itu > lebih > > "merugikan" daripada "menguntungkan" semua pihak.
> > Lebih baik menerima tragedi MEI 98 itu sebagai tragedi Bangsa, dan > > memperjuangkan hak-ham manusia sebagai warganegara, dimana negara > > berkewajiban melindungi penduduknya dan warganegaranya tanpa > kecuali. > > Lebih besar potensi untuk kerjasama dengan banyak pihak, menuntut > > serentak bersama sama.
> > Daripada cengeng berteriak kerusuhan rasial melulu, gak ada > juntrungan!
Saya jadi tertarik ikut nimbrung sama komentar Zhou Xiong. Bukan pada topik kerusuhan Mei'98 yang didebat-kusirkan, tapi pada persoalan Target Objek dan Ekses. Saya sebenarnya benci dan dendam sekali pada Zhou Xiong karena sesuatu sebab. Lalu saya bikin rencana membunuhnya. Saya pasangi bom ke mobil Zhou Xiong. Tapi, Zhou Xiong tidak sendirian di dalam mobil itu, ada orang lain yang ikut numpang. Jadi, mampuslah mereka semuanya bersama Zhou Xiong akibat ledakan bom yang saya pasang itu. Karena yang mati bukan cuma Zhou Xiong sendirian, tetapi ada banyak orang lain. maka saya tidak boleh dituduh berencana membunuh Zhou Xiong, karena buktinya yang mati bukan Zhou Xiong seorang diri, ada lebih banyak orang lain kecuali Zhou Xiong!! Ahhhh, logika hukum macam apakah itu???
Salam,
Erik --------------------------------------------------------------- In budaya_tiong...@yahoogroups.com, "Skalaras" <skalaras@...> wrote:
> Kalau banyak non Tionghoa yang mati, itu adalah ekses, karena
mereka terjebak dalam pertokoan yang terbakar, sedangkan sasaran utamanya adalah tetap rumah2 dan pertokoan milik Orang Tionghoa. ini harus dibedakan.
> ini adalah manuver politik tingkat tinggi yang mendompleng
sentimen rasial. saat menggerakkan massa untuk membakar dan memperkosa, slogan yang didenguingkan tetap ganyang Cina! warna rasial tetap saja tak bisa dihapus. Namun perlu ditegaskan, walau sasarannya adalah Tionghoa, ini bukanlah kerusuhan rasialis spontan, tapi direkayasa dan dikondisikan ( untuk melibakan masyarakat kelas bawah yang hidupnya tertekan ), maka seluruh anggota masyarakat yang sadar harus melawan, jangan mau dikambing hitamkan.