> Betul kata Herny-moay.... kalo kita tidak jor-joran
> mengenai etnik sendiri... maka kita akan hidup lebih
> mudah dimanapun. meminimalisasi perbedaan merupakan
> strategi yang simpel. kalo memang merasa berbeda,
> cukup keep on the mind, not in the behavior.
> saya pribadi masih belum bisa menerima 100%
> akulturasi budaya tionghoa ke budaya lokal (aduh
> saya ga tau ini istilahnya tepat apa ga ya... ato
> lebih tepat asimilasi). saya masih menganggap
> pelestarian budaya saya lebih penting daripada
> (misalnya) keselamatan saya karena diancam mati kalo
> masih kekeuh memegang adat. tapi, saya keep that in
> mind, dan tidak menekan behavior saya ke arah itu.
> saya tetap mau selamat juga kan.... semampu saya...
> that's the part of survival in this world.
> Setiap kali saya mendengar jor-joran imlek di hotel
> mewah, dihadiri presiden, tarian liong dimana mana,
> bahkan ada yang memanipulasi barongsai untuk
> mengamen di restoran2 pinggir jalan, saya lebih suka
> keadaan dimana orang tionghoa masih direpresi.....
> dengan kebebasan ini, rasanya lebih gamang.
> Sangatlah normal secara psikologi dimana kita
> merasakan represi kita akan bersatu, tapi begitu
> ikatan itu longgar.... kita malah tercerai berai.
> Apalagi saya sangat tidak suka dengan membanjirnya
> budaya-budaya "baru" dari RRC yang sekarang ini
> dibawa kembali ke Indonesia dengan label inilah
> budaya Tionghoa, kita 'dipaksa' harus menyamakan
> level kita yang lebih tradisional (dan sudah ada
> elemen percampuran dengan budaya setempat), dengan
> budaya RRC atau Taiwan yang sekarang. Bangunan
> klenteng kita yang unik dan tidak ada lagi di RRC
> dipugar, dibongkar, dan dibikin semirip mungkin
> dengan bentuk kuil2 di Taiwan atau RRC.... idih,
> kayak orang ga punya ktp aje, harus minjem ktp orang
> lain.
> Patung-patung Buddha kuno yang kita miliki di
> klenteng-klenteng, digeser dengan patung-patung made
> in Taiwan.... busyet deh... kita ini makanan empuk
> bagi pebisnis2 RRC ama Taiwan.
> Toh, pada akhirnya, tiap kali kita 'pulang kampung'
> ke Cina sana, kita tetap diberi identitas "orang
> luar". saya rasa sebagian besar orang RRC sekarang
> masih menganggap orang Tionghoa Indonesia sebagai
> mangsa empuk yang sangat konsumtif, banyak duit, dan
> rela mengeluarkan duit berapa saja asal diterima
> sebagai 'saudara dekat' mereka. orang Taiwan malah
> cuma menganggap orang Tionghoa Indonesia entah
> sebagai tempat mencari 'istri' yang rajin dan bisa
> mengemong anak dan tidak matre (alias gampang
> dikibulin), atau calon pembantu rumah tangga, ato
> yang kaya - investor karena anaknya banyak yang
> disekolahkan disana untuk blajar mandarin.
> some of us will do anything to be accepted by their
> standard................. pathetic...
___________________________________________________________________________ _________
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.