Gmail Calendar Documents Reader Web more »
Recently Visited Groups | Help | Sign in
Google Groups Home
Message from discussion Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
The group you are posting to is a Usenet group. Messages posted to this group will make your email address visible to anyone on the Internet.
Your reply message has not been sent.
Your post will appear after it is approved by moderators
 
From:
To:
Cc:
Followup To:
Add Cc | Add Followup-to | Edit Subject
Subject:
Validation:
For verification purposes please type the characters you see in the picture below or the numbers you hear by clicking the accessibility icon. Listen and type the numbers you hear
 
drira...@aol.com  
View profile   Translate to Translated (View Original)
 More options May 19 2007, 1:52 pm
From: drira...@aol.com
Date: Sat, 19 May 2007 13:52:15 EDT
Local: Sat, May 19 2007 1:52 pm
Subject: [budaya_tionghua] Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles

Peringatan Targedi Mei  ‘98
Dilaporkan oleh: Dr.Irawan  
Duarte , May 12, 2007 / Indonesia  Media
Sembilan tahun telah berlalu Peristiwa tragedi Mei ‘98 di  Indonesia sampai  
sekarang belum ada kelanjutan tindakan hukum yang dilakukan oleh pemerintah
RI,  bahkan dibeberapa media masa tanah air dilaporkan adanya usaha-usaha
melupakan  atau menutupi kembali kasus Mei ‘98 ini.  
DR.Frits Hong dalam kata sambutannya selaku ketua umum ICAA mengingatkan  
pentingnya peringatan tragedi Mei ‘98, beliau menganalogikan dengan peristiwa  “
The Rape of Nanking”. Pemerintahan yang silih berganti di Indonesia belum  
satupun yang benar-benar berniat menuntaskan kasus kerusuhan Mei’98, kepada  
seluruh masyarakat Indonesia, yang memilih nanti pada putaran pemilu 2009 agar  
mempelajari dengan hati-hati, dan memilih wakil yang benar-benar komit untuk  
menuntaskan masalah ini. Karena penuntasan kasus Mei’98 adalah merupakan tolok  
ukur mengembalikan kepercayaan global terhadap  Indonesia.  Sekali lagi
Peringatan Mei ‘98 tidak pernah boleh dilupakan, pungkas boss Duarte  Inn itu.
Juliana Widjaja Ph.D. seorang dosen dari Center of South East Asia Study,  
UCLA dalam ceramahnya menekankan bahwa :”Sejarah yang dilupakan adalah  
berpotensi menimbulkan pengulangan tragedi kekerasan di masa yang akan datang”  
Juliana menahyangkan foto-foto kekerasan HAM yang belum pernah dipublisir  
oleh media selama 40 tahun via power point,  dengan TKP di Banyuwangi saat itu
ada 9  anak-anak (mulai dari 10 tahun), pemuda, dan pelajar gugur akibat
berondongan  senjata ABRI, belum lagi masih puluhan yang luka-luka. Saat itu mereka
tengah  melakukan aksi damai di pasar sehubungan dengan penutupan toko-toko
pengecer  milik etnis Tionghoa (tingkat Kabupaten) di kiosk-kiosk pasar. Namun
anehnya  sampai hari ini tidak pernah dipublisir di media masa. Inilah yang
dinamakan  penutupan / penghapusan sejarah.
Juliana juga menceritakan betapa pahit getirnya dia dalam mengurus  surat
WNI, dan masuk sekolah  perguruan tinggi. Stigma bahwa Tionghoa itu semua kaya
tidak berlaku untuk  sebagian besar masyarakat etnis Tionghoa, termasuk dia.
Saat itu Juliana harus  cukup puas dengan hanya meneruskan di perguruan tinggi
yang tidak berkelas, dan  harus membayar mahal pula sehubungan dengan status WNI
nya belum selesai dari  proses. Demikian pula dalam hal penggantian nama yang
harus diselaraskan dengan  nama yang berlafalkan Indonesia, tapi pada
akhirnya toh pamong yang menangani  suratnya mengimbuhkan nama marganya (Oei) diakhir
namanya, jadi ini suatu  peraturan yang dibuat-buat dan jelas kontradiktif,
demikian cetusnya. Belum lagi  dia diharuskan mengenakan kebaya Jawa sewaktu di
sumpah WNI-nya, katanya ini  adalah pakaian  Indonesia.  Apakah busana  
Indonesia adalah  busana Jawa? tanyanya.
Sebagai dosen CSEAS-UCLA, Juliana sangat merasakan  kurangnya, atau boleh
dikatakan tidak ada lagi mahasiswanya yang mau datang  belajar ke  Indonesia.
Salah  satu faktornya adalah keamanan di  Indonesia yang  belum terjamin, hal ini
juga menyulitkan institusi yang memberikan grant kepada  mahasiswa yang
tertarik mempelajari negara-negara yang sedang bermasalah.        
Sejarah harus dicatat dengan benar , termasuk personal memory harus  
dibukukan juga, karena dengan mengetahui sejarah anak cucu kita belajar tak akan  
mengulangi lagi kesalahan yang sama dimasa yang akan datang.  
Martinus Oei seorang akuntan yang datang dari  Indonesia  memberi kesaksian
tentang kejadian kerusuhan Mei 98 di Jakarta. Betapa  mencekamnya Jakarta saat
itu,  menurutnya sudah jelas kasat mata para provokator yang berambut cepak
itu  diturunkan ber truk-truk ke TKP. Siapa yang bisa mengeluarkan mobilitas
semacam  ini ? Beliau juga menyesalkan ketidak pedulian masyarakat  Indonesia
yang  sudah berdiam diluar negeri atas ketidak sediaannya mereka dalam menanda
tangani  petisi untuk dikirim ke High Commision of Human Rights di PBB, (Mary
Robinson),  serta UNHCR, saat beliau memohon umat dari salah satu gereja ICC di  
Perth  (Australia) yang  jemaatnya banyak berasal dari  Indonesia.  “Malah
orang bule yang spontan mau menandatangani, sunggih suatu ironi”,  ujarnya.
Petisi itu akhirnya membuahkan hasil, yaitu dengan diutusnya Radhika  Coomaraswamy
datang ke  Indonesia untuk  menyelidiki kejadian tersebut
Perjuangan Esther Jusuf S.H. dari Solidaritas Nusa dan Bangsa patut  didukung
seluruh masyarakat. Baru-baru ini SNB baru meluncurkan buku tentang  
kerusuhan Mei’98 di Jakarta, inipun  sempat ditentang oleh beberapa anggota TGPF
sendiri yang berindikasi menghapus  kejadian tersebut. Sedangkan data dari TGPF
yang asli yang disimpan di kantor  pemerintah sudah hilang. Maka tidak ada jalan
lain Esther Jusuf dkk.  berinisiatif segera meluncurkan buku kerusuhan Mei’98
itu. Rencananya buku-buku  itu akan disebarluaskan dalam berbagai bahasa.
Usaha ini jelas memerlukan biaya  yang tidak sedikit, untuk itu dalam nota pesanan
Esther Jusuf kepada masyarakat  agar bahu membahu dalam pelaksanaan misi ini.
Menurut Martinus, seiring dengan di “munirkannya” tokoh  HAM Munir, maka
Romo Sandyawan sementara ini kabarnya diamankan oleh ordo  Jesuit, hal ini
membahayakan diri Esther Jusuf yang harus berjuang sendiri  dengan SNB nya.  
Jonathan Goeij, selaku moderator dan co speaker membeberkan secuplik  
data-data temuan TGPF yang menunjukan begitu banyaknya titik api yang dicatat  dalam
peta DKI Jaya , belum lagi wilayah lainnya yang tidak sempat di tahyangkan  
karena keterbatasan waktu.
Masalah undang-undang kewarganegaraan dan SBKRI, saat itu yang dipakai  
adalah UU dari tahun 1958, UU ini dibuat dengan mengacu UUD sementara tahun  1950,
padahal UUD sementara 1950 sudah dicabut , jadi sebenarnya UU tahun 1958  
mengenai kewarganegaraan seharusnya tidak berdasar lagi saat UUD sementara 1950  
dicabut.  
Suara dari Komentator:
Mengungkap dan mengadili pelaku kerusuhan Mei ‘98 adalah merupakan  
perjuangan kolektif semua, mengapa tidak? Jika suatu negara belum jelas hukumnya  dan
keamanannya bagaimana mungkin bisa meyakinkan masuknya investasi global,  
bagaimana mungkin mempunyai perputaran ekonomi yang optimal, dan pada gilirannya  
bagaimana mungkin menjamin kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu perjuangan  
ini bukan semata PR sekelompok etnis saja melainkan harus merupakan
perjuangan  kolektif rakyat  Indonesia.  Selama semuanya tidak berjalan transparan
dikhawatirkan ada kemungkinan investor  yang berani masuk ke  Indonesia hanya  
merupakan deal-deal antara investor spekulan dan kelompok koruptor saja, yang  
pada akhirnya membebani hutang kepada anak cucu kita lagi.  
Memang tidak semua orang mampu membantu perjuangan ini entah dengan waktu  
tenaga dan dana, tapi setidaknya dengan menghadiri acara peringatan semacam ini  
menunjukan kepedulian anda terhadap solidaritas perjuangan, demikian ucap
salah  seorang komentator.
Kabarnya buku tentang kerusuhan Mei ’98 itu bakal tersedia disini ,  tunggu
tanggal mainnya.

************************************** See what's free at http://www.aol.com.

[Non-text portions of this message have been removed]


    Forward  
You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.

Create a group - Google Groups - Google Home - Terms of Service - Privacy Policy
©2010 Google