From: Kurniawan <kurniawan20062...@yahoo.com>
Date: Tue, 22 May 2007 23:20:15 -0700 (PDT)
Local: Wed, May 23 2007 2:20 am
Subject: Membantu Pribumi Menghindari Pembodohan RE: [budaya_tionghua] Re: Peringatan Tragedi Mei 98 di Los Angeles
--- Herny <heir...@gmail.com> wrote: Hallo Sdri. Herny. Pendapat bahwa etnis Tionghua > Saya juga setuju dengan pendapat anda. Stereotipe > orang tionghoa disini > identik dengan punya uang banyak, sikap masa bodoh, > dan cenderung eksklusif. > Sayangnya, hal ini ada benarnya juga, walaupun tidak > 100%. Apalagi > akhir-akhir ini sejak jaman Gus Dur, orang-orang > tionghoa yang selama ini > ditekan tiba-tiba diberikan kebebasan, yang timbul > malah euforia yang > berlebihan dan sibuk memamerkan identitas > kecinaannya. > Sudah saatnya kita bersikap lebih peduli terhadap cenderung eksklusif, hanya mau bergaul dengan etnis China saja dan tidak mau bergaul dengan orang pribumi sudah menjadi pendapat umum dan ini sering dianggap sebagai penyebab antipati orang pribumi terhadap orang China. Tapi saya sama sekali tidak setuju dengan pendapat ini. Menurut saya, etnis China menjadi eksklusif karena ada sebabnya, yaitu karena orang pribumi terlebih dahulu “memusuhi” etnis China. Jelas sekali bahwa pada zaman sebelumnya etnis China di Indonesia dicemooh, ditolak, dan ditekan di Indonesia karena ke-China-annya. Kalau etnis China “dimusuhi” oleh pribumi seperti ini, bagaimana mungkin etnis China masih bisa bergaul baik dengan orang yang “memusuhi” mereka? Sebaliknya, orang pribumi memusuhi etnis China juga Bisa dilihat, sesudah pemerintah baru memberi Saya selalu yakin, bahwa penyebab paling utama tentang Mengenai bahwa sesudah era keterbukaan terlihat Saya malah melihat hal yang sebaliknya, bahwa sesudah Saat kita > merayakan imlek besar-besaran di hotel mewah, yang Pernyataan semacam ini akan selalu disetujui oleh > sebenarnya tidak perlu, > ada berapa banyak orang Indonesia lain yang masih > hidup miskin; jika saya > menjadi mereka, tidakkah akan muncul rasa iri dan > pikiran bahwa orang Cina > kaya-kaya. kebanyakaan orang sebagai suatu kebaikan yang perlu dijunjung tinggi. Tapi masalah benar atau tidaknya pernyataan ini adalah hal lain. Saya setuju untuk tidak melakukan perayaan yang berlebih-lebihan yang mencolok dan menimbulkan kecemburuan sosial. Tapi saya tidak setuju bahwa merayakan sesuatu dengan besar-besaran atau mewah itu terkesan buruk untuk dilakukan. Kalau kita memang punya sedikit keberuntungan tidak ada salahnya untuk menikmati hidup. Mengenai berapa banyak orang Indonesia lain yang masih miskin, kita harus prihatin dan berusaha membantu, tapi bukan berarti karena hal ini kita harus menindas kebahagiaan kita sendiri. Selain kemisikinan di Indonesia, di dunia ini masih Selain itu ada satu faktor penting yang perlu Contoh lain, dengan kita mengimpor > barang-barang murah dari Cina; Saya rasa hal mengimpor barang murah dari China tidak > makanan, buah, baju, dsb; ada berapa petani dan > pengusaha pribumi yang > bangkrut karena tidak mampu bersaing dan akhirnya > menyalahkan semua orang > Cina termasuk yang di Indonesia. Hal-hal seperti > jika tertimbun selama > bertahun-tahun, dengan sedikit provokasi saja, > tidakkah akan mengulangi > tragedi Mei 98? ada hubungan erat dengan masalah etnis China di Indonesia. Yang perlu diingat adalah bisnis bukanlah kegiatan sosial. Ada kode etik tertentu dalam bisnis yang harus kita pegang, tapi kalau dalam berbisnis kita selalu memikirkan berapa banyak orang yang tidak mampu bersaing dengan kita, jangan heran kalau bisnis kita tidak pernah maju, dan mungkin ini ciri-ciri bahwa kita lebih berbakat menjadi pekerja sosial daripada businessman. Seperti yang saya sebut di atas mengenai “rasa iri”, dalam kasus ini juga selain dari satu pihak memang harus berusaha menerapkan bisnis yang saling menguntungkan, tapi dari pihak lain juga perlu adanya peningkatan pemahaman apakah “menyalahkan orang yang mengalahkan kita dalam berbisnis” adalah rasionil? > Teman-teman, sebelumnya saya mohon maaf, tolong Saya pikir tidak perlu meminta maaf karena kita semua > jangan salah paham terhadap > apa yang barusan saya katakan. Saya sendiri adalah > etnis Tionghoa dan saya > sangat menghargai budaya tionghoa, saya mengagumi > bangunan Kota Terlarang yg > bisa benar-benar simetris, tembok cina yang begitu > panjang, saya suka minum > teh cina, saya suka nonton F4 dan dengar lagu cina, > dan saya juga mengalami > diskriminasi tapi hal itu tidak merubah kenyataan > bahwa saya adalah orang > Indonesia, yang lahir dan tinggal di Indonesia, dan > karenanya juga harus > peduli dengan kondisi bangsa ini di sini sama dan sedang berdiskusi. Semua ungkapan Anda ini benar-benar perlu dihargai. Dari saya sendiri, seperti sudah disebutkan di atas, saya merasa bahwa kelihatannya banyak orang yang khawatir kalau-kalau menjadi “China” di Indonesia adalah sesuatu yang salah, seolah-olah menjadi China berarti kurang nasionalis terhadap Indonesia, dan akan mejadi orang yang lebih "berbudi luhur" jika berusaha untuk menjadi tidak terlalu China. Saya selalu berpikir sebaliknya, di samping saya harus Hal ini bukan berarti bahwa saya menganggap etnis Menyelesaikan masalah etnis China dengan hanya Tetapi kalau kita meminta orang pribumi juga Kurniawan ___________________________________________________________________________ _________ You must Sign in before you can post messages.
To post a message you must first join this group.
Please update your nickname on the subscription settings page before posting.
You do not have the permission required to post.
| ||||||||||||||